DetikNews
Jumat 11 Agustus 2017, 15:57 WIB

Merdeka Itu tidak Ada Klaim Paling Pancasila, Paling Indonesia

Denis Arifandi Pakih Sati - detikNews
Merdeka Itu tidak Ada Klaim Paling Pancasila, Paling Indonesia Foto: Denis Arifandi
Jakarta - Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 sudah di depan mata. Dan usia yang sudah berada di angka 70 itu bukanlah angka yang muda lagi. Sudah memasuki usia dewasa. Namun kenapa di usia yang seharusnya sudah sedemikian matang, kita masih saja "galau" dengan identitas kebangsaan kita.

Seharusnya, kita sudah bisa menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan baik, dengan asas Pancasila dan UUD 1945 tanpa harus gembar-gembor sana-sini: "Saya Paling Pancasila" atau "Saya Paling Indonesia".

Penegasan identitas itu menunjukkan adanya masalah di dalam diri kita. Selama ini kita tidak harus 'gembar-gembor' seperti itu, kita berjalan aman dan damai, tenteram dan adem. Malah kata-kata yang seolah-olah mengklaim itu mengandung makna-makna yang bias dan menyudutkan di sisi lainnya.

Ketika seseorang mengklaim dirinya paling pancasila, maka ia akan berpandangan: "Orang yang tidak sama dengan saya, berarti anti pancasila." Kemudian, dia akan seenaknya menuduh yang lainnya yang berbeda dengannya sebagai sosok-sosok yang akan merusak bangsa, merusak Indonesia.

Ini tidak boleh dibiarkan. Jangan merasa 'Paling'. Sebab, itu mengandung makna angkuh dan sombong. Berapa banyak orang mengaku Paling Pancasila, Paling Indonesia, justru kemudian dialah yang merusak Pancasila, merusak Indonesia dengan aksi-aksi intoleran yang dilakukannya, dengan tindakan-tindakan korupsi yang dijalankannya. Bukankah semua itu justru akan merusak Pancasila?!

Klaim 'Paling Pancasila' dan 'Paling Indonesia' hanya akan membelah kita menjadi dua kutub ekstrim:

1. Kutub Radikalis Pancasila
Kutub ini mengklaim diri paling Pancasila, seolah-olah hanya mereka saja yang paling Pancasila. Jika ada Partai, Ormas atau organisasi yang tidak bersama mereka, maka mereka akan menyerangnya dengan sebutan Anti Pancasila. Dan ini berbahaya.

Sebab jika dibiarkan, konflik antar anak bangsa akan segera berada di pelupuk mata. Mereka ini adalah kaum yang tidak paham dengan Pancasila sama sekali. Mereka mengklaim Paling Pancasila hanya untuk memuaskan nafsu mereka dalam mengambil harta negara, kekayaan bangsa. Inilah para perusak sebenarnya.

2. Kutub Anti Pancasila
Kutub ini tidak mengakui Pancasila sama sekali. Ini juga tidak benar. Sama dengan kelompok pertama, bagi mereka orang-orang yang menerima Pancasila, sama saja dengan sosok-sosok yang tidak jelas ideologinya, tidak jelas landasan berdirinya. Kutub ini, jika dibiarkan uga akan menjadi parasit dalam tubuh bangsa yang akan menggerogoti sedikit demi sedikit.

Kedua kutub di atas tidaklah baik sama sekali. Kita seharusnya berdiri di tengah, menempatkan pancasila di posisi yang sebenarnya, di posisi yang menyatukan antara elemen anak-anak bangsa. Jangan di posisi radikalis yang mengeluarkan siapa saja dari lengkaran Pancasila hanya karena beda pandangan, organisasi, partai dengan kita. Tidak juga dalam posisi Anti, karena juga sama bahayanya.

Di usia yang ke-72 ini, seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia semakin dewasa. Tidak usah main klaim lagi. Indonesia adalah ibu pertiwi. Kita adalah anak bangsa. Jikalau kita sebagai anak-anak kecil, yang usianya masih 3-5 tahun, maka sikap saling klaim itu masih bisa dimaklumi.

Silahkan Anda lihat anak kecil, mereka akan saling kelahi untuk mengklaim 'inilah ibu saya'. Kita sudah masuk usia matang, tidak usah kayak anak kecil lagi. Tanpa perlu klaim, kita sudah paham bahwa Indonesia ini adalah ibu pertiwi kita, tempat kita lahir dan tumbuh kita, tempat kita melepaskan lelah dan rindu.

Jangan kita merusaknya dengan sikap kekanak-kanakan kita. Kita adalah Indonesia, Kita Adalah Pancasila tanpa perlu klaim 'Paling'.


Denis Arifandi Pakih Sati
frameislami.blogdetik.com
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed