DetikNews
Selasa 07 Jun 2016, 19:50 WIB

Wawancara

Saat Irjen Ari Dono Bicara Tentang Pengalaman, Harapan dan Target Bareskrim ke Depan

Idham Kholid - detikNews
Saat Irjen Ari Dono Bicara Tentang Pengalaman, Harapan dan Target Bareskrim ke Depan Foto: Idham Khalid
Jakarta - Irjen Ari Dono Sukmanto resmi menjabat Kabareskrim menggantikan Komjen Anang Iskandar yang memasuki masa pensiun. Ari berbagi cerita soal pengalamannya serta harapan dan tantangannya memimpin Bareskrim.

Berikut petikan wawancara detikcom serta tiga wartawan media lain dengan Irjen Ari Dono. Wawancara dilakukan di ruang kerja Ari, Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7/6/2016).

Anda sudah menjabat Kabareskrim, bagaimana perjalanan karir Anda?

Seperti anak lainlah, kita sekolah, selesai sekolah, mau daftar sekolah ke mana, mungkin karena lingkungan saya ada lingkungan polisi. Orangtua saya Brimob, ada senior saya sudah masuk Akpol, diajak saya ke situ, masuk tahun 1981, lulus 1985.

Lalu tugas di Kalsel di Kasat Serse di Hulu Sungai, pindah lagi Kasat Serse di Kota Baru, sekolah di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian-red). Habis PTIK, Kabag Serse Tipikor di Kalteng, Wakapolres di Kapuas Kalteng, sekolah lagi Sespim 98 Kabag Serse Tipidter di Polda Sumut, Kapolres Sibolga, Kapolres Sdrang, Direskrim Polda Banten, Kapoltabes Denpasar, Direskrim Polda Yogya, Direskrim Polda Jabar, penyidik utama Bareskrim, Wakapolda Sulteng, Dirtipidum Bareskrim, Kapolda Sulteng, Staf Ahli Manajemen Kapolri, Wakabareskrim, Kabareskrim.

Dari kecil memang ingin jadi polisi?

Saya dulu saat masih SMA olahraganya terjun payung. Maunya sih ke (TNI) Udara tapi ya lulusnya di polisi. Ya kita jalani, biasa saja.

Bagaimana suka duka selama jadi polisi?

Alhamdulillah, reserse saya suka. Saya suka berpetualang, jalan di lapangan. Investigasi. Tiap hari selalu kita mendapatkan tantangan, persoalan baru.

Masalah orang kan kita ada tantangan untuk bisa menyelesaikan persoalan itu, membantu masyarakat. Di reserse enak, selalu kita setiap hari akan ditanya orang, akan menanya orang. Tentu kita harus up date terus pengetahuan kita tentunya berkaitan dengan hukum ya. Kita hadapi banyak orang, ada yang lembut, kasar, dan sebagainya. Selalu kita layani dengan baik. Itu yang saya suka jadi reserse.

Saat baru menerima TR jadi Kabareskrim, apa yang terlintas di benak Anda?

Ya...gimana ya. Terkejut juga lah. Kan baru 1,5 bulan (jadi Wakabareskrim). Terkejutnya gimana ya... susah saya bilangnya kenapa. Saya kerja itu enggak kejar pangkat atau jabatan, tapi kebetulan saya bisa enjoy dalam setiap tugas saya.

Yang saya cari itu kebahagiaan, bukan pangkat, bukan jabatan. Jadi kerja ya maksimal, nanti jadinya apa, karena itu bukan bagian dari urusan kita. Kalau saya sebagai polisi targetnya masyarakat suka sama polisi, simpati sama polisi. Siapa polisinya, bagiannya adalah saya. Kalau kerja di sini saya berusaha untuk bisa beri pelayanan.

Waktu mengetahui sudah resmi TR Kabareskrim, Anda sedang melakukan apa saat itu?

Dari sore sudah ribut, tapi TR kan enggak ada. Saya sedang kerja di kantor, ucapan selamat dan lain sebagianya. Isu-isu ada. Tapi kan mungkin, isulah seperti itu. TR kalau enggak salah, malam baru keluar.

Setelah resmi jadi Kabareskrim, ada pesan khusus dari Kapolri?

Pastinya umumnya laksanakan tugas dengan baik, tunggakan perkara itu masih banyak, selesaikan. Kemudian terkait dengan situasi terakhir, masalah ekonomi negara seperti ini, harus diambil langkah-langkah apa yang harus dikerjakan. Dalam penegakan hukum jangan sampai terjadi kegaduhan. Tapi bisa berdampak pada pemulihan situasi.

Maksudnya enggak gaduh?

Iya enggak gaduh. Kalau gaduh, nanti dilihat sama bangsa lain kok gaduh terus, enggak bagus. Investor mau datang, enggak jadi. Orang mau bayar pajak enggak berani.

Enggak gaduh maksudnya dengan cara seperti apa?

Sesuai dengan fakta, kapan kita bisa informasikan ke publik. Bicara harus hati-hati. Kalau saya berusaha dalam penegakan hukum nanti eksposenya tuh kalau sudah faktanya cukup, duduk kasusnya buktinya cukup, P21, lengkap, baru kita informasikan. Kalau penindakan, ya kita sampaikan betul ada penindakan kasus apa, dalam proses, karena enggak semua informasi bisa kita buka ke publik kalau masalah penyidikan

Zaman Pak Buwas jadi Kabareskrim pengungkapan kasus jadi perhatian publik, era Pak Anang enggak jadi perhatian publik, Anda bagaimana nantinya?

Itu kan publik yang menilai. Kalau saya ya tetap berupaya mencari simpul-simpul indikasi pelanggaran hukum yang mengganggu stabilitas ekonomi, stabilitas keamanan, itu yang harus kita tegakkan. Gaduh atau nggak gaduhnya tuh namanya ada sentuhan dalam penegakan hukum, adalah ributnya sedikit. Hanya bagaimana kita sampaikan informasi itu sehingga enggak menimbulkan riak-riak seperti itu. Harus hati-hati kita bicara.

Bagaimana penanganan PR-PR kasus?

Sebenarnya semua perkara itu pasti jalan, enggak ada yang berhenti. Berhentinya kerena aturan. Beberapa kasus lalu yang udah ditindak zamannya Pak Buwas, Pak Anang, yang belum selesai, kita tuntaskan.

Ada target penyelesaian?

Kalau target itu kalau saya mampu mengerjakan, saya mampu menargetkan. Tapi kalau terkait instansi lain, perlu ada koordinasi supaya apa yang kita harapkan bisa sampai. Target kita secepat-cepatnya karena bakal datang pekerjaan baru.

Kasus Pelindo II Bagaimana?

Tetap jalan. Kan sudah ada yang ditetapkan tersangka dan sudah dikejaksaan. RJ lino belum tersangka

Berani enggak memproses RJ Lino?

Bukan berani atau enggak berani, tapi ada atau tidaknya bukti yang kita temukan, maka kita harus melangkah kemana.

Buktinya sudah ada?

Itu kita belum bisa cerita.

Kasus yang paling menonjol menurut Anda kasus apa?

Kita enggak boleh membeda-bedakan kasus, nanti yang punya kasus marah kalau dibeda-bedakan, (kasus) punya dia enggak dianggap. Kasus-kasus kami perlakukan sama. Skala prioritas pasti ada, kasus-kasus yang berdampak besar kita ada percepatan, ada satgas-satgas yang dibentuk. Kasus-kasus berdampak besar seperti TPPI (kasus korupsi penjualan kondensat bagian negara oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indotama/TPPI -red), itu sudah koreksi dari kejaksaan, sudah kita kembalikan (ke Kejaksaan), masih kita tunggu lagi.

Menurut Anda, apa tantangan seorang Kabareskrim?

Kita sekarang banyak tunggakan kasus. Kasusnya bertambah tapi penyidiknya tambahnya enggak banyak. Bisa dibilang kurang untuk bisa mengatasi penambahan kasus-kasus tersebut. (Penyidik) kurang dalam jumlah dan kurang dalam kemampuan.

Untuk mempercepat penyelesaian perkara sekaligus bisa melatih penyidik-penyidik, kita coba dengan menarik penyidik-penyidik daerah untuk kita berikan pelatihan sekalian menyelesaikan kasus-kasus tunggakan bertahap berjenjang, kita minta dari Polda-polda menangani kasus-kasus di sini, sekalian dia dilatih dan menyelesaikan kasus. Dia kembali ke asalnya, ilmunya nambah, perkara di Bareskrim selesai. Begitu terus sampai ke Polres dan Polsek.

Berapa kurangnya?

Kita enggak bisa bilang jumlah ideal. Penyidik di Bareskrim 1000 lebih, jadi target kita untuk menuntaskan perkara yakni mendatangkan penyidik-penyidik daerah. Lalu meningkatkan kasus dan koordinasi dengan instansi terkait dalam giat penegakan hukum, kami antisipasi masuknya barang-barang ilegal, barang yakni dengan bea cukai, imigrasi (terkait narkoba), Kementerian Kominfo (tekno informasi), Kejaksaan (criminal justice sistem), KPK (penegakan hukum). Ke depan diharapkan ada upaya gerakan bersama dalam tangani masalah korupsi ini.

Kalau reserse kan pure penegakan hukum. KPK punya pencegahan. Jaksa penegakan hukum. Kita harap ada koordinasi yang baik untuk bisa menyelesaikan masalah korupsi.

Soal sertifikasi penyidik yang dicanangkan Komjen Anang Iskandar apakah akan dilanjutkan?

Masih kita tindaklanjuti, kita harapkan penyidik kita bersertifikat (berkemampuan). Ini harapan Pak Kapolri. Sekarang dalam proses membentuk pelatih-pelatihnya (asesor). Kita utamakan di Mabes Polri dulu. Dari Mabes, kita latih pelatih di wilayah lagi, tahun depan diharapkan anggaran sudah bisa dianggarkan semua.

Tahun depan sudah mulai pelatihan?

Tahun ini sudah, untuk melatih pelatihnya, asesornya.

Bagaimana dukungan keluarga selama ini?

Biasa-biasa aja, karena memang saya tidak ada yang khusus ya. Saya kerja, anak saya sekolah, dan tidak terlalu gimana bapaknya jadi polisi. Jangan sampai anak-anak terbebani juga dengan masalah-masalah. Mereka enggak terlalu tahu, hebat atau tidak, dan saya kan jarang di rumah. Pagi jalan kerja, malam pulang. Sabtu-Minggu olahraga. Ketemu anak nonton bioskop.

Anak Anda ada berapa?

4, paling besar kuliah. Cowok dua, cewek dua.

Anak Anda mau jadi polisi juga seperti Anda?

Belum ada, (anak) yang besar tidak mau. Saya membebaskan saja.

Sekarang sudah jadi Kabareskrim, tentunya kan jadi calon Kapolri, bagaimana tanggapan Anda?

Itu bukan urusan saya. Yang penting jadi Kabareskrim bagaimana kerja, di bidang menangani Bareskrim dalam hal penegakan hukum. Keluarnya pembinaan kepada anggota, supaya dia bisa melayani masyarakat dengan baik. Jangan sampai pimpinan kita pusing.

Artinya tetap fokus kerja saja?

Iya, jangan sampai termakan isu, terombang-ambing. Fokus dengan pekerjaannya Bareskrim.

Soal pengguna narkoba, ada yang mengatakan direhabilitasi, ada yang mengatakan diproses hukum. Bagaimana pendapat Anda?

Yang harus diikuti undang-undang. Apa yang disampaikan Pak Anang (eks Kabareskrim) itu UU. UU-nya memang bunyinya seperti itu, direhabilitasi. Nah yang ditahan itu ya itu pengedar-pengedarnya. Itu bukan maunya Pak Anang tapi memang berdasarkan undang-undang.

Persoalannya adalah tempat rehabilitasinya, karena masih terbatas. Sebenarnya kalau Lapas ini satu lembaga untuk memasyarakatkan, orang-orang pidana, orang-orang jahat diproses untuk menjadi masyarakat baik. Tapi mungkin programnya masih perlu penyempurnaan, kita juga bisa maklumi. Lapas itu banyak masalah, kasihan juga mereka itu, over kapasitas, jumlah sipir hnya sedikit.

Tapi bukannya dalam beberapa kasus justru di Lapas terdapat narkoba?

Betul, karena sulitnya untuk memfilter, berapa jumlah tahanan, yang besuk berapa, jumlah yang ngawasin berapa. Itu persoalan-persoalan di Lapas. Jadi bukan sengaja. Tidak. Itu kondisinya harus dicarikan solusi.

Apa pengalaman paling berkesan dalam menangani kasus?

Kasus (pesawat) Garuda yang jatuh di Yogya. Karena enggak umum. Menangani kasus kan biasa. Itu karena di dunia pun yang memproses atau mempidanakan belum banyak, baru 1 -2 negara saja. Salah satunya di Indonesia. Kenapa kami tangani? Karena dari fakta, timbul korban dari pristiwa itu, ada meninggal dunia, luka berat, pesawat hancur, landasan rusak. Ada apa itu, kita sidik.

Waktu itu dikenakan melanggar undang-undang apa?

UU penerbangan, KUHP, kita koordinasi dengan KNKT, blackbox kita periksa di laboratorium di Australia, kita temukan ada fakta-fakta yang memang patut diduga ada 1 kelalaian atau keteledoran pilot yang mustinya tidak harus landing dalam kondisi seperti itu, tapi dia paksakan landing.

Kan mestinya (landing) di ujung landasan. Mungkin salah perhitungan dia, dia paksakan turun akhirnya landing di 40 persen dari landasan, akhirnya terpaksa lompat-lompatan. Harusnya dia naik waktu itu.

Apa harapan Anda untuk Bareskrim ke depan?

Bisa menangani masalah dalam hal penegakan hukum, meningkatkan pelayanan masyarakat dalam penegakan hukum, menyelesaikan kasus tunggakan dan terus melaksanakan investigasi dugaan adanya tindak pidana yang dapat meresahkan masyarakat, mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan.

Anda asalnya dari mana?

Jawa. Lahir dan besar di Bogor. Sama dengan Pak Buwas, kami anak Bogor. Itu kebanggaan saya itu, wah orang Bogor kemarin Kabareskrimnya, kita orang Bogor. Jadi orang Bogor bisa bangga. Pak Buwas idola saya, dia hebat.

Akan meniru gayanya Pak Buwas?

Saya warnanya beda, enggak bisa mengikuti orang.

Kenapa mengidolakan Pak Buwas?

Dia sederhana, dia senior saya, baik sama adik-adiknya, ngajarinnya yang benar, kerja betul.
(idh/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed