Foto: dok. pribadi Djembar Djungjunan
Reporter: Melisa Mailoa
Selasa, 26 Januari 2016D
jembar Djungjunan berdiri di atas sepeda motornya yang sedang melaju kencang. Tangannya terentang lebar. Ia lalu berzigzag sambil mengangkat roda depan motornya.
Aksi perempuan 23 tahun itu sungguh berbahaya. Namun Djembar sudah biasa melakukannya. Ia adalah seorang freestyle rider atau stunt rider, yang memang pekerjaannya pamer aksi akrobatik dengan motor. Melihat atraksi itu sukses, semua penonton berdecak kagum.
“Takut sih enggak, ya. Pertama kali (beraksi) saya nervous. Gugupnya bukan dari saya, tetapi lebih karena demam panggung. Saya sih memandang freestyle lebih ke seni yang ekstrem, keindahan kita membawa motor,” kata Djembar.
Djembar mengakui profesi rider tidak pernah dia impikan sebelumnya. Sejak duduk di sekolah dasar, Djembar piawai mengendarai sepeda motor. Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, Djembar menerima hadiah dari orang tuanya berupa motor sport Kawasaki Ninja RR150.
Djembar Djungjunan beraksi di atas motor.
Foto: dok. pribadi
Mengetahui hobi Djembar adalah kendaraan roda dua, orang tuanya mendaftarkan Djembar ke komunitas Kawasaki Ninja Club.
Sekarang saya lemes melihat Djembar, enggak berani lihat. Saya selalu dampingin saat dia show, tetapi enggak berani lihat, ngilu."
“Teman Nyokab (Ibu) nyaranin saya masuk komunitas, biar terarah, biar enggak main sembarangan. Saya dari kecil enggak pernah macam-macam, makanya orang tua juga percaya,” katanya.
Meski anggota komunitas itu didominasi laki-laki, Djembar mengaku tidak pernah merasa canggung. Mereka justru kagum terhadap sosok Djembar karena berani mempelajari aksi freestyle. Anggota komunitasnya semula juga kerap membantu Djembar menguasai teknik, seperti wheelie, stoppie, dan burnout
Demi menguasai trik ekstrem ini, Djembar kerap mengalami kecelakaan saat latihan. Seperti saat mempelajari trik mengangkat ban sepeda motor depan alias wheelie, Djembar kehilangan kendali atas kendaraannya dan menghantam kaki kanannya.
Djembar terpaksa vakum satu bulan untuk memulihkan cedera di kakinya. Saking ngerinya, baik orang tua maupun suami Djembar tidak sanggup melihatnya berakrobat di atas sepeda motor.
Anggota Women On Wheels (WOW) berkumpul dalam sebuah acara.
Dok. WOW
“Sekarang saya lemes melihat Djembar, enggak berani lihat. Saya selalu dampingin saat dia show, tetapi enggak berani lihat, ngilu,” ujar Chandra Permana, suami Djembar Djungjunan.
Perempuan biasanya paling malas soal urusan utak-atik mesin. Tapi tidak dengan Sitti Zakiyah alias Ame. Pencinta sepeda motor ini tidak hanya piawai mengendarai motor, tapi juga gemar memodifikasi motor. Motor jenis Honda Astrea Star keluaran 1996 menjadi “pasien” pertama yang dimodifikasi Ame.
“Saya custom dan rakit dari awal sama teman. Jadi enggak cuma taruh motor di bengkel dan terima jadi. Saya ikut potong bodi belakangnya, saya ganti setang dan lampu. Joknya cuma ikut tangki, jadi buat single seat,” cerita Ame.
Pemilik motor bebek lawas ini menyulap motornya dengan sentuhan modifikasi ala choppy cub. Salah satu jenis modifikasi retro yang mengandalkan simplisitas. Ame sengaja memilih warna hitam untuk mengeluarkan sisi tomboi. Inspirasinya datang saat Ame menonton film The Tarix Jabrik, yang diperankan oleh anggota band The Changcuters. Motor modifikasi yang ditampilkan dalam film itu bikin Ame kepincut.
“Film itu keluar pas saya SMP dan semenjak itu saya langsung suka sama motor klasik. Karena, yang pertama, kesannya tomboi, terus yang klasik itu nyentrik, sih. Kesannya motor tua. Jadi saya punya banyak teman,” katanya.
Kecintaan terhadap motor klasik sempat membuat teman-temannya di kampus heran. Sebab, lazimnya, perempuan menghabiskan uang untuk membeli peralatan kecantikan. Namun Ame justru lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli peralatan motor. Suatu hari, motor yang diberi nama “Ecek” itu ditawar oleh seorang kolektor motor klasik. Tanpa pikir panjang, Ame menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
“Pernah ditawar Rp 8,5 juta. Saya tolak karena, kalau sudah punya motor, saya susah melepasnya. Istilahnya, sudah menyatu dengan diri kita, ngalahin pacar deh pokoknya,” katanya sambil bergurau.
Meilana Laissegar sukses berkeliling di tujuh negara Eropa gara-gara motor besar. Awalnya Sekretaris Jenderal Women On Wheels Indonesia ini hanya membonceng sang suami naik motor gede (moge). Tertantang, akhirnya ia belajar mengendarainya sendiri pada 2012
“Ternyata lebih asyik bawa motor sendiri dibanding dulu waktu diboncengkan suami. Rasanya lebih percaya diri dan bisa menguji adrenalin,” ujar ibu empat anak ini.
Dengan kapasitas mesin besar, moge jelas berbeda dengan sepeda motor pada umumnya saat dikendarai. Moge kerap bikin Lana kesulitan saat memarkirnya karena beratnya sekitar 200 kilogram. Namun mengendarai motor besar bagi Lana merupakan kebanggaan tersendiri.
Bersama Women On Wheels Indonesia, Lana kerap melakukan perjalanan jauh atau touring ke daerah, seperti Palembang di Sumatera Selatan, Wonosobo dan Solo di Jawa Tengah, Bali, serta Lombok. Bulan April 2015, Lana bahkan membawa motornya hingga ke daratan Eropa. Satu-satunya perwakilan dari Women On Wheels Indonesia ini singgah di tujuh negara dalam waktu delapan hari.
“Mengendarai motor ke luar kota atau ke luar negeri sensasinya luar biasa. Bisa refreshing sekaligus melepas stres. Dengan teman-teman juga semakin akrab. Kita sering bertukar pikiran untuk kemajuan komunitas,” katanya.
Selain melakukan touring, Women On Wheels Indonesia kerap menyelenggarakan bakti sosial. Selain itu, mereka mengadakan pelatihan safety riding bekerja sama dengan Polisi Wanita (Polwan). “Lady biker bukan cuma hura-hura, sebenarnya banyak kegiatan positif yang kami lakukan,” ujar Inge Widjaja, Ketua Woman On Wheels Indonesia.
Salah satu anggota WOW berpose di samping moge.
Foto : dok. WOW
Women On Wheels awalnya didirikan di California, Amerika Serikat, oleh seorang pengendara motor perempuan pada 1982. Tujuannya menyatukan semua penggemar sepeda motor perempuan, baik sebagai pengendara kendaraan roda dua ataupun sekadar sebagai pembonceng. Rupanya keberadaan komunitas ini disambut antusias hingga menyebar ke beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Komunitas yang memiliki salam khusus dengan memperlihatkan tiga jari membentuk huruf W ini terbentuk di Indonesia pada 6 Juli 2012.
Saat ini sudah terkumpul 68 anggota yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Profesinya pun beragam, mulai ibu rumah tangga, pegawai swasta, mahasiswi, dokter, sampai pramugari. Kuda besi yang mereka tunggangi pun bukan hanya motor sport 250 cc. Ada pula motor besar semacam ER-6N, Ducati Monster, Harley-Davidson, BMW, hingga Honda Gold Wing.
METROPOP
"Aku merasa jadi bayi lagi yang gede banget dan membebani orang tua."
Foto: dok. pribadi Sri Lestari
Reporter: Melisa Mailoa
Sri Lestari mengira hidupnya berakhir. Kakinya lumpuh gara-gara kecelakaan. Tidak bisa berjalan, ia tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup. Namun ternyata hidup tidak semengerikan seperti yang Sri pikirkan.
Kecelakaan menimpa Sri pada 1997. Kala itu Sri mengantarkan seorang teman dari Klaten, Jawa Tengah, menuju Prambanan, Yogyakarta. Di pertigaan Nangsri, Manisrenggo, Klaten, sepeda motor yang dikendarai temannya itu bertabrakan dengan truk dari arah berlawanan. Saking kerasnya benturan, Sri, yang diboncengkan, terpelanting hingga terjatuh ke selokan di pinggir jalan.
Tiga ruas tulang belakang Sri hancur. Untuk mencegah terjadinya kelumpuhan, dokter memutuskan melakukan operasi pemasangan platina.
Pada usia 23 tahun, Sri juga harus menerima kenyataan bahwa dia mengalami kelumpuhan akibat paraplegia. Penyebabnya cedera sumsum tulang belakang, yang di antaranya dipicu oleh jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.
Setelah itu, dokter menyarankan Sri menjalani rehabilitasi. Namun ia memilih pulang dan menjalani pengobatan alternatif. Selama empat tahun, anak sulung dari empat bersaudara ini berjuang menaklukkan penyakitnya. Dari dukun sampai paranormal ia datangi. Sri bahkan pernah melakukan pengobatan di tengah hutan selama delapan bulan. Namun semua seperti sia-sia.
Aku sama sekali enggak takut karena sudah cukup lama menunggu momen ini."
Karena tidak kunjung sembuh, Sri pun frustrasi. Ia tidak sampai hati melihat kedua orang tuanya, Muji Raharjo dan Suminem, pontang-panting mencari uang untuk biaya pengobatan. Belum lagi kondisinya yang tidak bisa mandiri akibat lumpuh.
“Saya tidak bisa apa-apa, semua dilakukan di tempat tidur. Mulai buang air besar, buang air kecil, sampai menstruasi, Ibu yang merawat, padahal Ibu juga harus kerja di sawah. Aku merasa jadi bayi lagi yang gede banget dan membebani orang tua,” cerita Sri.
Sejak saat itu, meski tidak berdaya, Sri mulai mengisi waktu dengan membuat kerajinan tangan. Sri juga berusaha mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kamar mandi, wastafel, hingga tempat cuci dipersiapkan khusus oleh orang tuanya untuk difabel. Oleh Kepala Sekolah Yayasan Asuhan Anak-anak Tuna Klaten, Sri juga sempat diberi tugas untuk melakukan entry data huruf Braille.
Pada 2007, Sri menerima bantuan kursi roda dari lembaga United Cerebral Palsy (UCP) dalam program Roda untuk Kemanusiaan. UCP merupakan lembaga internasional yang memiliki misi memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di negara-negara berkembang. Sejak akhir 2009, Sri diterima sebagai pekerja sosial di UCP program Roda untuk Kemanusiaan. Dari sini, Sri mulai kembali menyusun mimpi-mimpinya.
“Saat aku ambil kursi roda ini, banyak mimpi yang ingin aku wujudkan. Aku ingin berterima kasih sekaligus mengajukan permintaan kursi roda untuk teman-teman yang belum mempunyai kursi roda. Aku juga ingin mengunjungi kampung paraplegia. Aku juga mendaftar sebagai relawan tunanetra di Jogja,” ujar Sri.
Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, Sri dibantu dengan sebuah sepeda motor modifikasi beroda tiga. Ide menggunakan motor modifikasi datang dari rekannya sesama penyandang disabilitas.
Untuk mengendarai sepeda motor, Sri harus naik ke atas sepeda motor dengan kursi roda. Meski lumpuh akibat kecelakaan sepeda motor, Sri tidak gentar mengendarainya.
Shinta Utama beristirahat selepas menempuh perjalanan jauh bersama warga setempat.
Foto: dok. pribadi
“Aku sama sekali enggak takut karena sudah cukup lama menunggu momen ini. Sudah lama aku membebani orang tua. Pertama kali naik motor dikawal sama ponakan dan cukup jauh, dari Klaten sampai Solo, untuk mengunjungi kampung paraplegia. Itu mimpi panjang yang terjawab. Satu-satunya kendaraan yang membuat aku mandiri,” ucap wanita yang lahir pada 10 Desember 1973 itu.
Di atas sepeda motornya itu, Sri menyambangi satu per satu rumah para difabel untuk mendata penderita cerebral palsy (kelumpuhan otak besar). Sri juga berencana menjelajahi Pulau Jawa dengan sepeda motor modifikasinya guna memberikan semangat kepada para difabel. Sri ingin menunjukkan kepada difabel bahwa dirinya bisa mandiri dan bebas menjelajah dengan sepeda motornya.
Mimpi itu akhirnya dapat diwujudkan setelah melakukan perjalanan Jakarta-Bali pada 9-28 Mei 2013. Seorang pria asal Kanada, Peter Wall, ikut membantu mewujudkan perjalanan Sri yang kedua. Pada September 2014, Sri kembali mengendarai sepeda motornya dari Aceh sampai Jakarta.
Dalam perjalanan, Sri ditemani oleh staf UCP, tim dokumenter, dan adiknya. Dan baru-baru ini Sri menuntaskan perjalanan dari Manado ke Makassar. Banyak pengalaman tidak terlupakan setiap mendatangi wilayah baru, terutama ketika menemui sesama difabel.
“Yang terakhir aku temui di Sulawesi kemarin sudah 21 tahun lumpuh seperti aku, terbaring saja. Jadi hanya pasrah. Beliau lulusan pendeta, jadi jiwanya lebih menerima, cuma tidak tahu kalau bisa melakukan hal lebih,” ucapnya.
Disabilitas tidak lantas menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti berkarya. Hal ini diyakini Shinta Utami. Meski menyandang post-polio syndrome, yang menyebabkannya kesulitan berjalan, ternyata perempuan berusia 31 tahun ini berhasil menjelajahi 266 kota di 34 provinsi di Indonesia. Belum lagi wilayah yang berbatasan dengan Malaysia, seperti Sabah, Brunei, dan Sarawak.
Shinta menjelajah menggunakan motor skuter matik modifikasi. Modifikasi sepeda motornya tidak terlepas dari bantuan sang ayah. Shinta pun berhasil mendapatkan rekor MURI dengan predikat “Perjalanan terjauh yang ditempuh oleh penyandang disabilitas dengan motor modifikasi”.
“Saya hobi travelling dari SMA, tetapi dulu masih backpacker-an dan enggak sendiri. Waktu Papa memodifikasi motor, saya coba belajar dan latihan jalan ke Jawa. Karena sebelumnya enggak pernah naik motor. Dari sana saya malah ketagihan. Saya kan susah jalannya, kalau pakai motor bisa eksplor lebih jauh,” ujarnya.
Shinta menuturkan banyak pengalaman yang ia dapatkan selama melakukan traveling. Banyak pelajaran yang tidak didapatkan selama duduk di bangku sekolah. Bertemu dengan lingkungan baru membuatnya amat terkesan. Perjalanan yang dilakukan seorang diri ini menjadi tantangan bagi Shinta. Tidak jarang dirinya mendapatkan bantuan dari warga sekitar.

Saat berada di Kalimantan, misalnya, sepeda motor Shinta patah dan hampir masuk jurang. Untungnya, ada rumah yang dijadikan tempat nongkrong sopir truk tidak jauh dari lokasi. “Mereka menaikkan motor saya ke atas truk untuk melewati hutan sampai bertemu dengan bengkel pertama,” ujarnya mengenang.
Perjalanan yang ditempuh mulai 4 Oktober 2014 itu memang terlihat mustahil, apalagi dilakukan oleh Shinta sendiri. Karena itu, banyak orang yang kagum atas keberanian Shinta mewujudkan mimpinya. Ia berhasil menyelesaikan perjalanan selama satu tahun empat hari dengan misi untuk menginspirasi orang-orang agar bermimpi tinggi.
“Saya enggak menduga karena ternyata hidup itu tidak butuh banyak. Kalau kita bersyukur, kita tidak butuh banyak. Dengan perjalanan ini, saya sangat bersyukur karena enggak semua orang bisa seperti saya. Beruntung bisa jalan dan melihat realitas sesungguhnya,” ujarnya.
Shinta masih ingin menuntaskan mimpi yang lebih besar, yaitu menjelajahi dunia dengan sepeda motor modifikasinya. “Kalau ada sponsor, saya ingin riding lebih jauh. Saya mau keliling ASEAN dulu,” kata Shinta.
Editor: Iin Yumiyanti
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.