CRIME STORY

Black Dahlia, Saat Ratusan Orang Mengaku Membunuhnya

Elizabeth Short, seorang calon aktris Hollywood, ditemukan tewas dimutilasi pada 1947. Kasus itu dikenal dengan nama Black Dahlia. Ratusan orang melapor, mengaku sebagai pembunuhnya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 3 Desember 2021

Pagi hari pada 15 Januari 1947, Betty Bersinger ke luar rumahnya sambil mendorong stroller (kereta bayi) yang berisi Anne, anaknya berumur 3 tahun. Pagi itu Betty hendak pergi ke toko reparasi sepatu di South Norton Avenue, Los Angeles, California. Ia menyusuri sepanjang trotoar jalanan di lingkungan Liemet Park, yang kala itu masih sepi dan belum berkembang seperti saat ini.

Pukul 10.00 waktu setempat, mata Betty tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di lahan kosong Blok 3800, di antara Jalan Coliseum dan Jalan West 39th. Semakin dekat, Betty melihat benda itu seperti manekin. Tapi begitu jaraknya semakin dekat, Betty terkejut, benda itu ternyata mayat manusia.

Betty merinding begitu melihat mayat sesosok perempuan itu terbelah dua di bagian pinggang dengan wajah yang rusak. Seketika Betty langsung menggendong Anne, dan menarik stroller menuju rumah penduduk terdekat.

Calon artis Hollywood, Elizabeth Short korban mutilasi 1947 di AS.
Foto: Hulton Archive/Getty Images

Tubuh Elizabeth Short ditutupi selimut.
Foto: ocregister


Itu sangat mengerikan. Saya tidak bisa membayangkan seseorang melakukan itu pada manusia lain.”

Betty menceritakan kepada pemilik rumah yang didatanginya. Setelah tahu, sang pemilik rumah mengizinkan Betty menelepon polisi setempat. Dalam hitungan menit, sejumlah polisi dari Los Angeles Police Department (LAPD) dan agen Federal Bureau of Investigation datang. Seketika lokasi itu semakin ramai, apalagi sejumlah wartawan koran lokal dan media di AS juga mendatangi lokasi penemuan mayat termutilasi tersebut.

Dari artikel yang ditulis Kristin Hunt di laman mentalfloss.com, 30 Januari 2019, yang dikutip detikX, polisi melihat mayat perempuan dipotong setengah di pinggang dan ususnya telah dibuang. Mulut korban juga robek disayat mulai dari kuping kanan hingga kuping kiri. Robekan itu seakan seperti senyuman yang dikenal Glasgow Smile atau senyuman The Joker. Terlepas dari kondisi mutilasi yang parah, ada kejanggalan di tempat itu.

Polisi tak menemukan darah di tubuh korban dan sekitar tempat ditemukannya mayat. Bersih, tak ada setetes pun darah yang tercecer. Polisi menyimpulkan, setelah dibunuh dan dimutilasi, jenazah korban dicuci bersih sebelum dibuang. Dari hasil autopsi, korban sempat mengalami tindak kekerasan sebelum tewas.

Ditemukan bekas luka ikatan tali di pergelangan kaki dan tangan. Pembunuhan mutilasi diduga dilakukan 10 jam sebelum mayat korban ditemukan. Korban juga bukan korban pemerkosaan, karena tak ditemukan jejak sperma di organ intimnya. Korban dipotong sangat rapi sesuai anatomi manusia. Polisi pun mencurigai pelaku memiliki latar belakang medis atau kedokteran.

Untuk mengetahui identitas korban, polisi LAPD mengambil sidik jarinya. Sidik jari itu langsung dikirim ke markas FBI. Sekitar satu jam kemudian, FBI langsung menemukan identitas korban. Para agen FBI mudah mencari data identitas korban karena data pribadinya sempat masuk sistem administrasi militer dan polisi.

Lokasi ditemukannya tubuh Elizabeth Short.
Foto: National Geograpihc

Elizabeth Short saat ditangkap polisi Santa Barbara, Los Angeles, pada 1943.
Foto: FBI.gov

Menurut file dokumen yang diunggah lama fbi.gov, korban adalah seorang wanita berusia 22 tahun bernama Elizabeth Short. Ia kelahiran Boston, Massachusets, AS, 29 Juli 1924. Ia sempat melamar pekerjaan di pangkalan Angkatan Darat AS dan sempat ditangkap polisi Santa Barbara, California, 23 September 1943, karena minum minuman beralkohol di bawah umur. 

Sedangkan The Biography menyebutkan Elizabeth adalah anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Cleo Short dan Pheobe Mae Sawyer. Cleo meninggal dunia ketika Elizabeth berumur 5 tahun. Ibunya memutuskan pindah ke Los Angeles membawa semua anaknya. Sejak kecil, Elizabeth dikenal sudah tertarik pada dunia sinema. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang aktris terkenal.

Elizabeth bekerja sebagai pelayan di sebuah bar atau kafe. Di sanalah wanita berparas cantik itu berkenalan dengan sejumlah orang, termasuk kru dan aktris Hollywood yang datang. Sikapnya yang riang, ramah, dan sopan membuatnya pandai bergaul dengan siapa pun. Sebenarnya impiannya menjadi seorang aktris bisa terwujud. Tapi itu kandas, nasib buruk menimpanya.

“Itu sangat mengerikan. Saya tidak bisa membayangkan seseorang melakukan itu pada manusia lain,” ungkap seorang detektif di LAPD bernama Brian Carr, yang kala itu menjadi salah satu penyelidik kasus pembunuhan tersebut.

Carr mengatakan, selama satu bulan, setiap hari semua koran di AS menjadikan berita utama pembunuhan atas Elizabeth. Ia tak tahu kenapa semua media massa menamai Elizabeth dengan julukan ‘Black Dahlia’. Beberapa orang mengatakan julukan ‘Black Dahlia’ diberikan teman-temannya sendiri. Sebab, Elizabeth sangat menyukai film garapan Raymond Chandler berjudul ‘The Blue Dahlia’.

Lalu, kenapa dari kata ‘biru’ menjadi ‘hitam’? Menurut informasi yang dihimpun agen LAPD dan FBI, hal itu karena Elizabeth sering berpakaian hitam. Namun ada juga informasi yang menyebutkan karena rambut Elizabeth memang berwarna hitam gelap.  Sejak itulah kasus ini dinamai ‘Black Dahlia’.

Berupa dokumen penyelidikan, kliping koran
Foto: FBI.gov

Menurut laporan Los Angeles Times, tercatat ada sekitar 200 orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhannya. Mereka mulai ibu rumah tangga, pendeta, tentara, hingga para penipu. Bahkan saat itu polisi banyak menerima surat kaleng. Di antaranya merupakan potongan huruf dari koran yang dirangkai lagi menjadi kata-kata. Isinya ada yang mengaku sebagai pembunuh Elizabeth.

Dari berkas kasus Black Dahlia, banyak pria yang sudah ditahan untuk menjalani tes poligraf (tes kebohongan). Tapi tak pernah satu orang pun yang didakwa atas pembunuhan Elizabeth. Setidaknya polisi menjadikan enam orang yang diduga sebagai tersangka utama. Salah satunya George Hodel, seorang dokter pengelola klinik penyakit kelamin di Los Angeles.

Tapi polisi kembali melepaskannya karena tak cukup bukti untuk mendakwanya. Akhirnya kasus itu dihentikan hingga bertahun-tahun. Hingga kemudian kasus ini ramai kembali berkat pengakuan Steve Hodel, yang tak lain putra George Hodel, dalam bukunya ‘Black Dahlia: The True Story terbitan 2003. Ia meyakini ayahnya sebagai pelaku karena tulisan tangan ayahnya mirip dengan beberapa surat kaleng yang dikirimkan ke polisi saat itu.

Pengakuan lebih mengejutkan datang dari Piu Marie Eatwell, penulis buku ‘Black Dahlia, Red Ros’ pada 2017. Eatwell menyatakan pelaku pembunuhan Elizabeth Short adalah Leslie Duane Dillon, seorang bellboy yang pernah ditahan polisi saat itu, tapi dibebaskan. Ia menuduh LAPD sengaja membiarkan pembunuh Elizabeth lolos. Alasannya, Sersan Finis Brown, salah satu dari dua penyidik utama kasus itu, adalah seorang polisi korup.

Finis diduga memiliki hubungan erat dengan Mark Hansen, seorang pemilik klub malam dan bioskop lokal yang diduga terkait pembunuhan tersebut. Dugaan Eatwell juga berdasarkan informasi dari Buz Williams, pensiunan kepolisian Long Beach, Los Angeles. Buz mengatakan ayahnya, Richard F Williams, pernah bergabung dalam tim penyelidik kasus tersebut.

Buz menyebutkan para penyelidik kasus tersebut adalah tim LAPD Gangster Squad. Sebagian anggota tim ini punya hubungan dengan tersangka Leslie Dillon. Buz sendiri pernah mendengar obrolan sang ayah dengan temannya dari tim khusus antigeng itu, Con Keller. Ayahnya yakin Leslie Dillon adalah orang  yang merencanakan pembunuhan bersama Mark Hansen dan satu orang misterius bernama Jeff Connors.

Elizabeth Short 'Black Dahlia' dimakamkan di  Oakland, California.
Foto: Ocregister

“Ayah saya mengira Leslie Dillon adalah pembunuhnya, dan bahwa polisi lainnya curiga bahwa Dillon paling tidak merupakan kaki tangannya (pelaku),” ungkap Buz William dalam wawancaranya dengan majalah Rolling Stone edisi 8 Oktober 2018.

Ditambahkan Eatwell, akan sangat sulit memeriksa dokumen kasus itu karena kepolisian Los Angeles tak akan pernah membuka file lamanya. Eatwell yakin Elizabeth dibunuh di Astra Motel, tempat Leslie Dillon tinggal. Hal ini berdasarkan laporan pasangan Henry dan Clora Hoffman, pemilik motel itu, yang menemukan salah satu kabin mereka berlumuran darah dan kotoran pada 15 Januari 1947.

Ditambahkan keterangan seorang saksi yang melihat seorang wanita berambut gelap mirip dengan Elizabeth bersama seorang pria mirip dengan Mark Hansen. “Kasus ini tertutup karena Mark Hansen memiliki hubungan dengan para polisi,” ucap Eatwell di majalah Rolling Stone.

Tapi keterangan Eatwell dan Buz tampaknya kurang dipercayai berbagai pihak di AS. Setelah ditemukan tewas mengenaskan, jasad Elizabeth Short dikuburkan ibunya, Phoebe Mae Sawyer, di pemakaman umum Oakland. Dan Phoebe langsung pindah rumah ke Oakland agar dekat dengan makam anaknya. Hingga kini, 74 tahun, kasus pembunuhan brutal itu masih menjadi misteri.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE