DetikNews
Senin 10 Agustus 2015, 12:24 WIB

Sepak Terjang Anton Lucanus Sang Ilmuwan Australia untuk Sains Indonesia

Nograhany Widhi K - detikNews
Sepak Terjang Anton Lucanus Sang Ilmuwan Australia untuk Sains Indonesia Foto: dokumentasi pribadi Anton Lucanus
Jakarta - Meski sempat menjadi figuran di film biopik Tjokroaminoto dan beberapa kali ditawari main film, perhatian utama Anton Lucanus (21) tetaplah pada bidang riset. Saking perhatiannya dia mendirikan situs www.neliti.com. Situs ini bertujuan untuk menjadi data base hasil riset para ilmuwan Indonesia yang bisa diakses gratis.  
 
"Aku kerja sebagai scientist di Jakarta dan selalu coba cari informasi penyakit tertentu di Indonesia. Dan ternyata informasi itu sangat susah ditemukan, kebanyakan informasi itu ternyata ada di kampus, di badan kesehatan. Di internet sangat susah ditemukan, aku cuma bikin sendiri, www.neliti.com, supaya bisa dapat semua informasi data penelitian di satu situs begitu," jelasnya pada detikcom pada Jumat (7/8/2015). 
 
Situs ini didirikannya pada April 2015 bersama dengan beberapa koleganya, dengan 2 editor, termasuk dirinya. Hingga kini ada 150 orang master yang meng-upload risetnya di neliti.com.  
 
"Kami akan terus menyempurnakan situs ini sampai menjadi situs besar. Kami ingin ini menjadi situs untuk peneliti agar bisa berjejaring dengan peneliti lain di universitas di Indonesia," tutur pria yang meneliti soal virus demam berdarah dengue dan chikungunya di Lembaga Eijkman, Indonesia ini.
 
Ilmuwan bisa meng-upload dan men-download hasil riset dengan gratis di sini. Tak ada biaya dikenakan.  
 
"Mengupload dan meng-download gratis. Tujuannya memperbaiki sektor riset di Indonesia, tidak mau charge. Saya tahu kendala riset di sini adalah dana. Peneliti di Indonesia dana dan gajinya rendah," tuturnya.
 
Namun, bila hasil riset itu hendak diajukan ke jurnal ilmiah internasional, maka ada biaya jasa mulai konsultasi hingga penerjemahan.  
 
"Tapi iya, penerjemahan ada biaya. Servis ini bukan hanya penerjemahan. Kami membantu para peneliti Indonesia menerbitkan makalah mereka di jurnal international yang terkenal," jelas dia.  
 
Sejauh ini, papar dia, ada 2 kelemahan utama dari hasil riset ilmiah ilmuwan Indonesia, yakni kualitas dan bahasa.  
 
"Banyak orang pintar, metodenya baik, hasilnya baik tapi nggak tahu cara menulis makalah ilmiah yang baik. Kemudian masalah bahasa, kalau jurnal ilmiah dalam bahasa Indonesia, tidak dibaca oleh scientist luar negeri. Satu masalah lagi, jurnal ilmiah Indonesia tidak terindeks di data base besar riset dunia," jelasnya.  
 
Dalam mengelola situs itu, Anton juga menjadi editor, dibantu editor lain hanya sanggup meng-upload satu makalah ilmiah per hari. Pasalnya, karya ilmiah juga perlu diteliti kualitas dan orisinalitasnya untuk mencegah karya plagiat.  
 
"Pertama, kami memastikan sumber yang baik. Kalau jurnal jalur internasional, ya pasti tidak plagiat. Kalau tak dalam jalur internasional tidak kami upload dulu. Sebelum kita menerbitkan, kami cek semua sumber untuk mencegah plagiat," tuturnya.
 
Selain menjadi pusat data base karya ilmiah, situs neliti.com juga menyediakan informasi beasiswa dan informasi kerja.  
 
"Aku hanya mau membantu mau pakai kemampuanku membantu negara Indonesia," jelas dia.


(nwk/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed