DetikNews
2017/08/02 11:57:30 WIB

Wawancara Lengkap Novel Baswedan di Blak-blakan detikcom

Indah Mutiara Kami, Dhani Irawan - detikNews
Halaman 2 dari 4
Wawancara Lengkap Novel Baswedan di Blak-blakan detikcom Novel Baswedan / Foto: Dhani Irawan/detikcom


Soal kejadian di bulan April, sebelum teror disiram air keras, Mas Novel juga mengalami berbagai teror sebelumnya, apakah Mas Novel mempunyai kecurigaan itu orang yang sama?

Jadi memang benar saya mendapatkan teror beberapa kali, dan sebagaimana pernah saya sampaikan ke media lainnya, teror ini bukan cuma terhadap diri saya, cuma yang terekspos atau diekspos, yang berhubungan diri saya saja. Sebenarnya ada juga petugas-petugas KPK lainnya, baik penyidik maupun yang petugas yang membantu tugas penyidik, dilakukan teror juga, dan itu terkait dengan beberapa kasus, artinya kasus-kasus yang berbeda. Indikasi memang aktor intelektualnya sama, dan ini kemudian saya berpikir mestinya tidak boleh dibiarkan. Sampai kapan lagi negara atau pemerintah abai dengan hal ini. Saya menggunakan kata-kata abai karena ini sangat buruk sekali apabila terjadi lagi, sangat buruk sekali. Setelah sekian lama terjadi, mau berapa lama lagi akan terjadi. Dan satu hal lagi yang lebih penting adalah kalau ini dibiarkan ke depan apakah kita ingin mengharapkan orang-orang yang tadinya bisa diharapkan untuk berjuang untuk negara dan bangsa, kemudian kalah dengan ditakut-takuti dengan cara begitu. Nah ini nggak boleh terjadi. Dan ini mestinya menjadi concern, menjadi perhatian, baik bapak Presiden maupun pemimpin-pemimpin di negara kita, di Indonesia

Yang saya dengar, teror-teror itu berhubungan dengan pencurian barang bukti? Apakah itu benar?

Ya saya mendapat informasi dari beberapa rekan, banyak yang terjadi, tapi saya tidak bisa menyampaikan poin per poin karena terlalu banyak saya kira, dan saya menduga penanganan yang dilakukan justru membuat perkara teror ini seolah-olah biasa-biasa saja sehingga sebagaimana pernah saya sampaikan ke media sebelumnya, saya pada posisi tidak percaya bahwa ini akan diungkap dengan serius. Oleh karena itu saya mengharapkan dibentuk tim gabungan pencari fakta untuk mengungkap ini apabila memang dianggap serius

Baru tadi siang Pak Jokowi akan memanggil Kapolri untuk membahas kasus Mas Novel, sebelumnya Pak Jokowi juga sudah pernah bicara langsung meminta tegas untuk mengusut tuntas kasus Mas Novel ini, sekarang Pak Jokowi akan memanggil langsung Kapolri, apakah ini menumbuhkan sedikit kepercayaan pada Mas Novel kasus ini akan tuntas?

Ya saya melihat itu sebagai hal positif walaupun saya tidak yakin, kenapa? Saya khawatir juga Pak Kapolri diberi masukan yang palsu dari anak buah. Anda bisa bayangkan, contoh, salah satu fakta tentang orang-orang yang memantau di depan rumah saya, direkayasa seolah-olah itu adalah, istilahnya itu mata elang, kalau nggak salah. Itu fakta yang menurut saya kontradiktif dengan fakta yang diperoleh di lapangan, dan itu membuat saya berpikir atau berkeyakinan bahwa itu adalah upaya untuk pengelabuhan. Seandainya ada suatu peristiwa dan kemudian ingin dibikin alibi, saya kira tidak perlu penyidik handal untuk membuat seperti itu bisa dilakukan kok. Sekarang bukan masalah alibinya seperti apa, tapi seserius apa. Kalau ada fakta yang dikelabuhi, apakah Anda masih bisa percaya dengan alibi-alibi yang dibuat? Karena alibi-alibi yang dibuat untuk menutupi fakta, ya sangat mudah, tidak sulit. Ini yang saya melihat. Jangan sampai kemudian Pak Kapolri diberi masukan yang palsu atau tidak benar oleh bawahannya dan kemudian melaporkan ke Pak Presiden dan kemudian direspons kepada Pak Presiden dengan cara yang salah tentunya

Apakah masukan palsu dari jenderal yang sempat Mas Novel sebutkan?

Saya tidak tahu mekanisme pelaporannya seperti apa, yang jelas saya melihat perkembangan sampai sekian lama, saya pesimis ini akan diungkap dengan serius, jangankan sampai ke aktor intelektual, sampai pelaku lapangannya saja saya tidak yakin

Berarti walaupun hari Senin, 31 Juli nanti, Presiden memanggil Kapolri, Mas Novel tetap tidak yakin kasus ini bisa tuntas?

Saya melihat pemanggilan itu sebagai hal yang positif. Tapi saya menduga apabila dibicarakan yang formal-formal saja, kejadiannya akan seperti itu. Yang dilaporkan adalah, oh telah diperiksa saksi-saksi, oh ini telah ada alibi dan lain-lain. Apa sulitnya membuat alibi-alibi begitu, toh juga fakta-fakta yang diungkap itu, yang saya contohkan tadi, salah satu adalah fakta yang menurut saya adalah pengelabuhan, itu fakta yang nggak benar. Dan yang membuat saya kecewa, ada beberapa saksi yang diungkap namanya ke publik dan itu menurut saya adalah bagian dari teror kepada saksi, ndak boleh begitu

Harusnya dilindungi?

Saksi yang disebut namanya di publik itu ini sesuatu yang sangat buruk. Saya harap media juga tahu bahwa itu ada, dan memang saya sangat menyayangkan ada beberapa saksi yang namanya disebut di publik. Dan ini berbahaya. Bagaimana kita mengharapkan atau kita mau percaya ketika proses itu dilakukan dengan hal-hal yang itikadnya demikian, mau mengungkap nama-nama saksi, orang tersangka biasanya pakai inisial, saksi disebut nama di publik

Mas Novel, kembali ketika Mas Novel dibawa ke rumah sakit, ketika itu Ketua KPK juga langsung mengantar Mas Novel, ada pesan khusus yang disampaikan?

Ya tentunya beliau prihatin dengan kejadian ini, beliau juga menginginkan ini diungkap dengan serius, begitu juga beberapa waktu kemudian Pak Kapolri hadir ke lokasi, ke tempat saya dirawat, beliau juga menyampaikan hal yang hampir serupa, Pak Kapolda Metro juga menyampaikan demikian. Bahkan 2 minggu pertama, proses pengungkapan berjalan dengan baik, dengan ya saya bisa bilang baiklah, artinya prosesnya lumayan normal, tapi sekarang prosesnya justru mundur jauh sekali dibanding 2 minggu 3 minggu pertama proses terjadi. Nah ini yang kemudian saya bisa berkata saya tidak percaya proses yang ada sekarang

Ketika Kapolri dan Ketua KPK bertemu juga dan menyampaikan akan ke Singapura menemui Mas Novel?

Begini, mbak. Memang disampaikan bahwa akan datang menemui saya di Singapura walaupun memang belum dilakukan setelah pertemuan dengan pimpinan KPK. Dan kemudian 2 bulan setengah setelah kejadian dibuat sketsa wajah dan disampaikan juga alasan bahwa itu akan ditunjukkan kepada saya, pertanyaannya adalah untuk apa? Sejak awal kejadian saya sudah menyampaikan saya tidak melihat langsung pelakunya. Ketika ini mau ditunjukkan ke saya, padahal para penyidik dan para aparatur, maksudnya petugas-petugas di lapangan yang melakukan penanganan perkara ini, mereka sudah saya beritahu beberapa kali, bahwa saya tidak melihat pelakunya. Sketsa wajah mau ditunjukkan pada saya, untuk apa? Apakah untuk menjawab, untuk mendapatkan jawaban dari saya bahwa saya tidak mengenali, dan kemudian dipublikasi ternyata Novel tidak mengenali, apakah itu yang ingin dibuat, saya kira ini menunjukkan bahwa proses itu tidak serius

Kembali soal saat pimpinan KPK menemui Mas Novel, kalau meliihat ke belakang, tekanan ke Mas Novel tidak hanya dari luar, publik mengingat soal SP2 dan rumor Mas Novel ditaruh di BUMN, Mas Novel bagaimana melihatnya?

Begini, mbak. Saya di KPK selain sebagai penyidik juga sebagai ketua wadah pegawai. Ketua wadah pegawai adalah, salah satu fungsinya adalah menjaga untuk kepentingan KPK agar tetap sebagaimana tujuan pembentukan KPK. Ketika ada rencana yang sudah hampir jadi bahwa penyidik akan dimasukkan pangkat Komisaris Besar tentunya ini berbahaya buat KPK. Bukan bicara oh si A si B, bukan, ketika pangkat Komisaris Besar atau Kombes dimasukkan sebagai penyidik, saya kira ini tidak baik bagi KPK. KPK sebisa mungkin itu mempunyai penyidik sendiri, dan yang kedua, apabila diperlukan penyidik dari Polri, sebagaimana penyampaian Pak Kapolri beberapa kali dalam beberapa kesempatan, penyidik dari Polri yang diperlukan adalah penyidik-penyidik muda, bukan penyidik-penyidik muda, bukan penyidik-penyidik pada pangkat Kombes. Protes itulah yang disampaikan saya sebagai ketua wadah pegawai, dan protes itu yang kemudian menjadi polemik di internal, yang tentunya ini berhubungan dengan orang-orang tertentu yang saya nggak bisa sebutkan

Apakah mas Novel melihat itu sebagai tekanan dari internal?

Saya tidak ingin berspekulasi sampai ke sana, cuma saya menyampaikan bahwa saya sebagai pegawai tetap KPK sekarang ini dan sebagai ketua wadah pegawai KPK, berkepentingan sekali untuk menjaga independensi KPK dan itu menjadi hal yang menjadi perhatian untuk seluruh pegawai KPK tentunya

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed