detikNews
Kamis 20 Januari 2011, 10:25 WIB

Pramono Anung: Citra Tanpa Kerja Pasti Ditinggalkan Rakyat

- detikNews
Pramono Anung: Citra Tanpa Kerja Pasti Ditinggalkan Rakyat
Jakarta - Mantan Sekjen PDI Perjuangan, Pramono Anung Wibowo, mendapat penghargaan Charta Politika Award 2010 untuk kategori politisi parpol oposisi yang paling berpengaruh di media selama 2010. Meski menjadi politisi opisisi terpopuler, Wakil Ketua DPR ini tetap menganggap citra bukanlah segalanya.

\\\"Saya menyakini politisi yang hanya menjaga citra tanpa melakukan kerja nyata dan memenuhi janji yang dibuatnya, pasti suatu hari akan ditinggalkan konstituennya yang kecewa karena politisi tersebut hanya sibuk menjaga citranya,\\\" kata Pramono usai acara pemberian penghargaan di Hotel Nikko, Jl MH Thamrin, Rabu (19\/1\/2011) malam.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Pram, sapaan akrabnya, yang kini sedang mengambil program doktor Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Padjadjaran:

Anda mendapat Charta Politika Award 2010 untuk kategori Politisi Parpol Oposisi Berpengaruh di Media Tahun 2010. Apa makna penghargaan itu buat Anda?<\/strong>

Penghargaan tentunya merupakan apresiasi masyarakat tentang apa yang sudah kita perbuat dan lakukan. Saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan mengharapkan penghargaan, tetapi bila kita mendapatkan apresiasi tentunya hal yang postif bagi diri saya karena ternyata publik menghargai terhadap apa yang sudah kita lakukan dan sekaligus menjadi tantangan agar kepercayaan publik selalu dapat kita jaga.

Apa makna komunikasi politik buat Anda?<\/strong>

Komunikasi politik adalah aktivitas komunikasi yang sarat akan tujuan. Aktivitas yang dimaksud tidak hanya berbentuk komunikasi verbal dan tertulis, tetapi juga melibatkan simbol-simbol non verbal seperti warna pakaian, rias wajah, gaya rambut, desain simbol, logo dan sebagainya. Dengan kata lain, identitas atau citra politik turut berperan dalam komunikasi politik.

Dalam komunikasi politik dituntut bagaimana seorang politisi dapat menyampaikan ide, gagasan, dan pemikiran  kepada publik dan tentunya mengharapkan publik dapat terpengaruh dan mengikuti apa yang menjadi keinginan komunikator. Dalam negara demokrasi, komunikasi politik menjadi hal yang penting karena sebuah ide atau gagasan tidak hanya harus baik tetapi bagaimana disampaikan secara baik melalui media massa yang baik juga menjadi hal yang penting.

Banyak yang berpandangan komunikasi politik justru memberi jarak pada esensi politik itu sendiri (kerja untuk rakyat), karena bisa terjebak pada pencitraan dan sebagainya. Tanggapan Anda?<\/strong>

Dalam demokrasi dan era keterbukaan publik  yang menuntut adanya citra yang baik dari seorang politikus, menuntut seorang politikus untuk bisa memerankan citra yang baik dalam setiap panggungnya, sehingga ada perbendaan antara panggung depan, yang berhubungan langsung dengan aktivitas politiknya dan panggung belakang, realita kehidupan kesehariannya.

Sekarang ini banyak politisi yang terjebak untuk memainkan peran dramaturgis, itu menurut Erving Goffman, yaitu dengan baik memerankan panggung depannya tetapi mengabaikan kerja nyata bagi masyarakatnya. Saya menyakini politisi yang hanya menjaga citra tanpa melakukan kerja nyata dan memenuhi janji yang dibuatnya, pasti suatu hari akan ditinggalkan konstituennya yang kecewa karena politisi tersebut hanya sibuk menjaga citranya.

Anda sedang mengambil program doktoral bidang komunikasi politik di Universitas Padjadjaran. Apa itu mempengaruhi Anda dalam berkomunikasi praksis sebagai politisi sehingga meraih penghargaan?<\/strong>

Saya sedang mengambil doktor Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Padjadjaran, tentunya banyak hal yang berpengaruh dalam cara pandang saya terhadap komunikasi politik walau selama ini sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang dijalani. Sebagai politikus saya merasa dengan pengetahuan secara teoritis yang lebih baik dan mendalam akan sangat membantu dalam melakukan komunikasi politik.  

Menurut Anda, apa keuntungan dan kerugian menjadi politisi dari parpol oposisi, terkait dengan komunikasi politik yang Anda lakukan?<\/strong>

Dalam demokrasi memerlukan adanya check and balances<\/em>. Sebagai partai di luar pemerintahan terdapat kerugian terutama menyangkut akses kepada pusat-pusat kekuasaan, terutama yang menyangkut akses ekonomi sehingga seringkali menyulitkan partai untuk bisa menjalankan roda organisasinya karena terbentur masalah pembiayaan dan kurangnya proses pembelajaran bagi kader untuk bisa memimpin secara langsung dipemerintahan.

Keuntungannya adalah lebih dekat dengan publik dan rakyat, karena setiap waktu bisa menyalurkan dan menyampaikan apa yang menjadi aspirasi atau keinginan rakyat dan bisa membuat tawaran alternatif kebijakan yang berbeda dengan apa yang menjadi kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa.

Kalau harus memilih salah satu: \\\'menjadi populer tapi minim kerja untuk rakyat\\\' atau \\\'tidak populer tapi maksimal kerja untuk rakyat\\\', mana yang Anda pilih?<\/strong>

Tentunya secara lugas saya akan memilih menjadi \\\"tidak populer tapi maksimal kerja untuk rakyat\\\", sebab tujuan utama saya terjun menjadi politikus adalah untuk bisa berbuat sesuatu yang nyata bagi masyarakat.

Dengan latar belakang anak guru SMA di Kediri, dengan 7 bersaudara, saya mengalami dan mengetahui beratnya kehidupan di masyarakat, sehingga perlu ada politisi atau pemimpin yang sungguh-sungguh bersedia dan mau bekerja untuk rakyat secara nyata, tidak sibuk dengan kepentingannya sendiri, terutama dalam menjaga citranya.



(lrn/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed