DetikNews
Senin 02 Mei 2011, 17:04 WIB

Asep Kambali, Belajar Sejarah Lewat \'Night at The Museum\'

- detikNews
Asep Kambali, Belajar Sejarah Lewat \Night at The Museum\
Jakarta - Anda tahu \\\'Night at The Museum\\\'? Agaknya film yang dibintangi Ben Stiller ini menginspirasi Asep Kambali untuk mengajak publik belajar sejarah. Mau ikut?

Asep Kambali adalah pegiat komunitas pencinta sejarah. Dia menggagas Komunitas Indo
Historia sejak 2003. Kendati aktif dalam kegiatan itu, siapa sangka kalau semasa
sekolah Asep tidak suka pelajaran sejarah.

\\\"Dulu saya nggak suka sejarah. Tapi nilai sejarah saya malah bagus. Saya biasa dapat nilai 8, 9, 10. Bagi saya waktu itu, sejarah itu gampang,\\\" ujar Asep saat berbincang dengan detikcom, pekan lalu.

Kecintaannya pada sejarah muncul selepas pria kelahiran Cianjur, 16 Juli 1980 ini lulus SMA. Kala itu, dia mengikuti kesempatan kuliah di perguruan tinggi negeri melalui Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Beberapa siswa SMA-nya yang memiliki
kesempatan itu dikumpulkan di salah satu tempat.

Asep remaja ingin masuk ke Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta. Ternyata, saingannya banyak. Banyak siswa yang mengacungkan jari ketika ditawari masuk ke Sastra Inggris. Sedangkan sejarah? Tidak ada yang angkat tangan. Karena sepi peminat, Asep pun memutuskan untuk masuk ke Jurusan Sejarah.

\\\"Banyak orang nggak suka sejarah salah satunya karena faktor guru. Dan saya jadi suka sejarah karena tuntutan, karena mahasiswa jurusan sejarah dan jadi ketua himpunan mahasiswa. Kelak saya pun ingin bisa jadi \\\'guru\\\' yang membuat orang menyukai sejarah,\\\" tutur pria berkacamata ini.

Pada 22 Maret 2003, Asep dan 6 orang lainnya mendirikan Komunitas Historia Indonesia.
Komunitas ini terbentuk dari diskusi-diskusi ringan sesama mahasiswa sejarah. Mereka
putar otak untuk mengajak masyarakat lainnya bergabung dengan mengedepankan edukasi, rekreasi dan entertainment.

\\\"Rekreasi itu proses studi empirik, dengan memberikan rekreasi empirik, pengalaman langsung pada publik sehingga lebih memahami dan melekat. Mengunjungi situs sejarah
lebih bisa melekat ketimbang baca buku. Meskipun itu menjadi tahapan terakhir,\\\" ucapnya.

Sedangkan edukasi lebih menanamkan sikap dan tindakan. Dalam edukasi, penting dipikirkan bagaimana membangun kesadaran pemuda Indonesia tentang bangsa dan
sejarahnya. Misalnya saja, menyadari bahwa dirinya tinggal di suatu negeri yang memiliki belasan ribu pulau.

Menurut Asep, kesadaran kognitif (berkaitan dengan pengetahuan) sangat perlu diberikan. Sehingga selanjutnya, bisa ditanamkan kesadaran afektif (membangun sikap). Ketika memiliki kesadaran afektif, tentu anak akan bereaksi ketika gedung tua yang menjadi bagian dari sejarah bangsa dihancurkan.

\\\"Afektif ini juga bisa menjadi langkah selanjutnya setelah anak-anak mendapat
pengetahuan tentang sejarah. Misalnya mereka jadi pergi ke perpustakaan untuk
meneliti. Kesadaran sejarah ini bermuara pada nasionalisme,\\\" jelasnya.

Kini, anggota Komunitas Historia Indonesia sudah hampir 17 ribu. Umumnya mereka
berusia 17-35 tahun dan tersebar di berbagai daerah, dan bahkan ada yang berada di
luar negeri. Di setiap kegiatan yang digelar komunitas ini, tidak jarang anak-anak SD turut serta.

Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah \\\'night at the museum\\\', menyitir judul film komedi Hollywood. Dalam acara itu, ada beberapa anak yang ikut serta dan antusias mengikuti tur museum di malam hari. Berjalan-jalan di museum kala malam menjelang memang memberikan sensasi tersendiri.

\\\"5.000 Bayi di Indonesia selalu lahir. Kalau mereka tidak dibangun, maka nantinya
mereka yang akan menghancurkan bangsa ini. Jika mereka tidak memiliki pendidikan dan
kesadaran sejarah, maka merekalah yang akan menjadi penghancur gedung tua. Mereka
akan tumbuh menjadi orang yang hedonis, materialistis dan individualis,\\\" papar Asep.

Bila Anda berniat mengikuti kegiatan komunitas ini, bisa menghubungi e-mail komunitashistoria@yahoo.com. Atau bisa juga menjadi pengikut di twitter @IndoHistoria. Mailing list bisa diikuti melalui http:\/\/groups.yahoo.com\/group\/komunitashistoria. Atau bisa juga mengunjungi situsnya di http:\/\/www.komunitashistoria.org

Salah satu dari 45 figur Inspiratif versi harian Kompas Juli 2010 ini yakin, kegiatan pendalaman sejarah seperti yang dilakukan komunitasnya bisa menjadi penangkal gerakan radikalisme yang kembali mencuat belakangan ini. Pendalaman sejarah membuatnya yakin, para pemuda tidak akan terpengaruh pada matrealisme, pragmatisme, hedonisme, maupun radikalisme.

\\\"Penjajahan gaya baru yang dilakukan negara lain tidak akan mudah dilakukan karena generasi mudanya kuat,\\\" ucap pria yang pernah meraih Indonesia Berprestasi Award
2008 yang diselenggarakan XL dan Depkominfo ini.

Upaya Asep yang dilakukan selama ini tidak berlebihan. Inilah kontribusinya untuk menjaga hilangnya Indonesia. Bukankah untuk menghancurkan suatu bangsa bisa dilakukan dengan menghancurkan ingatan sejarah generasi muda?




(vit/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed