29 Tahun Teliti Lebah untuk Ketahanan Pangan, Sih Kahono Terus Belajar

Salmah Muslimah - detikNews
Rabu, 24 Sep 2014 18:10 WIB
Jakarta - Berbaju batik cokelat merah, peneliti dari LIPI itu terlihat bersemangat menjelaskan tentang lebah kepada salah satu pengunjung yang hadir di acara 'Bioresources LIPI Expo'. Sesekali tangannya menunjuk pada kotak kaca yang berisi sarang lebah, ratu dan prajurit lebah yang sudah dibekukan.

Dia adalah Sih Kahono (55), seorang peneliti lebah dari pusat penelitian Biologi LIPI. Sudah 29 tahun dia menjadi peneliti serangga. Pria asal Klaten ini mengaku sangat mencintai pekerjaannya. Bahkan dia ingin agar seluruh waktunya bisa digunakan untuk belajar dan memberi pelajaran tentang hewan bertubuh kecil itu.

"Sampai sekian lama saya menjadi peneliti, saya merasa belum banyak melakukan apa-apa," kata Kahono kepada detikcom di stand pameran Bioresources di Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/9/2014).

Pria kelahiran 16 Mei 1959 itu memang sangat mencintai serangga. Baginya, bekerja adalah sebuah hobi yang menyenangkan. Namun begitu, Kahono juga pernah mengalami hal menyedihkan, yaitu disengat lebah sampai bengkak.

Saat itu di Ciomas, dia bersama dengan 2 orang temannya dan warga lokal ingin mencari sarang lebah liar di hutan. Setelah berjalan masuk ke hutan mereka menemukan sarang lebah besar menggantung di atas pohon. Si penduduk lokal yang bertugas mengambil lebah tersebut menginjak batang yang tertempel sarang lebah, karena tak kuat, akhirnya batang tersebut patah.

"Pas jatuh isinya sarang itu kan lebah yang besar-besar, terus kita dikejar lebah. Akhirnya pada bentol-bentol mukanya, teman saya kepalanya sampai pada bulet bengkak dan pusing. Kalau saya hanya bengkak saja di punggung," kenang Kahono sambil tertawa.

Namun hal tersebut tak membuat dia kapok. Kahono malah semakin rajin bergelut dengan lebah. "Saya ingin terus belajar," ucapnya.

Terkait soal penelitiannya Kahono mengatakan lebah bukan saja bermanfaat madu dan sarangnya, namun lebah juga bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan nasional. Nah kok bisa?

Kahono menjelaskan lebah madu itu menghasilkan produk bermacam-macam seperti produk madu, propolis (campuran getah tumbuhan yang diambil lebah dicampur air liur dan dibawa untuk membangun sarang), dan pollen.

Lebah bisa memberikan layanan kepada lingkungan seperti membantu penyerbukan tumbuhan. Jika populasi lebah berkurang maka penyerbukan otomatis akan terganggu dan tanaman tidak akan tumbuh dan berbuah dengan baik.

"Kalau lebah datang ke tumbuhan pertanian misal ke tomat, strawberi, apel, anggur maka akan menghasilkan panen yang bagus. Buah hasil penyerbukan lebah, hasil buahnya lebih bagus, ukuran lebih besar. Kalau pada tomat, vitamin C lebih banyak dan tidak berongga di dalamnya," jelas ayah 1 anak ini.

Sayangnya saat ini produk pelebahan (madu, pollen, propolis dan lilin) menurun karena perubahan iklim, bencana dan kerusakan habitat. Untuk mengatasi hal ini harus ada langkah pengembangan jenis lebah lokal yang bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan tadi. Misalnya setiap daerah harus memberdayakan dan mengembangkan lebah jenis lokal yang lebih kuat dan bisa beradaptasi terhadap perubahan iklim.

"Padahal setiap daerah memiliki jenis-jenis lebah yang memiliki potensi untuk menghasilkan produk-produk perlebahan untuk ketahanan pangan nasional. Namun sayang saat ini belum diberdayakan dan dikembangkan," ucap Kahono.

Lulusan S3 Ekologi Serangga di Jepang ini mengatakan harus ada pemanfaatan dan pengembangan spesies lebah liar lokal yang unggul untuk meningkatkan produksi pangan. Karena menurutnya lebah lokal lebih tahan terhadap perubahan iklim sehingga cocok untuk dibudidayakan. Setelah budidaya berhasil, lebah tersebut bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan frekuensi produksi pertanian.

"Lebah liar tadi ditaruh di dekat perkebunan agar proses frekuensi penyerbukan lebih banyak. Sehingga produksi pertanian yang dihasilkan juga bisa meningkat," jelasnya lulusan Biologi UGM ini.

LIPI sendiri akan membuat Biovillage LIPI di tahun 2015 mendatang. Di sana merupakan tempat mengembangkan model perlebahan yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, ekoturisme dan meningkatkan produksi lebah. Lokasinya berada di Cibinong. Siapapun yang ingin tahu soal lebah bisa berkunjung ke sana.

(slm/nwk)