Upaya terpadu dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus menunjukkan hasil positif. Titik panas (hotspot) maupun firespot di Bumi Lancang Kuning menunjukkan penurunan dari hari ke hari.
Selain Satgas Darat, keberhasilan penanganan karhutla di Provinsi Riau juga tidak lepas dari peran Satgas Udara di bawah komando Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Roesmin Nurjadin, Marsma TNI Abdul Haris. Bersinergi dengan Satgas Darat yang dipimpin Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Satgas Udara melaksanakan pemadaman karhutla melalui tiga strategi: patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Danlanud Roesmin Nurjadin, Marsma TNI Abdul Haris menyampaikan kegiatan patroli udara tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan hotspot dan firespot melalui aplikasi, antara lain Sipongi dan Dashboard Lancang Kuning. Berdasarkan data tersebut, Satgas Udara bergerak melakukan pemantauan udara untuk kemudian menentukan kategori titik api maupun titik panas berdasarkan titik koordinat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi-pagi kami terbangkan patroli itu untuk memastikan mana-mana saja yang masih terdapat titik api," kata Abdul Haris, dalam keterangannya, Kamis (3/9/3036).
Hasil pemantauan patroli Satgas Udara akan menentukan kategori hotspot (kecil, sedang, atau besar) yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan upaya pemadaman water bombing menggunakan heli baik dari BNPB, Kementerian Kehutanan, atau TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin.
Satgas Udara menerapkan skala prioritas dalam upaya water bombing mengingat keterbatasan jumlah heli.
"Memang kendala kami selama ini adalah ketersediaan atau jumlah water bombing kami sangat terbatas sehingga kami harus memilih titik api mana yang perlu kami segera tangani," imbuhnya.
Satgas Udara juga melaksanakan OMC bersama Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Abdul Haris mengatakan OMC sangat tergantung kepada potensi awan yang dideteksi oleh radar cuaca yang dimiliki oleh BMKG.
"Berdasarkan info akurat tersebut barulah kami akan melaksanakan OMC untuk dapat segera kami terbangkan pesawat kami dan kami semaikan garam di udara dan mudah-mudahan terjadi hujan yang jutah di daerah yang ada titik apinya," ungkapnya.
Namun, OMC juga bukan tanpa kendala. Faktor angin sangat mempengaruhi keberhasilan dalam operasi modifikasi cuaca tersebut.
"Alhamdulillah sudah beberapa hari belakangan sudah terjadi hujan yang cukup lebat bahkan di Pekanbaru menimbulkan terjadi banjir lokal karena demikian lebatnya hujan tersebut," katanya.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi dalam upaya penanganan karhutla ini. Abdul Haris mengatakan Satgas Ugadara bersinergi dengan Satgas Darat yang dipimpin Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan jajaran Forkopimda.
Peran aktif Satgas Udara tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons cepat, kesiapsiagaan tinggi, serta sinergi antarpihak. Kecepatan dalam mendeteksi fire spot, menentukan sasaran, mengerahkan unsur udara, hingga melaksanakan pemadaman menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
Sebagai Dansatgasud Karhutla Riau, Danlanud RSN menegaskan bahwa TNI Angkatan Udara akan terus menjaga kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam penanggulangan karhutla.
"Dengan sinergi dan kolaborasi yang terus diperkuat, upaya Satgas Karhutla diharapkan mampu mempertahankan tren penurunan fire spot sekaligus mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas," pungkasnya.
Simak Video 'Prabowo Minta 3 Orang Pura-pura Mancing Bakar Lahan di Riau Dibawa ke Jakarta':
(mea/dhn)









































