INTERMESO
SKANDAL DOPING RUSIA
Foto: Thinkstock
Rabu, 3 Februari 2016Hanya beberapa hari sepulang meliput Olimpiade Musim Dingin 2014 di Kota Sochi, Rusia, “kotak surat” Hans Joachim “Hajo” Seppelt mulai kebanjiran e-mail. Selama di Sochi, wartawan lepas asal Jerman itu menulis soal dugaan pemakaian doping oleh sejumlah atlet.
Salah satu e-mail yang masuk ke “kotak surat”-nya berasal dari sumber tak terduga, Vitaly Stepanova dan istrinya, Yuliya Rusanova. Keduanya bukan “orang biasa”. Vitaly bekerja di lembaga antidoping Rusia, RUSADA. Istrinya, Yuliya, merupakan atlet nasional Rusia. Spesialisasinya lari 800 meter. Pada Februari 2013, Yuliya tersandung kasus doping dan mendapat sanksi dari Federasi Atletik Internasional (IAAF).
Foto: Sergei Karpukhin/Reuters
Foto: Christinne Muschi/Reuters
Lewat e-mail itu, Vitaly dan Yuliya mengajak Hajo bertemu di sebuah restoran di pinggiran Moskow. Pasangan suami-istri itu berjanji akan membongkar rupa-rupa borok di kantornya.
“Aku ingin memerangi doping dan membuat dunia olahraga lebih bersih, lebih jujur,” kata Vitaly kepada Hajo setelah mereka bertemu di Moskow pada April 2014. Setelah lulus dari satu universitas di Amerika Serikat pada 2008, Vitaly memilih bekerja untuk RUSADA dan siap berperang melawan para atlet yang lancung. “Aku siap bekerja 24 jam.”
Sebanyak 99 persen atlet yang mewakili Rusia mengkonsumsi doping."
Pertemuannya dengan Yuliya pada 2009 mengubah semuanya. Vitaly kecewa berat terhadap dunia olahraga di Rusia. Catatan waktu Yuliya di nomor lari 800 meter, menurut Vitaly, salah satu yang terbaik di dunia. Kepada Vitaly, Yuliya membisikkan “resep rahasia”-nya bisa terus berlari kencang.
“Semua atlet Rusia memakai doping alias obat kuat. Kalian tak bisa mencapai hasil yang kalian mau, paling tidak di Rusia, tanpa obat kuat,” Vitaly mengutip kata-kata istrinya. Bahkan, menurut Yuliya, pelatihnya sendirilah yang memberikan resep obat kuat. “Menurut pelatih, dengan hanya bermodal kemampuan alamiah, kalian hanya akan punya catatan waktu yang bagus. Tapi, supaya bisa mendapatkan medali, kalian perlu 'bantuan'.”
Salah satu jenis doping, suntikan Epokine 2000, menurut Yuliya, gampang sekali diperoleh di Rusia. Bahkan tak perlu resep dokter seperti semestinya. Dia tinggal telepon satu apotek, dan Epokine akan diantar sampai depan pintu rumah. Jika sang atlet sedang sial, dia mungkin bakal tersandung tes doping. Federasi Atletik Rusia, Yuliya menuturkan, akan berlagak pilon, segera menendang atlet itu dan mencari penggantinya.
“Sebanyak 99 persen atlet yang mewakili Rusia mengkonsumsi doping.... Kalian bisa mendapatkan semua yang kalian mau,” kata Yevgeniya Pecherina, mantan atlet lempar cakram Rusia. Pecherina juga terkena sanksi larangan bertanding hingga 2023 gara-gara skandal obat kuat itu.
Atlet Rusia, menurut Oleg Popov, pelatih nomor lempar, tak punya pilihan selain “beradaptasi” dengan lingkungan yang bobrok. “Jika dia berani menolak skema doping itu, segalanya akan berjalan sangat cepat dan dia bakal ditendang,” kata Popov. Beberapa tahun lalu, Popov sempat bikin ribut. Menurut Popov, salah satu anak buahnya, Lada Chernova, dipaksa memakai obat kuat.
Liputan Hajo itu membuat Badan Anti-Doping Dunia (WADA) kebakaran jenggot. Mereka segera membuat komisi independen untuk menginvestigasi tudingan doping massal di lingkungan atlet Rusia. Laporan komisi independen yang diketuai mantan Presiden WADA, Richard Pound, telah diumumkan pekan lalu. Kesimpulannya kurang-lebih sama seperti penuturan Vitaly, Juliya, dan Oleg Popov: ada “doping berjemaah” di lingkaran elite atlet Rusia.
Bahkan, jika kami harus menutup seluruh organisasi ini, kami akan melakukannya dengan senang hati."
Yang punya dosa dalam skandal obat kuat ini bukan cuma atlet, tapi juga para pelatih, petugas laboratorium olahraga di Moskow, dokter tim, bahkan pengurus organisasi olahraga Negeri Beruang Merah. Bahkan, dalam sejumlah kasus, para mantan atlet yang sudah ganti posisi menjadi pelatih-lah, menurut laporan tim Richard Pound, yang jadi pelopor konsumsi obat kuat.
Segala cara ditempuh demi sekeping medali. “Atlet yang tak mau ikut pakai doping bakal sulit mendapatkan pelatih top, dan besar kemungkinan dia bakal disingkirkan,” tim komisi independen menulis. Richard Pound tak percaya, Menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko tidak tahu ada “doping berjemaah” di depan matanya. “Sungguh naif jika ada yang berkesimpulan aktivitas dengan skala seperti ini bisa terjadi tanpa persetujuan dari otoritas Rusia,” kata Pound.
Mutko terang membantah telah sengaja tutup mata. Dia mengklaim sama sekali tak tahu ada kegiatan haram besar-besaran yang melibatkan anak buahnya dari level terendah hingga paling tinggi. “Bahkan, jika kami harus menutup seluruh organisasi ini, kami akan melakukannya dengan senang hati, sehingga kami tak perlu keluar ongkos lagi,” kata Mutko kepada Guardian.
Dewan IAAF sudah mengetuk palu hukuman untuk Federasi Atletik Rusia pekan lalu. Keanggotaan mereka dibekukan dan seluruh atlet atletik Rusia dilarang mengikuti semua kejuaraan internasional. “Ini peringatan yang memalukan. Kami tegaskan sekali lagi, kami tak akan menoleransi kecurangan,” kata Presiden IAAF Sebastian Coe seperti dikutip CNN.
INTERMESO
SKANDAL DOPING RUSIA
Foto: Getty Images
Rabu, 3 Februari 2016Apa jadinya jika dia yang seharusnya jadi pagar malah melahap tanaman. Itulah yang terjadi di Federasi Atletik Internasional (IAAF), organisasi yang menjadi payung bagi para atlet dan pelatih di lintasan atletik.
Sekian lama berusaha menyapu dan menyembunyikan semua kotoran ke bawah karpet, tumpukan “sampah” di organisasi atletik dunia itu akhirnya tak bisa ditutupi lagi. Dan ternyata skandal di lintasan atletik ini bukan cuma persekongkolan para “kroco”, tapi menyeret para bos besar, bahkan Lamine Diack, mantan Presiden IAAF, dan anaknya, Papa Massata Diack, juga terlibat.
Lamine Diack, mantan Presiden IAAF (kiri)
Foto: Getty Images
Di sebuah bar hotel di Jepang, suatu malam pada Februari 2014, tepat sehari sebelum digelar Tokyo Marathon, Andrey Baranov menghampiri Sean Wallace Jones dan mengajaknya mojok. Agen olahraga asal Rusia itu sudah lama kenal Sean, pejabat senior IAAF. “Aku perlu bantuanmu,” kata Andrey, seperti dikutip Guardian, sembari mengempaskan badannya di bangku.
Tanggapan dari pucuk pimpinan organisasi atletik dunia ini sama leletnya."
Dari mulut Andrey meluncur cerita soal perilaku busuk para pejabat di lintasan atletik.
Liliya Shobukhova, salah satu atletnya, menurut Andrey, telah menyetor uang sebesar 450 ribu euro atau Rp 6,8 miliar kepada seorang pejabat Federasi Atletik Rusia (ARAF) sebagai “ongkos” untuk menutupi hasil tes dopingnya. Liliya adalah juara London Marathon dan Chicago Marathon.
Sean, yang hampir tak percaya pada cerita Andrey, segera menelepon Gabriel Nolle, Kepala Unit Antidoping IAAF. Gabriel malah berkelit. Tak ditanggapi serius oleh Gabriel, Sean melaporkan cerita Andrey kepada Nick Davies, Wakil Sekretaris Jenderal IAAF. Dia meminta Nick mengatur pertemuan dengan Lamine Diack, bos besar IAAF. Tapi tanggapan dari pucuk pimpinan organisasi atletik dunia ini sama leletnya.
Lambannya tanggapan bos-bos IAAF soal dugaan korupsi dalam skandal doping bukannya tanpa sebab. Andrey membuka satu cerita baru soal “sang pagar yang melahap tanaman”. Beberapa pejabat IAAF, menurut Andrey, terlibat dalam pemerasan terhadap Liliya.
Seorang pejabat IAAF menawarkan, jika Liliya bersedia menerima pembekuan sementara dari lomba, sebagian “ongkos” yang telah disetor akan dikembalikan. Lewat satu rekening di bank Singapura atas nama Black Tidings, beberapa waktu kemudian sebagian duit Liliya senilai 300 ribu euro ditransfer kembali ke rekening suaminya. Belakangan terungkap, Black Tidings dikendalikan oleh Papa Massata Diack.
Kendati bukti dan saksi sangat kuat, Lamine tetap menyampaikan bantahan dan menyatakan cerita Andrey itu tak benar. Paham bahwa yang mereka lawan adalah raksasa-raksasa di dunia atletik, Andrey dan Sean, dibantu pengacara Michael Beloff, terus mengumpulkan bukti.
Selama berbulan-bulan, kisah suap-menyuap dan skandal doping di lintasan atletik ini seolah-olah bakal terkubur selamanya, hingga Hans Joachim “Hajo” Seppelt, wartawan lepas asal Jerman, memberitakan soal konsumsi doping alias obat kuat oleh atlet-atlet Rusia.
Mengapa begitu banyak atlet Rusia positif doping? Mungkin lantaran mereka terlalu sering menjalani tes."
Hajo mendapat sumber kelas satu soal tipu-tipu doping ala Negeri Beruang Merah, yakni Vitaly Stepanov dan istrinya, Yuliya Rusanova. Keduanya bukan “orang biasa”. Vitaly bekerja di lembaga antidoping Rusia, RUSADA. Istrinya, Yuliya, merupakan atlet nasional Rusia. Spesialisasinya lari 800 meter. Pada Februari 2013, Yuliya tersandung kasus doping dan mendapat sanksi dari IAAF.
Sebenarnya, rupa-rupa tipu-tipu untuk berkelit dari tes doping ini sudah lama didengar oleh bos-bos IAAF. Pada akhir Desember 2015, harian Le Monde mengungkap soal e-mail dari Nick Davies kepada Papa Diack. Beberapa pekan sebelum Kejuaraan Dunia Atletik di Moskow pada November 2013, Nick mengusulkan supaya IAAF meredam serangan media-media Inggris terhadap Rusia dengan menyewa perusahaan konsultan Chime Sports Media milik Sebastian Coe, kini Presiden IAAF.
“Kita juga bisa mengambil keuntungan dari pengaruh politik Sebastian di Inggris,” Nick menulis. Di e-mail itu, Nick juga berpendapat bahwa mereka mestinya membongkar skandal doping Rusia jauh-jauh hari. “Tapi sekarang kita harus pintar.” Mereka, kata Nick, bisa mempersiapkan “alasan” mengapa begitu banyak atlet Rusia tersangkut doping. “Mengapa begitu banyak atlet Rusia positif doping? Mungkin lantaran mereka terlalu sering menjalani tes.”
Soal e-mail itu, Nick Davies, kini tangan kanan Sebastian Coe di IAAF, berkilah bahwa tak satu pun rencana itu dilaksanakan. Tak ada kesepakatan dengan Chime Sports, juga tak ada diskusi soal rencana “membungkam” media Inggris. Tapi terungkapnya e-mail itu menjadi satu tamparan keras bagi Sebastian, yang sedang babak belur untuk memulihkan reputasi organisasi yang dia pimpin.
Beberapa pejabat IAAF yang terbukti lancung telah dihukum. Pada pekan pertama 2016, Komisi Etik Independen IAAF menjatuhkan sanksi kepada Papa Diack; bos ARAF, Valentin Balakhnichev; dan pelatih tim Rusia, Alexei Melnikov. Mereka dilarang terlibat dalam semua kegiatan IAAF seumur hidup. Gabriel Nolle, yang dianggap mengabaikan kasus doping, juga dihukum tidak boleh terlibat dalam kegiatan IAAF selama lima tahun.
Kami percaya inilah saatnya bagi perubahan radikal untuk memulihkan kepercayaan terhadap olahraga ini."
Bersih-bersih di tubuh organisasi atletik itu terus berlanjut. Polisi Prancis tengah menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan Lamine Diack dan sejumlah pejabat IAAF. Eliane Houllete, jaksa Prancis, mengatakan Lamine Diack dan konco-konconya diduga menikmati uang suap sebagai imbalan atas lolosnya atlet-atlet yang positif doping.
Prihatin terhadap borok skandal korupsi dan doping di tubuh IAAF, organisasi atletik Inggris, UK Athletics, menerbitkan Manifesto for Clean Athletes. Di antara rekomendasi mereka adalah membatalkan semua rekor dunia dan menjatuhkan sanksi seumur hidup bagi atlet yang terbukti positif obat kuat.
“Kami percaya inilah saatnya bagi perubahan radikal untuk memulihkan kepercayaan terhadap olahraga ini,” kata Ed Warner, Ketua UK Athletics. Paula Radcliffe, pemegang rekor dunia lari maraton, terang tak setuju dengan usul Warner. “Anda akan menghukum atlet yang tak bersalah,” kata Paula kepada Guardian.
Penulis/Editor: Sapto Pradito
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.