DetikNews
Selasa 22 Agustus 2017, 11:22 WIB

Insiden Bendera Terbalik

Jangan Risaukan Polah Malaysia, Kakak Harus Bisa Ngemong Adik

Agus Buchori - detikNews
Jangan Risaukan Polah Malaysia, Kakak Harus Bisa Ngemong Adik Foto: Agus Buchori
Jakarta - Insiden bendera terbalik di SEA Games ke 29 di Malaysia membuat Menpora kita, Imam Nahrowi merasa kecewa. Sebuah keteledoran yang mungkin bisa saja terjadi, namun di even sebesar SEA Games tentunya itu patut disesalkan.

Apa yang dilakukan tuan rumah, Malaysia, sedikit banyak telah menyinggung perasaan kita Rakyat Indonesia. Even olahraga kawasan se Asia Tenggara itu juga seakan tercoreng apalagi bendera nasional kita terbalik di buku panduan Sea Games yang dicetak secara resmi untuk kenang-kenangan peserta SEA Games tersebut.

Mungkin ini sebuah ketidaksengajaan namun ini juga membuktikan bagaimana kapabilitas Malaysia menangani even besar sekelas SEA Games masih ada keteledoran fatal dan memalukan ini. Sekarang kita bisa membandingkan apa yang selama ini digemborkan oleh media internasional bahwa negeri jiran itu sudah melampaui kita dalam hal apapun.

Dan melihat kejadian tersebut tentunya kita tidak usah berkecil hati karena siapa sesungguhnya yang cakap ada di depan mata kita. Meski sebagai negara serumpun hubungan negara kita dengan Malaysia memang seperti selalu ada dusta yang terjadi.

Banyak kasus yang membuktikan itu baik di event olah raga maupun politik. Bahkan di even sosial budaya seringkali dusta itu terjadi di antara kita dan Malaysia. enarik untuk dikaji adalah sejarah di antara kedua bangsa ini.

Terutama di era demokrasi terpimpin, kita pernah hampir berkonfrontasi dengan Malaysia. Kata "Ganyang Malaysia" adalah jargon yang terus dirawat setiap kali kita ada friksi politik maupun dalam even pertandingan olahraga.

Sebagai negara yang bisa dikatakan berusia lebih tua karena kita lebih dulu merdeka (kita 1945 sedangkan malaysia 1957) selayaknya kita lebih dewasa menyikapi tingkah polah adik kita ini. Mungkin secara alamiah mereka ingin lebih eksis melebihi kakaknya dan lebih mendapat perhatian dunia Internasional karena merasa sudah sejajar dengan kita.

Sebagai kakak kita harus lebih 'pede' menyikapi tingkah polah junior kita. Kita pun harus lebih bisa 'ngemong' adik yang mengaku-ngaku hak milik kakaknya. Bahkan kita harus lebih dewasa melihat keinginan adik untuk mengalahkan kakaknya karena mengalahkan kakak adalah prestasi bagi seorang adik.

Dan ingat di tahun 70-an guru dan dosen kita banyak yang mengajar di sana bahkan orang Malaysia belajar ke Indonesia. Biarlah mereka melakukan kecurangan untuk mendapatkan kemenangan, toh event SEA Games tidak begitu menjadi perhitungan bagi pesaing pesaing kita di event internasional.

Dan apa yang menjadi target seorang kakak? Adalah prestasi di kancah yang lebih besar. Kalau di event sekelas regional kita selalu sibuk dengan perilaku seorang adik maka di event dunia yang lebih besar kita akan ketinggalan.

Juara umum di event SEA Games memang membanggakan tapi tolok ukurnya adalah apakah setelah juara umum posisi kita di event olimpiade juga lebih tinggi di antara negara negara Asia Tenggara? Apa yang terjadi di lapangan, kita malah jauh di bawah Thailand ketika event internasional berlangsung.

Jangan risaukan tingkah polah Malaysia, kalau memang cara seperti itu yang mereka bisa, kita maklumi bersama dan ayo kita beri contoh bagaimana jalannya menjadi negara yang disegani. Tentunya caranya selain sportif adalah berjiwa besar dan berprestasi secara internasional. Ayo Kita Bisa!


Agus Buchori
Silahkan baca juga di guslitera.blogdetik.com
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed