"Pengelolaan suporter sepakbola harus melibatkan tiga pihak sekaligus yakni organisasi suporter, pemilik klub sepakbola dan pemerintah daerah (pemda)," ujar Anang dalam keterangannya, Senin (24/9/2018).
Baca juga: Polisi ke Jak Mania: Jangan Balas Dendam! |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Koordinasi itu sifatnya bukan seremonial, tapi menyangkut pembinaan termasuk diarahkan pada hal-hal kreatif lainnya," sebut Anang.
Anang menyebut, jika pengelolaan suporter sepakbola berjalan profesional maka dampak turunannya akan memberi nilai positif baik bagi anggota suporter, organsiasi suporter, klub sepakbola termasuk pemerintah daerah.
"Bisa dibayangkan jumlah suporter yang banyak itu jika energinya dimanfaatkan untuk hal yang positif tentu ini akan memberi nilai tambah yang positif," tegas Anang.
Dilanjutkan Anang, kegiatan positif suporter dapat diarahkan pada kegiatan kreatif yang memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil. Bagi Anang, kekerasan di dunia sepakbola mesti dihilangkan.
"Mari kita pikirkan untuk mengarahkan mereka pada aktivitas kreatif, mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan, termasuk mendorong lahirnya kreator-kreator baru yang dikolaborasikan dengan hobi olahraganya," sebut Anang.
Tonton juga 'Viking Bicara Tewasnya Suporter Persija oleh Oknum Bobotoh':
(gbr/rvk)











































