'Badai itu sudah mereda'

'Badai itu sudah mereda'

- detikNews
Senin, 09 Jan 2006 07:35 WIB
Jakarta - George Soros, pemilik/pemimpin Quantum Fund dan yayasan filantropi Open Society, berkunjung ke Indonesia Pekan lalu. Untuk mengetahui bagaimana filosofi dan pandangannya mengenai permasalahan ekonomi, spekulasi dan Indonesia, Bisnis mewawancarai tokoh yang pernah diduga berada di belakang jatuhnya rupiah dan penyebab krisis ekonomi negeri ini pada 1997 lalu. Berikut petikannya: Sebagai investor, pialang, manajer investasi, dan filantropis, apa sebenarnya tujuan hidup Anda? Saya ingin menjadi bagian dunia, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial melalui berbagai kegiatan saya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian pula saya. Hanya sayangnya masih banyak orang tidak menyadari ketidaksempurnaan itu sampai dia melakukan kesalahan dan mendapati bahwa dirinya tidak sempurna. Dalam kegiatan ekonomi saya bekerja keras dalam memperhitungkan investasi saya dan hasil yang saya bukukan dapat saya manfaatkan untuk kegiatan sosial. Kita juga butuh dana untuk kegiatan sosial itu. Bagaimana filosofi tentang segala ketidakpastian di dunia sehingga orang dapat memanfaatkan ketidakpastian itu untuk spekulasi? Betul sekali. Filosofi itu membuat saya harus selalu jeli dan hati-hati mengamati segala kejadian di dunia ini. Kita dapat belajar dan menarik keuntungan dari ketidakpastian segala hal. Seperti juga dalam investasi di pasar uang, saya mencoba membuat proyeksi dari pergerakan ketidakpastian itu. Saya akan ambil posisi sebelum mencapai titik tengah pada keseimbangan. Banyak orang beranggapan bahwa Anda melakukan spekulasi mata uang berdasarkan ketidakcocokan realita yang Anda yakini dan realita yang diyakini publik sehingga ada mekanisme koreksi yang suatu saat mendekatkan kedua realita tersebut. Dapatkah Anda menerangkannya? Memang hampir selalu ada perbedaan dalam memandang realita dari setiap individu atau setiap hal. Akan tetapi dalam perjalanannya, ketidakcocokan dalam menghitung realita itu akan mengalami suatu mekanisme yang akan mendekatkan kedua pandangan realita yang berbeda, yaitu realita yang saya yakini dan realita yang diyakini orang terhadap realita yang sebenarnya terjadi. Kita harus bermain logika di antaranya. Mohon tidak dibilang spekulasi, tetapi penuh perhitungan dan bertindak cepat. Tentang krisis ekonomi, dalam pandangan Anda, apa sebenarnya penyebab dasarnya? Saya melihatnya hampir selalu ada artifisial nilai tukar mata uangnya atau bukanlah nilai riil sehingga tidak kuat juga ada shock, terutama external shock . Selain itu masalah kredit yang buruk, terutama mark-up, konsentrasi kredit dan ditambah lagi kredit dilakukan dalam mata uang asing. Sudah mengambil kredit dalam mata uang asing, tetapi menginvestasikanya atau meminjamkan kembali dalam kegiatan yang menghasilkan rupiah saja. Belum lagi konsentrasi kredit terutama untuk sektor properti kelas atas. Ditambah adanya penerobosan batas kredit alias kredit terlalu ekspansif tanpa perhitungan risiko yang bagus. Itu semuanya yang bikin kondisi ekonomi unsound. Apa yang seharusnya kita pelajari dari krisis ekonomi itu? Setelah sudah tahu penyebabnya, seharusnya dilakukan analisa historis akan kekeliruan di masa lalu dan supaya sekarang tak terulang atau ditanggulangi seminim mungkin. Nilai tukar harus kuat, kredit diperoleh dan dikelola dengan baik pada sektor-sektor yang memiliki memiliki tingkat pengembalian tinggi dan risiko kecil. Anda menyebut nilai tukar artifisial, bagaimana komentar Anda tentang system nilai tukar di Indonesia saat ini? Saya tidak berpikiran bahwa nilai tukar tetap itu selalu baik, nilai tukar mengambang itu cocok, currency board itu bagus. Saya juga tidak mengatakan hal sebaliknya dan saya tidak berlawanan dengan salah satu sistem dari nilai tukar itu. Semua harus dilihat kasus per kasus karena masing-masing negara memiliki kondisi yang unik dan selalu ada unsur ketidakpastian dan ketidakseimbangan itu sehingga penerapan nilai tukar hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tapi Anda pernah mengusulkan tentang currency board untuk negara-negara emerging ekonomi dan negara transisi ? Ah..., secara spesifik kayaknya tidak pernah. Akan tetapi barangkali currency board itu berguna untuk negara yang ekonominya tidak stabil. Tapi harus dilihat keadaan satu negaranya. Lihat saja kasus di Eropa Timur, currency board hanya jalan dengan baik di Estonia dan Bulgaria, tapi belum tentu di tempat lain. Saya tidak tahu apakah currency board relevan untuk Indonesia. Menurut saya, apapun nilai tukar di suatu negara, hendaknya belum perlu dimasukkan dalam konstitusi. Karena jika suatu nilai tukar yang ditetapkan ternyata pada akhirnya tidak memberikan stimulasi baik pada perekonomian maka barangkali dapat diterapkan sistem yang lain secara fleksibel, sampai akhirnya ditemukan formula yang pas. Bagaimana Anda melihat perekenomian Indonesia saat ini dan masa mendatang?Apakah Anda juga tertarik investasi di sini. Secara politik saja tampaknya masih belum stabil jadi harus selalu hati-hati. Saya tidak dapat berkomentar banyak karena pengetahuan saya tentang Indonesia sangat minim. Investasi di Indonesia? Ya... pasti ada yang menarik. Hanya saja saya tidak akan mengatakannya apa, bagaimana dan kapan, sebab nanti menjadi opini yang menggiring pasar. Nanti harganya naik dong...he...he...he... Bagaimana pengamatan Anda untuk perekonomian secara global? Kalaupun dibilang ada badai, tapi badai itu sudah akan mereda dan tidak akan sampai mengganggu hingga jauh ke depan, karena akan terjadi keseimbangan dengan sendirinya. Amerika Serikat masih akan terus mengalami defisit necara pembayaran, nilai dolar yang cenderung melemah, tabungan negatif, tetapi harga properti naik. Kondisi AS itu yang menjadi acuan dunia. Akan tetapi kita punya penyelamat China dan India yang akan membawa ekonomi dunia mendekati garis keseimbangan. Mohon dijelaskan keseimbangan dalam dunia keuangan internasional yang akan terjadi dan bagaimana memperkirakannya itu? Keseimbangan berhubungan dengan kuantitas, artinya untuk mengukur dan mengetahui arah keseimbangan maka harus ditemukan dulu kuantitas. Dalam bidang produksi kuantitas bisa dilihat. Akan tetapi dalam pasar keuangan, kita semua melakukan transaksi tanpa tahu kuantitas. Kita sendiri yang harus menduga diskon di masa depannya dan itu tergantung pada bagaimana kita semua melakukan diskon pada hari ini. Satu hal yang pasti, ada yang melihat keseimbangan itu bersifat kontinyu, ada yang menganggap tidak. Apa komentar Anda tentang kegagalan lembaga keuangan internasional menangani permasalahan ekonomi dunia? Realitas menunjukkan IMF, Bank Dunia, WTO, dan sebagainya itu sungguh-sungguh lebih kuat dibandingkan PBB-nya sendiri. IMF misalnya, dia punya cara kerja sendiri dan sebagian besar ternyata tidak cocok diterapkan sebagai obat penstabil ekonomi. Mereka hanya punya satu resep untuk banyak negara yang berbeda-beda karakteristiknya. Jadi dapat dikatakan intervensi lembaga keuangan internasional malah menjadi bagian dari problem, bukan bagian dari solusi. Apa komentar Anda tentang fundamentalis pasar? Fundamentalis pasar mengenal peran negara, akan tetapi peran negara dianggap akan memperburuk pasar atau membawa dampak negatif. Aliran ini menganggap mekanisme pasar akan bekerja dengan baik karena pasar bersifat sempurna. Sayangnya intervensi negara acapkali tidak sempurna. Makanya perlu ada open society untuk memberikan kontrol. Menurut saya, perlu disinggung tentang market society untuk memenuhi kebutuhan pasar dan open society untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Jadi klop kan, satu sama lain saling mengisi. Menurut Anda, apakah pasar saat ini sudah terlalu kuat? Lebih baik jangan dibilang pasar terlalu kuat saat ini, tetapi lebih baik dikatakan pasar sangat berpengaruh atau mempengaruhi. (Rofikoh Rokhim/)


Berita Terkait