DetikNews
Jumat 29 Oktober 2010, 09:05 WIB

Walikota Yogya Herry Zudianto Suka Jadi Pelayan

- detikNews
Walikota Yogya Herry Zudianto Suka Jadi Pelayan
Jakarta - Pengusaha batik. Embel-embel itulah yang melekat pada sosok Herry Zudianto sebelum dia menjadi Walikota Yogyakarta. Sejak menjadi pengusaha hingga menjadi orang nomor satu di Kota Yogya, Herry tidak berubah, selalu melayani orang lain.

\\\"Entrepreneur itu jiwanya melayani, memuaskan pelanggan. Saat jadi walikota paradigmanya sama. Kekuasaan itu bukan penguasaan politik tapi wakaf politik. Jadi bukan untuk jadi penguasa tapi untuk jadi pelayan,\\\" ujar Herry yang bersama dengan jajaran Pemkot Yogyakarta meraih penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award (BHAA) 2010.

Demikian disampaikan Herry sebelum pemberian BHAA di Gedung Graha Niaga, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (28\/10\/2010).

Kepada jajaran Pemkot Yogya, dia menanamkan sikap \\\'saiyeg sak eko kapti\\\' (bersatu dalam cita), \\\'saiyeg sak eko proyo\\\' (bersatu dalam karya) dalam melakukan reformasi birokrasi dan mewujudkan pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Visi itulah yang dikedepankan Herry.

Bukan persoalan gampang memang dalam menyatukan visi dari banyak kepala. Namun dia berupaya keras untuk menyamakan visi. Karena seperti halnya memegang pisau, visi pemegangnya harus jelas agar tindakan yang diambil juga jelas.

\\\"Visinya memasak, maka pisau digunakan untuk memotong tomat, sayur. Kalau visinya membunuh ya bedanya lagi. Karena itu, visi itu penting,\\\" ucap pria berkaca mata yang suka menonton film ini.

Bagi Herry, posisi walikota bukanlah strata sosial yang akhirnya menjadikannya berpikir \\\"I\\\'m the boss.\\\" Namun sejak menjadi Walikota Yogya pada 2001 dan berlanjut pada periode selanjutnya, dia menanamkan paradigma sebagai kepala pelayan masyarakat Kota Yogya.

\\\"Saya bukan boss tapi dirigen yang membutuhkan harmoni, dukungan dari para pemegang alat musik lainnya, dari semua,\\\" sambung jebolan MM UII yang suka main ketoprak ini.

Jika untuk melayani masyarakat, Herry siap memberikan 7 hari dalam seminggu, dan 24 jam dalam sehari. Dia berharap setelah dia menyelesaikan masa kepemimpinannya yang menyisakan satu tahun lagi, visi melayani masyarakat yang ditanamkan tidak hilang.

\\\"Pemimpin bisa datang dan pergi, tapi organisasi tetap berlangsung,\\\" ucap Herry.

Herry Zudianto lahir di Yogyakarta pada 31 Maret 1955. Dia menikahi Dyah Suminar dan dikaruniai tiga anak. Dia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Teknik UGM namun hanya 2 semester. Setelah itu Herry mengambil jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi UGM. Selanjutnya dia menempuh S2 di Magister Manajemen UII Yogyakarta.




(vit/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed