DetikNews
Kamis 12 Desember 2013, 01:04 WIB

Mendikbud: Survei PISA Makin Memperkuat Pentingnya Kurikulum 2013

Septiana Ledysia - detikNews
Mendikbud: Survei PISA Makin Memperkuat Pentingnya Kurikulum 2013 Mendikbud M Nuh (dok.detikcom)
Bandung, -

Kemampuan matematika siswa-siswi Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara dalam survei Programme for International Study Assesment (PISA) di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD).

Mendikbud M Nuh mengatakan hasil survei ini justru menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 penting.

"Apa alasan kenapa kita lakukan perbaikan atau perombakan kurikulum baru, salah satunya kan (survei) PISA itu," kata Mendikbud ketika ditanya tanggapannya tentang survei PISA 2012.

Hal itu disampaikan Mendikbud usai meluncurkan program Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 di Aerowisata Grand Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/12/2013) malam.

"Jadi apapun yang dilakukan PISA, semakin memperkuat kenapa Kurikulum 2013 penting," jelas Mendikbud.

Berikut wawancara Mendikbud dengan wartawan

Survei PISA-OECD 2012, kemampuan matematika siswa Indonesia nomor 64 dari 65 negara di dunia, kemampuan membaca dan sainsya juga rendah, bagaimana tanggapan Bapak? Apa akan menambah bobot mata pelajaran itu di kurikulum sekolah, termasuk dalam UN?

Saya belum lihat (survei PISA). Ndak apa-apa. Jadi kan gini, dulu siapa pernah ikut sosialisasi kurikulum? Apa alasan kenapa kita lakukan perbaikan atau perombakan kurikulum baru, salah satunya kan (survei) PISA itu.

Jadi kalau kita bandingkan kuriklum yang ada di PISA yang diujikan dengan kurikulum kita sekarang, sekarang itu kan kelas 1 dan 2,3 masih KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), karena kurikulum 2013 masih 6-ribuan (sekolah) jadi masih kecil (sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013, red) itu.

Sehingga kalau ditanya jadi rendah ya wajar-wajar aja orang belum diajarkan. Tetapi kita bukan cari excuse (pembenaran) namun perbaikan tetap kita lakukan terus menerus, intinya di situ. Jadi apapun yang dilakukan PISA, semakin memperkuat kenapa Kurikulum 2013 penting.

Survei PISA-OECD 2012, siswa Indonesia paling bahagia di sekolah, peringkat 1 dari 65 negara. Peringkat siswa bahagia di sekolah berbanding terbalik dengan kemampuan matematika siswa. Ada 3 negara kemampuan matematika terendah tapi peringkat atas paling bahagia di sekolah: RI, Peru dan Kolombia. Bagaimana tanggapan Bapak?

Kita matematika naik 26 poin walaupun peringkatnya turun. Tetapi dari sisi poin numeric-nya lain. Artinya negara lain naiknya lebih cepat. Kalau pakai dasar rangking. Rangking aja tidak cukup tapi harus ada numeric-nya. Saya bacanya itu paling memperkuat pentingnya Kurikulum 2013. Karena pendekatan beda, insya allah lebih bagus. Termasuk pendekatan ke matematika.

UN SD dihilangkan, diganti Ujian Sekolah (US), bagaimana nanti proporsinya nilainya? Kalau UN SMP dan SMA, nilai kelulusan ditentukan 60% nilai UN dan 40% nilai rapor, kalau US SD bagaimana proporsi nilainya?

Jadinya Ujian Sekolah. Jadi begini, kalau UN ditiadakan bukan berarti tidak ada evaluasi, nggak ada ujian. Tetap ada ujian, tapi ujianya diserahkan ke provinsi. Jadi yang menyelenggarakan provinsi. Selama ini begitu UN SD selama ini yang menyelenggarakan provinsi. Nah, sekarang kita pertegas bahwa SD/MI itu provinsi (yang menyelenggarakan US).

Tapi 25 persen proporsi soal dari pusat (Kemendikbud) untuk apa? Untuk jangkar sebagai referensi membandingkan melalui 25 persen itu antara kualitas provinsi A dan provinsi B. Kemudian, kisi-kisinya tetap dari pusat dibantu dengan kamar yang 25 persen itu diselenggarakan oleh provinsi tapi tetap bisa membandingkan satu dengan lain.

Proporsi nilainya seperti apa?

Saya nggak hafal. Tapi kalau SMkan 40 persen nilai rapor, 60 persen nilai UN

Nilai US SD bisa dipakai untuk seleksi masuk ke SMP atau harus tes lagi?

Mengapa ada jaring (25 persen proporsi soal dari Kemendikbud, red) tadi itu, kisi-kisi tadi itu? Supaya nanti ada kesetaraan, bisa dipakai untuk jenjang lebih tinggi. Jadi UN SD atau ujian sekolah yang nanti bisa dipakai untuk seleksi ke atas.

Bagaimana dengan bahasa Inggris yang tidak wajib lagi di SD?

Sejak dulu memang tidak diwajibkan. Bukan dihapus jadi nggak ada. Tapi kalau nggak mau masukan bahasa inggris, tidak apa-apa.

Sistem seleksi SNMPTN 2014 masih memakai nilai rapor dan UN atau seleksi dengan tes?

Ya, pola penerimaan mahasiswa baru PTN 2014, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) berdasarkan prestasi akademik siswa (rapor, hasil UN, dan prestasi lain). Biaya ditanggung pemerintah, minimal 50 persen kuota daya tampung setiap PTN/prodi (program studi).


(nwk/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed