CRIMESTORY

Misteri Dua Belas Tembakan
di Rumah Jenderal

Dua polisi yang ditugaskan untuk keluarga Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo terlibat baku tembak. Sepekan berlalu, kasus itu masih diliputi tanda tanya.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Jumat, 15 Juli 2022

Beberapa personel satpam tengah berjaga di pos keamanan di lingkungan RT 005 RW 01, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Jumat, 8 Juli 2022, itu. Ada yang tetap bersiaga di pos keamanan, namun yang lainnya berpatroli melihat keadaan lingkungan, termasuk ke Kompleks Kepolisian Republik Indonesia, yang masih menjadi bagian wilayah itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tiba-tiba terdengar suara letupan beberapa kali. Satpam mengira suara itu berasal dari petasan yang dinyalakan anak-anak di permukiman sebelah. Maklum, hari itu adalah sehari sebelum Idul Adha bagi sebagian umat Islam.

Matahari kian tenggelam di balik cakrawala. Para satpam mulai merasakan keanehan. Sejumlah orang datang dan bergerak ke rumah dinas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri. Jaraknya tak begitu jauh dari pos keamanan.

Mereka mencoba mendekati rumah itu yang sudah ramai dengan orang-orang yang berdatangan. Tapi, belum sempat bertanya-tanya apa yang terjadi, orang-orang yang ada di rumah itu meminta mereka kembali ke pos jaga. Mereka mengatakan ada acara dan tak terjadi apa-apa.

Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat
Foto: Istimewa

Suara letupan yang mirip petasan sore itu juga didengar oleh Ketua RT 005 RW 01 Seno Sukarto, 84 tahun. Ia menelepon satpam untuk menanyakan apa yang terjadi. “Itu suaranya itu seperti petasan. Sedangkan pada saat itu kan menjelang Idul Adha, dan di sini biasanya menjelang tahun baru, Idul Adha, dan lain sebagainya, itu biasanya membunyikan kembang api,” kata Seno, yang juga pensiunan jenderal polisi, Rabu, 13 Juli 2022.

Kemudian Ibu Kadiv teriak minta tolong dan di situlah Saudara J (Yosua) panik, apalagi mendengar ada suara langkah orang berlari yang mendekat ke arah suara permintaan tolong tersebut.”

Satpam dan Seno baru tahu ternyata letupan berkali-kali itu berasal dari tembakan pistol di rumah dinas Ferdy Sambo tiga hari kemudian. Dan, yang sangat mengejutkan, terjadi adu tembak yang mengerikan oleh dua polisi di rumah Ferdy. “Terus terang saja ya, justru saya melihat dari YouTube. Itu saya baru tahu,” terang Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran periode 1991-1993 itu.

Baku tembak itu melibatkan Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat, sopir Putri Chandrawati (istri Ferdy Sambo) dengan Bharada RE (pengawal pribadi Ferdy). Yosua tewas terkena lima butir peluru pistol merek Glock-17 (buatan Austria) yang dipegang RE. Sebaliknya, tubuh RE tak sedikit pun terkena peluru yang dimuntahkan pistol milik Yosua, merek HS-16, buatan Kroasia.

Saat kejadian, menurut keterangan polisi, Ferdy tak berada di rumah karena tengah menjalani tes PCR COVID-19. Saat itu di rumah ada istrinya, Putri Chandrawati, asisten rumah tangga, Yosua, dan RE. RE tengah berjaga di lantai dua.

Yosua disebut nyelonong masuk ke kamar Ferdy, yang saat itu istrinya tengah tertidur. Melihat Yosua masuk ke kamarnya, Putri terkejut dan sempat menegurnya. Tapi Yosua justru menggertak dengan kalimat ‘diam kamu!’ sambil mencabut pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke Putri.

“Kemudian Ibu Kadiv teriak minta tolong dan di situlah Saudara J (Yosua) panik, apalagi mendengar ada suara langkah orang berlari yang mendekat ke arah suara permintaan tolong tersebut,” kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, Selasa, 12 Juli 2022.

Sebelumnya, Mabes Polri telah menjelaskan Putri berteriak ketika berada di bawah ancaman Yosua. Teriakan itu didengar RE. RE pun langsung menuju sumber teriakan melalui tangga. Saat tiba di tangga itulah, RE melihat Yosua dan menanyakan apa yang terjadi.

Namun, bukannya jawaban yang didapatkan, E justru ditodong dan ditembak Yosua dari jarak 10-12 meter. Tembakan pertama meleset. EE kemudian mencabut pistol dan melakukan tembakan balasan dengan maksud membela. Terjadilah adu tembak di antara keduanya.

Suasana tempat kejadian perkara adu tembak dua polisi yang mengawal keluarga Kadib Propam Irjen Ferdy Sambo
Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA Foto

“Akibat tembakan tersebut, terjadilah saling tembak dan berakibat Brigadir J (Yosua) meninggal dunia,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, Senin, 11 Juli 2022.

Yosua melesakkan tujuh peluru ke arah RE, sedangkan RE menarik pelatuk pistolnya lima kali. Putri yang histeris cepat-cepat menelepon suaminya. Tak berapa lama, Ferdy tiba dan melihat Yosua tergeletak bersimbah darah. Ia menelepon Kapolres Jaksel untuk melaporkan kejadian tersebut.

Hingga saat ini, kasus itu masih menyisakan banyak tanda tanya. Terutama motif sebenarnya sampai Yosua memasuki kamar atasannya dan terjadi baku tembak. Kepemilikan pistol Glock-17 yang digunakan RE juga memantik misteri. Sebab, polisi atau tentara berpangkat tamtama tak dibekali pistol.

Kasus ini pun memunculkan kabar miring tentang hubungan khusus antara istri Ferdy dengan Yosua. Ditemukan pula fakta bahwa CCTV di rumah dinas Ferdy mati dua pekan sebelumnya. Juga penggantian alat CCTV di pos keamanan (satpam) di lingkungan Kompleks Polri Duren Sawit.

Kakak Yosua di Jambi, Yuni Hutabarat, mengungkapkan berbagai kejanggalan atas kematian adiknya dalam peristiwa tragis itu. Ia tidak percaya adiknya melakukan pelecehan seperti yang dituduhkan. Yosua selalu memberi tahunya bahwa keluarga Ferdy bersikap baik kepadanya.

Telepon seluler adiknya sampai sekarang entah di mana keberadaannya. Ia menyangsikan versi polisi yang tidak menemukan alat komunikasi milik Yosua tersebut. “Kami perlu bukti, sehingga bisa mengecek HP dan percakapan dengan istri Kadiv Propam,” kata Yuni.

Kejanggalan lainnya, ditemukan banyak luka lebam seperti bekas dianiaya pada tubuh Yosua selain luka tembakan. Bekas penganiayaan itu terlihat jelas pada  wajah Yosua. Rahangnya bergeser. Kemudian di jari terdapat luka sayatan.

Yuni juga mengatakan perlakuan yang diterima adiknya lebih mirip pembunuhan yang brutal. “Kalau memang adik saya melakukan hal tersebut, mengapa ditembak sebanyak itu. Itu nggak masuk logika, melakukan tembakan pertama nggak kena sasaran. Itu seperti pembunuhan secara brutal,” ucapnya.

Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo dan Brigadir Yoshua semasa hidup
Foto: Istimewa

Kapolres Metro Jaksel Kombes Budi menjelaskan perihal jari Yosua yang terluka merupakan luka bekas tembakan. Itu merupakan bukti dari hasil autopsi. Mengenai CCTV yang mati, ia mengatakan memang demikian adanya. Namun polisi akan mencari bukti CCTV pendukung di sekitar rumah.

Sedangkan tentang pelecehan, hal itu berdasarkan laporan dugaan tindak pidana pelecehan yang dilayangkan oleh Ferdy. “Yang jelas, kami menerima laporan polisi Ibu Kadiv Propam sesuai pasal persangkaan 335 dan 289. Tentunya ini akan kami buktikan, akan kami proses. Karena setiap warga negara punya hak yang sama di muka hukum, sehingga equality.

Menko Polhukam Mahfud Md menyebut duduk perkara kasus tersebut belum jelas. Ia pun mendukung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang membentuk tim khusus dan menggandeng Komnas HAM serta Kompolnas untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Kasus ini memang tak bisa dibiarkan mengalir begitu saja karena banyak kejanggalan yang muncul dari proses penanganan maupun penjelasan Polri sendiri yang tidak jelas hubungan antara sebab dan akibat setiap rantai peristiwanya," kata Mahfud kepada detikcom, Rabu, 13 Juli 2022.

Bahkan sampai Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara soal baku tembak tersebut. “Ya proses hukum harus dilakukan,” kata Jokowi Selasa, 13 Juli 2022.


Reporter/Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE