detikNews
Selasa 10 Agustus 2010, 18:10 WIB

Rehedonisasi

- detikNews
Rehedonisasi
Jakarta - Saat artikel ini ditulis sedang ribut-ribut masalah redenominasi. Suatu wacana untuk penyederhanaan dan penyetaraan nilai Rupiah. Saya agak bingung juga dengan istilah itu. Apa sih sesungguhnya yang dimaksud dengan redenominasi? Tapi, saya berpikir positif saja. Mungkin baik juga pemikiran itu.

Kadang-kadang memang perlu pemikiran yang menentang zaman pada masanya. Mungkin juga penting menghilangkan banyak angka nol dalam mata uang kita dan mungkin juga kelak akan muncul nilai sen lagi seperti dahulu.

Saya kira wacana redenominasi patut dicoba dan tidak perlu menanggapi apatis secara berlebihan wacana tersebut. Tetapi, mungkin usul saya agar dapat dibuat istilah yang lebih sederhana dan lebih mudah dipahami oleh masyarakat dalam republik ini.

Lalu apa hubungannya redenominasi dengan judul artikel ini? Apa itu rehedonisasi? Ya, itu istilah saya yang saya buat-buat untuk menyaingi redenominasi.

Hedonisme adalah paham yang menjunjung tinggi \\\"nilai-nilai luhur\\\" kenikmatan karena hidup hanya sekali dan besok mati. Tidak peduli kenikmatan itu menyenangkan atau menyengsarakan orang lain. Lalu apa saya ingin mengajak Anda untuk mengikuti paham tersebut?

Tentu jawaban saya \\\"Tidak\\\". Lalu apa maksudnya dengan rehedonisasi (wah, angelmen ya istilah iki, bul aku juga bisa bikin istilah yang bikin sakit kepala dan susah diucapkan, salah satu ciri-ciri orang besar!!!). Maksud saya pengertian pemahaman tentang hedonisme itu di balik bukan untuk kenikmatan selama hidup karena besok mati. Tetapi, bagaimana menikmati kehidupan karena besok kita tetap hidup.

Karena, alasan besok kita tetap hidup maka kenikmatan itu adalah kenikmatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kenikmatan yang membawa manfaat positif bagi orang lain. Tidak hanya untuk diri sendiri. Jadi, itulah yang saya maksud dengan rehedonisasi (ini istilah othak-athik gathuk biar kelihatan keren!!!). Kalau ada yang protes mengenai pengistilahan ini silahkan hubungi saya melalui email yang tercantum.

Memang judul itu tidak saya maksudkan untuk serius-seriusan. Cuma saya mencoba saja dan mengada-ada. Kadang-kadang kita perlu hal-hal yang \\\"tidak perlu untuk diseriusi\\\" dalam hidup ini. Perlu pelesiran dan menjalankan rehedonisasi. Kadang-kadang perlu juga kita melakukan hal-hal yang menentang zaman. Seperti redenominasi itu (wah, jan ngetike ya salah-salah terus!) di mana saat ini banyak yang apatis dan menentangnya.

Tetapi, lihatlah suatu saat nanti bahwa pemikiran redenominasi adalah benar. Saya termasuk yang suka dengan wacana pemikiran redenominasi ini. Bayangkan kalau US $ 1 sama dengan Rp 9 (andaikan Rp 1,000 menjadi Rp 1) saya kan bisa mendadak kaya raya.

Hitung saja kalau gaji sekian juta dibagi Rp 9. Berapa US $ yang saya dapat he... he... he... dari yang hanya ratusan dollar per bulan menjadi ratusan ribu dollar pe rbulannya. Oh, bukan begitu menghitungnya. Wah, saya sudah terlanjur mengkhayal tiba-tiba mendadak menjadi kaya raya gara-gara redenominasi. 

Kalau mendadak kaya saya kan bisa rehedonisasi. Bisa membagi kekayaan itu untuk kehidupan orang lain. Terpaksa gara-gara hitungan saya salah menafsirkan redenominasi maka rehedonisasi yang harus saya lakukan untuk kebaikan orang lain tetap dengan gaji saya yang hanya ratusan dollar per bulan itu.

Tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan rehedonisasi berbuat kebaikan bagi orang lain hanya gara-gara gaji yang ratusan dollar per bulan. Semoga kelak dengan redenominasi terjadi perbaikan ekonomi secara keseluruhan dalam republik ini dan dan banyak orang tiba-tiba mendadak kaya termasuk saya!

Karena, ternyata masih banyak wong mlarat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ah, mengkhayal lagi gara-gara hitungan redenominasi salah!

Andang Andiwilapa
Griya Kencana II Blok HH No 20
Ciledug Tangerang
andiwilapa@yahoo.co.id
081272330333

<\/strong>




(msh/msh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com