Belajar dari Perkembangan Industri Cina

ADVERTISEMENT

Belajar dari Perkembangan Industri Cina

- detikNews
Jumat, 18 Jun 2010 08:51 WIB
Jakarta - Berbicara tentang produk Cina maka tidak terlepas dari benak kita akan sebuah pandangan bahwa adanya suatu produk yang mampu melakukan penetrasi pasar dengan cepat dalam ukuran yang massiv. Bahkan, produk tersebut mampu bersaing dengan harga yang relative lebih murah jika dibandingkan dengan produk-produk sejenis yang mungkin berasal dari Eropa atau pun Amerika.

Keberhasilan produk-produk tersebut dalam menguasai pasar tidak terlepas dari upaya bangsa Cina yang kontinu sejak beberapa dasawarsa yang lalu ketika teknologi di Cina belum dapat dikatakan canggih. Bahkan, dapat dikatakan kemampuan teknologi mereka saat itu masih ketinggalan beberapa tahun dibandingkan industri-industri sejenisnya yang telah lebih dulu memasuki dunia bisnis.

Upaya yang mereka lakukan adalah melakukan penyesuaian terhadap kondisi internal negara. Saat itu Cina lebih terfokus kepada sektor perdagangan dibandingkan dengan upaya untuk melakukan riset teknologi murni.

Namun, Cina mampu memanfaatkan kondisi tersebut sebagai pendukung kebangkitan teknologi melalui aspek globalisasi bukan melalui penelitian dan pengembangan murni. Hal inilah yang akhirnya membedakan kebangkitan teknologi di Cina dengan kebangkitan teknologi negara-negara maju lainnya.

Dalam hal ini Cina membuat suatu kebijakan di beberapa sektor industri yang mendukung masuknya pemain asing di dalam pasar mereka. Tetapi, Cina membuat peraturan yang ketat terkait dengan transfer teknologi. Pemberian izin penjualan hanya diberikan kepada perusahaan-perusahaan multinasional yang mau melakukan transfer teknologi dan mengabaikan perusahaan yang tidak mau melakukan transfer teknologi.

Sebagai contoh dari hal ini adalah ketika adanya kebutuhan akan pengembangan tenaga listrik yang cukup tinggi pada tahun 2004 di Beijing. Cina memberi kesempatan kepada perusahaan mana pun yang ingin memenangi kontrak pemasaran turbin bertenaga gas dengan syarat ikut berpartisipasi dalam transfer teknologi melalui pembentukan joint venture dengan perusahaan-perusahaan milik negara dan menyerahkan spesifikasi manufaktur mereka.

Kontrak tersebut didapat oleh GE. GE memenangi kontrak dikarenakan ia menyerahkan perincian cara pembuatan turbin gas '9F' (salah satu seri generator yang telah dibuat oleh divisi sistem tenaga dan mesin pesawat yang bekerja sama dengan Departemen Energi AS yang dalam pengembangan turbin ini telah membuat mereka mengeluarkan setengah miliar dolar).

Perincian tersebut meliputi gambar turbin secara menyeluruh, permodelan, serta perhitungan matematika di balik bentuk daun-daun turbinnya, cara daun turbin tersebut didinginkan ketika berotasi dan rahasia pengaturan susunan daun turbin tersebut. Akhirnya teknologi ini dapat dimanfaatkan pada bidang yang lain. Misalnya teknologi yang digunakan pada turbin tenaga gas tidak jauh berbeda dengan teknologi mesin-mesin yang menggerakan pesawat terbang komersial.

Pada sektor industri lainnya kontrak diberikan kepada perusahaan multinasional yang membangun pusat riset teknologi di Cina. Kebijakan ini menguntungkan kedua belah pihak. Perusahaan multinasional diuntungkan karena dengan adanya izin pendirian di tempat tersebut.

Maka hal ini akan menciptakan efisiensi dalam hal biaya riset yang disebabkan penghematan biaya dari aspek jarak terhadap obyek riset. Sedangkan bagi Cina pusat riset tersebut mengajarkan kepada para ilmuwan Cina terkait teori dan teknologi terkini di dunia. Sehingga, memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan serta teknologi.

Hal tersebut membuat Cina mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan cukup cepat dan mampu meniru teknologi dari negara maju lainnya. Meskipun terkadang dari sisi kualitas hal tersebut masih berada di bawah industri maju yang bersangkutan.

Dari sisi biaya, Cina mampu menjual produknya dengan harga yang murah dikarenakan mereka mampu menekan biaya produksi. Terutama dalam hal biaya tenaga kerja. Cina memanfaatkan tingginya populasi penduduk. Dalam hal ini mereka sangat membutuhkan lapangan kerja untuk menjamin kehidupan mereka. Hal ini dimanfaatkan Cina untuk mendapatkan tenaga kerja dengan biaya yang tidak terlalu tinggi.

Budianto Ajie Nugroho
Teknik Industri ITB 2006
Deputi Kajian Strategis Bidang Industri KM ITB

Sumber:
- Kranhold, Kathryn, "China Sets a High price to Gain Market Entry", Wall Street Journal, 27 Februari 2004.
- Kynge, James. "Rahasia Sukses Ekonomi Cina". 2006.


(msh/msh)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT