Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menekankan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jangan hanya berhenti pada proses pemadaman saja. Namun, ia mendorong upaya restorasi untuk keberlanjutan kelestarian lingkungan.
Hal itu disampaikan Irjen Pol Herry Heryawan saat melakukan pengecekan karhutla di Desa Paya Rumbai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, pada Rabu (9/9/2026).
"Kita tidak mau setiap tahun melakukan pemadaman terus menerus. Harus ada radical break, bagaimana kita melakukan restorasi bersama-sama dan mengubah mindset masyarakat," ujar Irjen Herry Heryawan.
Gerakan restorasi tersebut akan diperkuat dengan penanaman satu juta pohon yang direncanakan dimulai pada Oktober 2026. Selain pencegahan dan restorasi, jenderal bintang dua itu juga memastikan penegakan hukum terus dilakukan untuk memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini, Polda Riau telah menangani 47 kasus Karhutla dengan 51 tersangka. Total lahan yang terbakar dalam perkara yang ditangani mencapai 3.066 hektare.
Kapolda Riau menambahkan penanganan karhutla tidak bisa diselesaikan secara parsial. Oleh karena itu, ia terus mendorong upaya kolaboratif lintas instansi dengan seluruh elemen masyarakat dalam menangani masalah tahunan ini.
Mantan Direktur Penyidikan Densus 88/Anti Teror ini mengatakan kolaborasi dalam menghadapi Karhutla telah dilakukan jauh sebelum kebakaran terjadi, terutama sejak ancaman El Nino terdeteksi. Seluruh kekuatan dari Polda Riau, TNI, Pemda, hingga relawan dan masyarakat bergotong-royong dalam mengatasi karhutla di Bumi Lancang Kuning.
Upaya ini ia katakan tak hanya dilakukan saat terjadinya kebakaran. Namun jauh sebelum adanya peringatan El Nino, Polda Riau bersama stakeholders lainnya telah melakukan mitigasi secara bersama-sama.
"Kegiatan kolaboratif dan gotong royong ini kita lakukan terus menerus. Bukan saja pada saat situasi El Nino saat ini, tetapi jauh-jauh hari kita sudah melakukan mitigasi sejak awal," tegas Irjen Herry.
Sementara itu, mitigasi dilakukan dengan memastikan kesiapan sekat kanal, ribuan embung, menara pantau hingga sarana dan personel perusahaan. Sistem peringatan dini juga diperkuat melalui Lancang Kuning, SiPongi, Sipakar dan Green Policing Presisi agar hotspot dapat segera diverifikasi sebelum berkembang menjadi firespot.
(mea/dhn)









































