DetikNews
Selasa 19 Juni 2012, 16:59 WIB

Oskar Riandi dan Teknologi untuk Bahasa Indonesia

- detikNews
Oskar Riandi dan Teknologi untuk Bahasa Indonesia
Jakarta - Menyaksikan manusia berdialog dengan robot menggunakan bahasa Inggris di layar kaca, membuat seorang anak lelaki tertegun. Kagum. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Beruntung, anak ini tak pernah tahu bahwa itu trik kamera dan editing, sehingga mimpi bisa bicara dengan robot tetap tertanam dalam benaknya.

Kini, 40 tahun kemudian, dia berhasil membuat orang bicara dengan robot. Lebih canggih dari yang dia tonton dulu, karena robotnya paham bahasa Indonesia! Oskar Riandi, bocah kecil itu, telah \\\'berubah\\\' menjadi pencipta robot.

Robot buatan Oskar bukan mesin yang bergerak, tetapi mesin pemikir. Mesin yang dengan tekun mencatat kata demi kata untuk langsung ditampilkan di layar komputer. Ide awalnya sederhana tetapi mulia, yaitu bagaimana agar saudara-saudara kita yang mempunyai keterbatasan fisik dapat turut menikmati kemajuan teknologi komputasi.

Sebagai karyawan BPPT, Master Information Science dari Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) dengan spesialisasi Pemrosesan Suara ini mengajukan proposal risetnya untuk didanai Pemerintah (DIPA) pada tahun 2006. Proposalnya ditolak karena prioritas pendanaan saat itu untuk bidang lain, sementara jumlah dana tersedia terbatas.

Oskar paham prioritas pemerintah, tetapi dia juga yakin bahwa penelitiannya akan bermanfaat suatu saat nanti. Tak putus asa, dia pun menawarkan topik ini kepada Telkom RDC untuk dibiayai melalui skema grant research Asia Pasific Telecommunity. Diterima. Dan penelitian selama 6 bulan menghasilkan IGOS Linux Voice Command (ILVC). Murid-murid SLB Cicendo Bandung sudah merasakan manfaatnya.

Keberhasilan membuat sistem pengenal wicara bahasa Indonesia ini membuat Oskar bersemangat. Dia mengembangkan ILVC menjadi LiSan, Linux dengan liSan, pada tahun 2008. Sistem aplikasi ini lebih komprehensif. Penyandang cacat tak sekadar dapat mengoperasikan komputer, tetapi juga dapat membuat dokumen, menulis email, atau membuat status di Facebook, dengan suara mereka.

Menggunakan headset dan mic yang dihubungkan ke komputer, kita cukup bicara, dan LiSan akan menjadi asisten kita dengan menuliskannya di layar monitor. Kegiatan yang tampak sederhana ini memerlukan kerja keras. Tak sekadar menyiapkan sistem komputasinya, tetapi Oskar harus memenuhi database selengkap mungkin. Merekam sebanyak-banyaknya kata-kata dalam bahasa Indonesia, dengan berbagai variasi dialek dan intonasi. Sistem yang dibuat harus sensitif terhadap perbedaan-perbedaan itu.

Terwujudnya suatu ide, akan memunculkan ide lain. Begitu pula yang dialami pria kelahiran Cirebon, 25 Juli 1967 ini. Terpikir olehnya untuk membuat sistem aplikasi sub-titleing dari berita TV. Tujuannya, agar mereka yang tuna rungu dapat juga mengikuti berita secara real time. Kembali, pendanaan menghalangi, sehingga ide ini tak terwujud. Tetapi, berulang juga, inovasi tak terhenti. Penelitian tetap dilakukan dan menghasilkan Sistem Ikhtisar untuk Dokumen Bahasa Indonesia atau SIDoBI.

Keberhasilan LiSan pun menggiring Oskar untuk menyederhanakan pembuatan notulen rapat. Biasanya, notulis membuat risalah pertemuan dengan melakukan transkripsi dari rekaman. Ini membutuhkan waktu. Memecah rekaman menjadi beberapa bagian dan ditranskripsikan banyak notulis, solusinya selama ini.

Oskar mencoba menyederhanakan pembuatan risalah rapat, cukup mempercayakan kepada sistem. Selain memperbesar kapasitas kerja dari LiSan, Perisalah ini juga melepas penggunaan atribut. Peserta rapat tak perlu menggunakan headset. Mereka rapat biasa saja, cukup menggunakan mike yang tersedia di ruang rapat seperti biasa. Sistem Perisalah akan melakukan pencatatan secara lengkap dan terurut, tepat, mudah, aman, dan langsung terpampang di monitor ruang rapat saat itu juga.

Perjuangan panjang yang berbuah manis. Setelah ILVC menjadi nominator ICT Award untuk kategori RND pada tahun 2008, LiSan, SIDoBI, dan Perisalah termasuk 3 dari 101 Inovasi Indonesia Paling Prospektif yang diselenggarakan Kementrian RISTEK dan Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2009.

Setelah lulus SMAN 1 Cirebon tahun 1986, Oskar menjadi PNS bersamaan dengan diterimanya beasiswa dari BPPT untuk kuliah S1 di Universitas Waseda, Jepang. Kembali ke Indonesia tahun 1992, tak mudah situasi yang dihadapi. Perbedaan iklim kerja dan fasilitas, serta iming-iming kenyamanan hidup dari berbagai perusahaan swasta di dalam maupun luar negeri, sempat mengganggu konsentrasi. Tetapi, kembali kepada ajaran kuat yang dipegangnya sejak kecil atas sesuatu yang bernama komitmen, Oskar bertahan.

Sebelum kuliah, dia sudah menandatangani akad dengan negara. Dia sangat paham, akad harus ditepati. Berguru kepada sang ayah yang memulai karir dari bawah tapi selalu bekerja sepenuh hati, Oskar bertekad melewati semua tantangan dan godaan ini.

Ketekunan dan kesungguhan memberi hasil istimewa. Tahun 2010 Oskar panen penghargaan. Bulan Mei menjadi salah satu PNS berkinerja terbaik tingkat Nasional, setelah sebelumnya mendapat kenaikan pangkat luar biasa. Bulan Agustus mendapatkan Ristek Award untuk kategori Teknologi Inovatif. Dan pada HUT RI ke-65 mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI.

Suami Erni Haryani ini mengungkapkan bahwa ini bukan prestasinya seorang diri. Selain istri dan ketiga anaknya, Amira Zalikha (13), Rania Zhafirah (6), dan Sayyid Ahmad (4) yang selalu mendukung, tim di belakang layar justru paling layak mendapat apresiasi. Mereka adalah para peneliti di BPPT. Motivasi memberi yang terbaik dan dedikasi berbuat untuk negara, itu saja yang mendasari kerja keras mereka.Yang menarik, mereka tidak merasa perlu penghargaan.

Beberapa orang saja yang mau diangkat namanya, sebagian yang lain memilih tetap seperti adanya. Sebagai atasan, Oskar justru merasa semakin bertanggung jawab untuk menciptakan iklim riset dengan diiringi penghasilan yang kondusif bagi mereka. Diantaranya dengan cara komersialisasi hasil riset. Dalam arti, memikirkan implementasi riset, menjalin kemitraan dengan industri, dan melakukan riset yang memang ada yang memerlukannya.

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membuahkan Paten Perisalah pada 28 Maret 2011. Oskar mempunyai hak paten atas Sistem Penghasil Risalah dan Ringkasan Risalah Pertemuan. Hak paten ini membuka jalan lain yang lebih luas. Industri berkenan menjadikannya produk komersial. Berbagai institusi negara kini telah menggunakan Perisalah.

8 Mei 2012 lalu, penghargaan nasional dari Menkum HAM diterima dalam rangka perayaan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia ke-12. Oskar menerimanya di Istana Wapres bersama-sama dengan 12 penerima penghargaan lain dari berbagai kategori, di antaranya Ary Ginanjar atas ESQ-nya, Hendy Setiono dengan Kebab Turkinya, Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya, dan Agnes Monica sebagai Duta HAKI.

Penghargaan tak membuat Oskar berhenti. Sampai tahun 2014, ia masih akan mengutak-atik sistem transkripsi otomatis agar bisa melakukan transkripsi berbagai bahasa. Selain itu, mengembangkan cloud computing, yaitu mentranskripkan file rekaman suara atau perkataan orang dari tempat yang jauh tapi komputernya terhubung ke sistem. Dan yang paling menarik untuk para wartawan, sedang dikembangkan sistem ini untuk mobile, berbasis operator seluler. Wartawan nantinya cukup mewawancara sambil mengaktifkan ponsel. Operator seluler akan mentranskripkan, dan mengirim hasilnya sebagai email kepada sang pemilik nomor.

Mengapa Oskar begitu bersemangat memikirkan berbagai fasilitas teknologi untuk bahasa Indonesia? \\\"Bahasa ini unik,\\\" ujarnya, \\\"Bahasa Indonesia adalah milik kita, bangsa Indonesia. Kita yang harus menjaganya, dan kita yang paling paham penggunaannya. Maka, penguasaan teknologi tak sekedar penting, tapi mutlak. Riset komputasi bahasa harus dilakukan secara gencar, gegas, dan aplikatif.\\\"




(vit/vit)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed