Polda Riau menggunakan cairan X-Fire dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Tiga unit alat berat juga diturunkan untuk mencegah perambatan api.
Dalam upaya penanganan tersebut, Polda Riau menurunkan sebanyak 157 personel gabungan dari Polri, TNI, BPBD, perusahaan, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Tim gabungan juga membangun embung sebagai sumber air untuk mendukung pemadaman.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan, penanganan tidak boleh berhenti ketika api di permukaan terlihat padam. Karakteristik lahan gambut memungkinkan bara tetap tersimpan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus terhadap lokasi yang telah memasuki tahap pendinginan, saya sudah menekankan kepada jajaran agar tidak lengah dan tidak langsung meninggalkan lokasi. Pendinginan harus dipastikan benar-benar tuntas, kemudian dilanjutkan dengan patroli dan pemantauan secara berkala," kata Irjen Herry di lokasi, Rabu (16/9/2026).
Berdasarkan pemantauan Dashboard Lancang Kuning pada 15 September 2026 hingga pukul 21.00 WIB, terdapat 48 hotspot di Provinsi Riau. Sebanyak 37 titik di antaranya berada di Kabupaten Indragiri Hulu, termasuk tiga titik kategori kepercayaan tinggi.
Jumlah tersebut menjadikan Indragiri Hulu sebagai salah satu fokus utama penanganan Karhutla. Secara keseluruhan, terdapat sembilan lokasi kebakaran yang menjadi perhatian Polda Riau di kabupaten tersebut.
Selain Desa Pulau Jumat, penanganan juga berlangsung di Desa Sipang, Pauh Ranap, Paya Rumbai, Talang Lakat, serta sejumlah lokasi lainnya yang telah memasuki tahap pendinginan.
Herry memerintahkan seluruh jajaran untuk segera melakukan pengecekan lapangan terhadap hotspot kategori tinggi dan sedang guna memastikan apakah titik tersebut merupakan api aktif, bara, atau anomali panas lainnya.
"Hotspot kategori high dan medium kami perintahkan untuk segera dilakukan ground check dan verifikasi di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo menegaskan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan kecepatan bertindak dan kekuatan sinergi seluruh unsur di lapangan.
Menurutnya, koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang terlibat harus terus diperkuat agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lain.
"Kita harus bergerak cepat dan bekerja bersama. Jangan berikan ruang bagi api untuk meluas. Seluruh unsur harus tetap solid, fokus pada pemadaman dan pendinginan, serta memastikan titik yang sudah ditangani tidak kembali terbakar," kata Agus.
Lihat juga Video: Visibility Kalbar Rendah, Heli Raksasa Jepang Belum Bisa Padamkan Karhutla










































