Polda Sumatera Selatan terus mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan memperkuat kesiapan personel, penguasaan peralatan serta pola operasi di lapangan. Penguatan tersebut dilakukan melalui pelatihan penanganan Karhutla dan gladi posko tanggap darurat di Mako Satbrimob Polda Sumsel, Palembang, hari ini.
Kegiatan dipimpin langsung Dansat Brimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan bersama Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa. Kegiatan ini juga melibatkan para perwira Satbrimob, Tim Karhutla Satbrimob dan Ditsamapta Polda Sumsel, Tim Keslap serta Tim Randurlap.
Pelatihan tersebut difokuskan pada penguatan kemampuan personel dalam menjalankan seluruh tahapan penanganan Karhutla, mulai dari pemetaan area terdampak, menentukan pola dan metode penanganan, pembagian sektor, penyiapan suplai air, pemadaman hingga monitoring area pascapenanganan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dansat Brimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan mengatakan peningkatan kemampuan personel diperlukan agar setiap anggota memahami tugas dan cara bertindak saat diterjunkan dalam penanganan Karhutla.
"Personel harus benar-benar siap ketika berada di lapangan, baik dalam penguasaan teknik, penggunaan peralatan maupun koordinasi antartim. Setiap anggota harus memahami sektor dan tugasnya sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat, terukur dan efektif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).
James menilai pemetaan menjadi salah satu tahapan penting sebelum pelaksanaan penanganan. Ia mengatakan kondisi lahan yang telah dipetakan dibagi ke dalam sejumlah klaster dan sektor sebagai dasar menentukan pola, metode dan cara bertindak personel.
"Karakteristik setiap lokasi dapat berbeda. Karena itu, pemetaan awal sangat menentukan bagaimana personel ditempatkan, bagaimana suplai air disiapkan dan metode apa yang paling tepat digunakan untuk menangani api maupun bara yang masih tersisa," jelasnya.
Pada pelaksanaan latihan, personel mempraktikkan penyiraman dan pembasahan area serta pemadaman titik bara api menggunakan cairan formula X-Fire Slog Polri. Setelah penanganan dilakukan, area kembali diobservasi dan dilakukan scanning untuk mendeteksi potensi bara api yang masih tersisa.
Posko aju juga disiapkan sebagai pusat pengendalian penanganan dengan pembagian personel ke dalam sejumlah fungsi. Personel ini meliputi tim suplai air dan peracikan formula X-Fire, tim observasi, tim penyiraman dan pembasahan, tim pemadaman titik bara api serta tim scanning.
Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa mengatakan kesiapan teknis menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas penanganan Karhutla di lapangan.
"Selain kemampuan personel, kesiapan suplai air, pompa, instalasi selang dan sarana pendukung lainnya harus dipastikan dapat bekerja dengan baik. Seluruh rangkaian ini dilatihkan agar ketika dibutuhkan, personel dapat langsung bergerak sesuai tugas dan prosedur yang telah ditentukan," paparnya.
Ia menambahkan, penanganan Karhutla membutuhkan koordinasi antartim karena setiap fungsi memiliki keterkaitan dalam proses pemadaman.
"Mulai dari suplai air, observasi, penyiraman, pemadaman sampai scanning harus berjalan dalam satu pola kerja yang terkoordinasi. Dengan koordinasi yang kuat, upaya penanganan diharapkan semakin efektif dan potensi meluasnya kebakaran dapat ditekan," tambahnya.
Ia mengungkapkan penguatan kemampuan juga mencakup tahapan pascapemadaman. Para personel melakukan patroli darat serta pemantauan menggunakan drone terhadap area yang telah ditangani untuk memastikan tidak terdapat titik api maupun bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu'min Wijaya mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah Polda Sumsel untuk meningkatkan kemampuan operasional dalam mendukung penanganan Karhutla di Sumatera Selatan.
Melalui penguatan kemampuan personel, kesiapan peralatan, pemanfaatan teknologi dan koordinasi antarsatuan, Polda Sumsel terus memantapkan penanganan Karhutla guna melindungi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan Sumatera Selatan dari dampak kebakaran hutan dan lahan.
"Polda Sumsel terus memaksimalkan seluruh kemampuan yang dimiliki, baik personel, peralatan maupun teknologi pendukung. Kesiapan ini penting agar setiap kejadian Karhutla dapat ditangani secara cepat dan terkoordinasi sehingga dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan dapat diminimalkan," ungkapnya.
Nandang menambahkan, proses penanganan tidak berhenti ketika api telah padam. Sebab, pemantauan terhadap area terdampak tetap diperlukan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.
"Karena itu monitoring pascapemadaman menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Patroli darat, penggunaan drone hingga pengecekan kembali terhadap potensi bara terus dilakukan untuk memastikan area benar-benar aman," pungkasnya.
(anl/ega)









































