DetikNews
Senin 22 Oktober 2012, 16:22 WIB

Dari Kacamata Hatta

Sempurnakan Kurikulum Pendidikan dan Ganti Kemenpora

- detikNews
Sempurnakan Kurikulum Pendidikan dan Ganti Kemenpora
Jakarta - \\\"Pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku!\\\" Mohammad Hatta (11\/09\/1944).

Di latar belakangi beragam kebudayaan sepanjang sejarahnya mencapai kemerdekaan, Indonesia memiliki begitu banyak tokoh yang seyogyanya dapat diteladani dan menjadi inspirasi pada generasi mendatang dalam menggerakkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan Bung Hatta adalah salah satunya. Sosok yang dikenal sebagai pejuang, pahlawan, ekonom, negarawan, dan proklamator berdirinya Negara Republik Indonesia. Pada tanggal 12 Agustus 2012 lalu, genap 110 tahun kita mengenangnya. Tak terhitung sudah berapa banyak apa yang Hatta berikan untuk bangsa ini.

Di antaranya adalah pemikiran ekonomi Hatta yang memiliki visi kerakyatan. Hal ini dapat tergambarkan dalam UUD 1945 pasal 33 dan konsep koperasi yang digagasnya.

Lalu bagaimana dengan pemuda Indonesia menurut visi Hatta?<\/strong>

Berikut sekelumit dari begitu panjangnya sejarah perjuangan Hatta yang berkaitan dengan pemuda Indonesia. Saat bangsa Indonesia berganti \\\"pengasuh\\\", dari Belanda jatuh ke \\\"tangan\\\" Jepang. Janji-janji kemerdekaan hanya dalam bentuk \\\"seremoni\\\" dan alat diplomasi jepang untuk mengusai kekayaan alam dan tenaga rakyat Indonesia untuk mewujudkan fakta pertahanannya di Asia.

Panitia Persiapan Kemerdekaan bentukan Jepang hanya berujung kepada persyaratan kemerdekaan yang tidak mungkin dapat dipenuhi. Gelagat itu jelas terbaca dari perlakuan keji dan pengingkaran janji-janji Jepang terhadap bangsa ini.

Namun karena kekuatan pasukan Jepang begitu hebat pada masa itu, maka para pemimpin perjuangan kemerdekaan, khususnya Hatta, memutuskan untuk terus mengupayakan sekuat-kuatnya jalan kemerdekaan dengan tidak mengutamakan perlawanan fisik.

Dan strategi diplomasi merupakan ciri dari perjuangan Hatta. Di mana strategi ini pula yang akhirnya dipakai dunia sebagai dasar dari pradaban modern seperti saat ini. Semboyan yang diserukannya pada saat itu, \\\"Asia untuk bangsa-bangsa Asia\\\".

Namun itu tidak sedikitpun mengurangi sikap ketegasan Hatta. Karenanya, pada tanggal 8 Desember 1942 (setahun kedudukan Jepang di Indonesia) dalam pidatonya secara berani Hatta mengatakan: \\\"Bagi pemuda Indonesia, Ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali\\\".

Guna memberikan semangat perjuangan kepada kaum muda, pada pidato rapat besar di lapangan Ikada (11\/09\/1944), Hatta secara jelas mengungkapkan jasa pemuda Indonesia. Dinyatakannya, sepanjang sejarah pergerakan, pemuda Indonesia adalah pejuang di barisan terdepan, pelopor perjuangan bangsa.

Hatta mempercayai kebulatan hati dan kesanggupan pemuda dalam berjuang dan hidup menderita. Karena itu tulus Hatta mengungkapkan, \\\"Pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku!\\\".

Saat tiga bulan Republik Indonesia baru berdiri, Hatta kembali menggambarkan peran pemuda kelak. Bahwa: Pemuda sekarang adalah orang tua di kemudian hari, dan merekalah yang akan menerima waris Indonesia merdeka dan menyusunnya sampai sempurna.

Pemimpin-pemimpin dan orang-orang tua sekarang pada suatu ketika akan lenyap dari bumi atau mengundurkan diri. Barisan pemimpin harus diganti. Dari manakah diambil ganti mereka itu? Tak lain dan tak bukan, melainkan dari kalangan pemuda sekarang.

Pemuda sekarang akan menjadi pemimpin rakyat di masa datang. Pada pemuda sekaranglah terpikul kewajiban yang sebesar-besarnya untuk memelihara Indonesia merdeka (15\/12\/1945).

Lalu bagaimana dengan pemuda hari ini?

Pentas Prestasi dan Ironi<\/strong>

Sebagian generasi muda Indonesia saat ini mampu mengejewantahkan harapan Hatta dengan baik. Energi besar yang mereka miliki disalurkan dengan pelbagai prestasi, seperti: menciptakan mobil ESEMKA, merakit pesawat terbang, menciptakan robot pencucian mobil otomatis, atau lain sebagainya.

Namun di sisi lain, sebuah fenomena ironi juga ditampilkan sebagian generasi muda lainnya. Bukan kebulatan tekat untuk berjuang dan rela hidup menderita seperti apa yang diharapkan Hatta, melainkan pemuda yang di dalam jiwanya tumbuh fanatisme sempit dan menjelma menjadi huru-hara yang kian menjauhkan Indonesia dari cita-cita kemerdekaannya.

Tauran suporter sepak bola, Penggunaan narkoba, Geng motor, tauran antar pelajar, tauran antar mahasiswa, adalah sedikit contoh dari sekian banyaknya huru-hara akibat fanatisme sempit dan \\\"penyakit\\\" yang tumbuh di dalam jiwa pemuda saat ini.

Bahkan kejahatan terorisme, kini telah melibatkan remaja dalam melancarkan misinya. Entah fenomena negatif generasi muda macam apa lagi yang akan muncul nantinya, yang jelas apa yang tampak kini, publik berharap, ini harus dihentikan dan tidak terulang lagi di negeri ini.

Harapan tinggal harapan. Kenyataannya di layar televisi hampir setiap hari menayangkan kegaduhan yang dibuat oleh sebagian generasi muda kita. Kenapa?

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan<\/strong>

Secara moril tentunya semua pihak turut bertanggungjawab atas terjadinya fenomena negatif ini. Namun jika ditilik dari tugas dan fungsi kelembagaan Negara yang diembannya, maka akan nampak dua institusi yang dominan bertanggungjawab, yaitu; Kementrian pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementrian Pemuda dan Olah Raga.

Sesuai namanya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentunya berperan sebagai wadah pendidikan yang diharapkan melahirkan generasi berkualitas yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan sesuai apa yang diamanahkan dalam Pancasila.

Dan terciptalah pradaban masyarakat yang berkebudayaan bangsa yang tinggi. Hatta menjelaskan bahwa keberadaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (pada waktu itu Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan), memiliki politik pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan rakyat dengan kewajibannya adalah mendahulukan pendidikan rakyat guna tercapainya ketinggian kebudayaan bangsa.

Yang pencapaiannya itu dimulai dari pembangunan jiwa manusia. Sebagaimana Hatta mengajarkan, \\\"Yang lebih hebat dari pembangunan teknik itu adalah pembangunan masyarakat yang berdasarkan jiwa manusia\\\" (26\/02\/1944). Ini selaras dengan bait lagu \\\"Indonesia Raya\\\": \\\"Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya\\\".

Lantas seperti apa pembangunan jiwa itu dibangun?<\/strong>

Membangun generasi muda penerus cita-cita kemerdekaan haruslah sempurna. Ini dijelaskan Hatta dengan pidatonya pada tanggal 26 Februari 1944 dengan menekankan, bahwa dalam pembangunan masyarakat baru hendaknya dilakukan bertahap, teratur menurut tingkatannya, dengan membangun jiwa yang baru utamanya sekali pemuda, yang penuh cita-cita dan ingin dibentuk.

Dalam pemikiran Hatta, dalam membangun masyarakat (pemuda) haruslah seimbang. Bukan saja pembangunan jasmani, tetapi juga rohaninya. Menurutnya, jiwa pemuda mudah menangkap ajaran cara hidup sederhana, mudah menerima rasa tentang hidup dengan tolong menolong.

Selanjutnya dalam pidato Hatta pada tanggal 29 Agustus 1945 dipertegas, bahwa: Pemuda harus mendekati hati rakyat. Pemuda yang berasal dari rakyat jelata sudah dengan sendirinya membawa semangat rakyat. Hanya keinsafan politik yang harus diperdalam.

Tetapi pemuda yang terpelajar, yang dalam waktu yang akhir ini tidak mendapat kesempatan menerima didikan politik bagi pemuda ini adalah perlu latihan dan didikan diri sendiri untuk mendekati hati rakyat. Dari sinilah mulai terlihat bagaimana pemikiran Hatta mengenai cara membentuk kader (generasi muda) yang akan dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan Indonesia merdeka di alam kemerdekaan kelak.

Artinya, membangun kaum terpelajar dan generasi muda tidak semata kualitas IQ saja, hingga seringkali menjerat pada persaingan individualisme, tetapi naluri rasa kemanusian harus dibangun. Dengan cara mengerahkan tenaga dan pikiran mereka sebesar-besarnya untuk pembangunan masyarakat.

Kaum terpelajar dan generasi muda harus dididik dengan cara konkrit bukan sekedar teori dan seremonial, melainkan memberikan mereka ruang untuk mem-praktik-kan rasa kepedulian sosial, kesetiakawanan, solidaritas, tolong-menolong dan gotong-royong, sebagai wujud pembangunan yang mereka lakukan kepada masyarakat menurut kemampuan dan tingkatannya masing-masing.

Terlebih lagi pembangunan (masyarakat) itu disempurnakan dengan menyertakan disiplin ilmu yang mereka miliki. Penulis pikir, inilah bagian dari bentuk sejatinya pengejawantahan nyata dari apa yang terkandung dan diajarkan pada tiap-tiap agama apapun di dunia.

Hematnya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sedianya menyempurnakan kurikulumnya dengan menyediakan kurikulum \\\"khusus\\\" yang tujuannya membangun jiwa manusia. Dari sinilah selanjutnya penulis menilik apa yang Hatta maksud dengan, \\\"Yang lebih hebat dari pembangunan teknik itu adalah pembangunan masyarakat yang berdasarkan jiwa manusia\\\".

Dengan dasar jiwa yang sudah terbangun itulah, maka dengan sendirinya tenaga dan kecerdasan IQ kaum terpelajar dan generasi muda Indonesia akan terorganisir secara positif dan ber-orientasi kepada pembangunan masyarakat yang bersifat kolektivitas: kerakyatan.

Kaum muda Indonesia akan kembali sesuai dengan harapan keberadaannya: memikul tanggungjawab sebesar-besarnya atas keselamatan bangsa, merawat kemerdekaan, serta menciptakan kemakmuran rakyat.

Kementrian Pemuda dan Olah Raga<\/strong>

Selanjutnya, untuk menyempurnakan penyaluran tenaga dan pikiran kaum terpelajar dan generasi muda seyogyanya lembaga Negara yang mewadahi pemuda sekarang dikembalikan pada orientasi yang jelas.

Selain kinerjanya perlu dikritisi (mengingat fenomena adalah negatif generasi muda) secara filosofis, penamaan Kementrian Pemuda dan Olah Raga yang mewadahi pemuda sekarang, jelas mengkerdilkan peran pemuda sesungguhnya.

Di mana orientasi pemuda otomatis terkooptasi oleh urusan seremonial dan olah raga belaka. Padahal seperti diuraikan di atas, Hatta menaruh harapan dan tumpuan setinggi-tingginya kepada pemuda untuk memelihara kemerdekaan dengan pembangunan.

Tak hanya mengatakannya saja, tetapi Hatta menyiapkan sebuah wadah \\\"pengkaderan\\\" pemuda dengan orientasi yang jelas dan tepat. Tentunya pada kondisi sekarang, hal ini juga dituntut peran serta badan-badan usaha swasta dalam menggerakkan tenaga dan pikiran kaum terpelajar dan generasi muda.

Atas nama pemerintah (Wakil presiden), Hatta menyampaikan keterangannya kepada Badan Pekerja KNI Pusat (parlemen ketika itu)—pada saat kondisi keuangan Negara sedang mengalami krisis akibat banyak daerah yang memiliki potensi pangan dan industri dikuasai oleh Belanda.

Pada kesempatan ini, Hatta menyampaikan empat program—dan di antaranya adalah, perlunya dilakukan rasionalisasi ke dalam dengan mengadakan perbaikan susunan Negara dan alat Negara secara \\\"tepat\\\".

Dan salahsatu rasionalisasi itu adalah, mengubah Menteri Negara Urusan Pemuda, menjadi \\\"Kementrian Pembangunan dan Pemuda\\\". Hatta menegaskan, dengan menggabungkan pembangunan dan pemuda, maka kedudukan pemuda menjadi lebih tegas, yaitu pelopor dalam pembangunan Negara dan masyarakat (16\/02\/1948).

Kata Bung Hatta, \\\"Kita ingin melihat Indonesia merdeka kekal dan abadi. Nyatanya kekal dan abadi itu dapat dilihat di masa datang (15\/12\/1945).\\\" Sanggupkah pemuda Indonesia mengemban mandat itu sekaligus menghentikan kegaduhan?

Penulis optimis, jika kurikulum pendidikan disempurnakan (kurikulum pembangunan jiwa) dan \\\"rasionalisasi\\\" kelembagaan Negara (Kemenpora) secara tepat kembali dilakukan!
Dirgahayu Pemuda Indonesia!

Merdeka dan Hidup Merdeka<\/strong>


Ichdinas Shirotol Mustaqim<\/strong>
Jl. Percetakan Negara V No. 2 DKI Jakarta<\/strong>
dinaz_zone@yahoo.co.id<\/strong>
085221051381, 08567190810<\/strong>




(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed