DetikNews
2016/02/12 20:03:44 WIB

Wawancara

Kombes Krishna Murti: Kalijodo 'Dihantam' Tak Masalah, Nggak Ada Premannya Lagi

Mei Amelia R - detikNews
Halaman 2 dari 4
Kombes Krishna Murti: Kalijodo Dihantam Tak Masalah, Nggak Ada Premannya Lagi Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti. (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)


Kalijodo itu seberapa luas?

Sepanjang sungai saja, tapi tidak sampai semua. Dari sini Teluk Gong batasnya di utara, di barat Bandengan, di selatan ini ke arah Tanjung Duren, di sepanjang bantaran sungai situ saja. Kalau dari tol itu kelihatan Kalijodo itu. Jadi orang di situ senang, minum di situ, nyanyi. Kan ada kafe-kafe dangdut, tiap kafe punya penyanyi dangdut sendiri tapi ada 50-an kafe.

Orang boleh milih ke mana saja. Bukan lokalisasi juga, itu kafe. Kalau suka di atas ada kamar-kamar. Nah sekarang penertiban kan sudah dilakukan, sekali lagi ini kan penyakit masyarakat, ditekan muncul di tempat lain. Kalau mau ditertibkan, pertanyaan berikutnya sekarang yang di situ mau dikemanain kan ribuan orang dan sini. Dulu sudah dihantam, sudah habis, sudah dirapikan.

Ini dulu tanah kosong, tanah negara. Kebiasaan di Jakarta tanah kosong dikavling sama mereka. Dulu 40-50 tahun lalu. Tanah itu mereka tidak ada suratnya, semua bangunan permanen semua.

Bagaimana dengan kasus human trafficking?

Waktu saya ada nanganin. Kalau sekarang enggak ada. Tapi di situ ada simbiose semua. Mereka datang cari perempuan, perempuan-perempuan itu enggak punya uang datang, saya dong kerja di sini. Nongkrong saja nyari tamu. Syukur-syukur ada tamu kasih Rp 50 sampai 100 ribu. Jadi di mana saja ada di seluruh dunia di muka bumi itu ada yang kayak begitu. Yang penting kalau dari sisi keamanan aman nyaman.
Bahwa kemudian antara tamu dengan si cewek itu terjadi sesuatu kan itu diri mereka.

Nah bedanya dulu karena ada perjudian hukumnya hukum rimba, siapa kuat dia berkuasa. Dulu. Nah sekarang karena tidak ada perjudian, tidak ada pengamanan mereka tidak provide pengamanan.

Perputaran uangnya di situ berapa?

Bisa miliaran itu sebulan. Kalau sekarang tidak ada, kafe-kafe itu kan kecil. Perjudiannya tidak ada sama sekali sekarang. Saya kan sebulan lalu masuk sana. Undercover sendirian. Saya tahu, saya memantau. Saya duduk sampai jam 1 pagi duduk di situ, ada yang kenal saya sampai kaget-kaget. Bekas dedengkot sama warga situ. Bapak kan bekas Kapolsek dulu (tapi dia tidak tahu saya Dirkrimum). Iya saya pengin lihat kayak apa sekarang, dengerin dangdut-dangdut itu.  Tapi saya pengin tahu potensi kerawanan di situ sekarang seperti apa.

Jadi ini tidak termasuk potensi kerawanan tinggi (untuk sekarang ini). Bahkan beberapa tahun terakhir ini hampir tidak ada keributan di Kalijodo. Kalijodo itu kan ribut karena ada yang nabrak setelah minum di situ.

Sekarang pada ke mana dedengkot itu?
 
Sudah nah kayak yang nodong saya (baca: Kisah Kombes Krishna Murti Ditodong Pistol Preman di Kalijodo)

Sudah ditangkap, ditahan, sudah keluar. Dia kan punya kehidupan di situ ya dia kembali ke situ membangun bisnis kafe saja, tidak ada judinya. Karena kalau ada judinya harus ngasih uang makan pengamanan, nah dia tidak bisa kasih uang makan. Karena saya hantam kan judinya. Kalau kafe cuma bayar tempat murah, mereka dapat tip kalau nemenin tamu, cewek-cewek kalau ada yang datang dikoordinir, duduk saja di situ, urusannya sama tamu saya jual minuman. Enggak besar lagi.

Dulu koprok, judi puteran mesin terre ada bolanga ada pasang qiu-qiu. Orang kelas bawah datang, yang menang dikawal pulang, yang utang. Karena perputarannya besar, orang cari duit banyak.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed