Dirut AirNav Bicara Detik-detik AirAsia Hilang hingga Radar Singapura

Hardani Triyoga - detikNews
Selasa, 30 Des 2014 21:41 WIB
(gieeevent.jp)
Jakarta -

Kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 masih menjadi misteri penyebabnya. Namun, respons terakhir AirAsia yang hilang diketahui dari Air Traffic Control (ATC) Jakarta. Dirut AirNav Indonesia Bambang Tjahjono berbicara tentang detik-detik AirAsia hilang, padatnya lalu lintas udara yang ditangani ATC hingga wilayah udara Indonesia yang masih dikuasai Singapura.

"Ya sesegera mungkin. Jangan sampai kosong lama, kalau banyak pesawat dia kan harus standing separasi dulu, kan ada syarat-syaratnya," demikian kata Bambang saat ditanya adakah waktu minimal dan maksimal seorang petugas ATC yang harus merespons permintaan dari pilot pesawat.

Konsentrasi dan kesigapan itu diperlukan. Apalagi di ATC Cengkareng, Jakarta, lalu lintas pesawat sangat padat. ATC bisa melayani 72 pergerakan pesawat per jam.

"1.200 itu perhari termasuk take off landing. Ya, kalau perjamnya itu kalau Cengkareng itu bisa maksimum di rasio 72 pesawat per jam untuk movement. Kemudian kalau termasuk take off landing itu bisa 1.200 per hari," jelas dia.

ATC juga menjadi saksi detik-detik terakhir komunikasi pilot AirAsia QZ8501 sebelum hilang kontak. Berikut wawancara lengkap dengan Dirut Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (LPPNP) Indonesia atau biasa disebut AirNav Indonesia, Bambang Tjahjono, yang baru menjabat 12 Desember 2014 lalu ini di Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2014):

Dalam perbincangan dengan ATC bersama pilot AirAsia, apakah pilot menyebutkan alasan untuk menyimpang ke kiri?

Bilang, komunikasi. Alasannya karena cuaca.

Kemudian, menyimpang ke kiri yang dimaksud dalam obrolan itu benar diizinkan 7 mil jauhnya?

Ya, tujuh mil.

Kenapa diizinkan menyimpang 7 mil Pak?

Yah, karena yang tahu di situ kan penerbangnya. Tapi, kan pihak ATC-nya kan hanya memberikan saran agar di rute itu tidak bentrok dengan pesawat lain.

Terus, yang percakapan dengan ATC dengan pilot AirAsia itu, apakah pilot mengatakan untuk naik ke ketinggian 38 ribu kaki?

Enggak, dia enggak ngomong atau nyebut alasannya. Dia minta ketinggiannya saja.

Ditanya kan dia minta ingin naik level yang lebih tinggi. Terus kan ditanya sama ATC-nya kan di level berapa, terus di level 38 ribu, tapi 35 ribu ada pesawat Garuda, dia diminta untuk standby di 34 ribu.

Soal radar yang dimiliki ATC Jakarta apakah bisa pantau kondisi cuaca real time dengan memakai radar ADS-B? (Automatic Dependent Surveillance-broadcast/ADS-B atau teknologi surveillance adalah alat yang mampu menggantikan radar pada industri transportasi udara. ADS-B merupakan perubahan besar dalam filosofi surveillance, dari hanya menggunakan radar di darat mendeteksi pesawat terbang dan menentukan posisi mereka-red)

Sudah, sudah ADS-B kita.

Bukannya radar ADS-B juga berfungsi bisa memantau cuaca?

Kalau ADS-B itu adalah alat yang bersama-sama radar. Tapi, dia berbasis satelit. Jadi, dia enggak bisa pantau cuaca ya. Yang cuaca yang ada di pesawat itu.

Standarnya itu perlu waktu berapa lama kalau dari pilot setiap pesawat apapun meminta izin menyimpang. Misalnya permintaan mau turun atau naik hingga ATC bisa merespon cepat? Ada hitungan harus sekian detik atau menit?

Ya sesegera mungkin. Jangan sampai kosong lama, kalau banyak pesawat dia kan harus standing separasi dulu, kan ada syarat-syaratnya.

Kalau boleh tahu, berapa sih rata-rata yang di-handle ATC Jakarta per jamnya?

1.200 itu perhari termasuk take off landing. Ya, kalau perjamnya itu kalau Cengkareng itu bisa maksimum di rasio 72 pesawat per jam untuk movement. Kemudian kalau termasuk take off landing itu bisa 1.200 per hari.

Soal ATC, wilayah udara Indonesia di Natuna kan masih ada yang dikelola oleh Flight Information Region (FIR) Singapura? Bisa dipercepat masuk ke Indonesia?

Kalau dari undang-undangnya kan paling cepat 2024 (wilayah udara Natuna masuk ke FIR Indonesia). Kan kita terdepan, paling cepat 2019. Kami mulai tahun depan itu kami upgrade, kami akan pasang peralatan baru. Jadi kalau ada peralatan, kemudian yang baru bisa meng-cover. Paling lambat itu 2014 (up grade peralatan).

Selama ini kenapa sih wilayah Indonesia masih di-cover dari Singapura? Kendalanya apa?

Dari tahun 50-an, jadi Singapura saat itu sudah dianggap, ini kan masalah keselamatan penerbangan kan ya. Jadi, masalah keselamatan penerbangan tahun 1950-an itu kita baru, memang baru merdeka, dan itu sudah diserahkan ke Singapura. Nah, sekarang memang sudah diamanatkan dalam Undang-undang 1 nomor 99.

Jadi paling cepat kapan wilayah udara Natuna bisa diambil alih dari Singapura?

Ya paling cepat itu setelah 2019.

(hat/nwk)