Dunia pendidikan tinggi Indonesia heboh, dan mungkin diikuti rasa canggung. Ini akibat terkuaknya proses hingga hasil pemaparan penelitian, yang diduga palsu. Pemalsuan yang melibatkan 3 warga negara Indonesia, dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI). Lewat beritanya berjudul "Dugaan WNI Palsukan Riset di Konferensi Global Jadi Sorotan Menteri-DPR" detik.com, 28 Mei 2026, memaparkan kejadiannya.
Disebutkan, pada International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) --yang berlangsung di Denmark 17-12 Mei 2026-- tiga orang yang menyebut dirinya peneliti, memaparkan hasil kerjanya yang tergolong impresif. Impresi terbangkitkan, lantaran penelitian menggunakan data sample dari banyak negara: Peru, Ethiopia, Nepal dan Kenya. Juga metodologinya yang meyakinkan. Absennya pelibatan kolaborator lokal -yang jadi keharusan dalam pengumpulan data lintas negara-- menjadi pembuka kecurigaan pada sahihnya penelitian. Wa Ode Dwi Diningrat, peneliti asal Indonesia yang mewakili Oxford University, UK, merasa janggal dengan beberapa hal yang mengemuka dalam simposium.
Beberapa kejanggalan itu, termuat pada artikel CNBC, 28 Mei 2026, berjudul "Heboh Dugaan Skandal Riset Palsu Asal RI, Ini Sosok Penelitinya". Pertama, saat mencermati abstraknya: ditemukan ketaklaziman yang kemudian dikonfirmasi Dwi kepada rekan peneliti, maupun supervisornya. Ketaklaziman grafik dan data, yang tampak merupakan hasil pabrikasi AI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, namun tanpa melibatkan kolaborator lokal sama sekali. Ini juga saat mengumpulkan data, di negara lainnya. Penelitian lintas negara tanpa melibatkan kolaborator lokal, hampir mustahil dilakukan. Sebab mempengaruhi terbitnya ethical clearance, yang memungkinkan dilakukannya penelitan di suatu negara.
Sedangkan yang ketiga: berganti-gantinya identitas pemapar penelitian, di hadapan 1.300 peserta simposium dari 86 negara. Di satu pemaparan, seorang perempuan menyampaikan hasil penelitiannya dengan nama diri tertentu. Namun perempuan yang sama, tampil dengan nama maupun pakaian yang berbeda pada pemaparan penelitian lainnnya. Kamuflase ini mengherankan sekaligus ceroboh, ketika dilakukan di hadapan khalayak intelektual. Menimbulkan pertanyaan. Hal lain yang memperkuat kecurigaan adalah, keempat, tampilan poster riset. Material yang lazim dipampangkan di luar ruang simposium ini, memberi gambaran penelitian yang dibahas. Hanya saja, poster dari peneliti Indonesia bermodal cetakan di atas kertas HVS A4, dan berbeda dari tampilan poster peneliti lain.
Selain Dwi, pemalsuan penelitian juga diungkap Ida Bagus Mandhara Brasika. Mahasiswa proram Doktoral bidang Mathematichal Climate dari University of Exeter, UK. Kecurigaan dikemukakan lewat unggahan di akun thread-nya, berbunyi, "Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark."
Terkuaknya pemalsuan penelitian --yang diduga untuk memperoleh travel grant itu-- juga menimbulkan rasa canggung. Tersirat dalam pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto dan dikutip detik.com. Kementeriannya serius memperhatikan kemungkinan terjadinya pelanggaran integritas akademik, namun tetap berhati-hati. Ini dengan dibukanya ruang klarifikasi maupun verifikasi yang objektif, sesuai aturan di lingkungan akademik dan penelitian. Kemendiktisaintek tak serta merta memosisikan peneliti sebagai pemalsu yang melibatkan AI.
Hal lain yang juga diduga sebagai sumber kecanggungan, adalah posisi AI yang makin kerap dilibatkan dalam berbagai penelitian. Namun pertanyaannya masih di seputar: penelitian menggunakan AI sah atau tidak? Mohammad Hosseini, Maya Murad, David B Resnik, 2026, dalam abstrak penelitiannya yang berjudul "Benefits and Risks of Using AI Agents in Research", menyebutkan berbagai jenis penggunaan AI dalam penelitian. Dikatakannya, para ilmuwan menggunakan AI untuk melakukan tinjauan literatur yang dipublikasikan, merumuskan hipotesis berikut pengujiannya secara virtual, memodelkan fenomena kompleks, hingga melakukan eksperimen.
Sedangkan dua tahun sebelumnya, Mohamed Khalifa, Mona Albadawy, 2024, dalam "Using Artificial Intelligence in Academic Writing and Research: An Essential Productivity Tool", mengungkap hal yang senada. Disebutkannya, AI telah merevolusi penulisan akademis lewat pengelolaan ide-ide kompleks dan informasi yang luas.
Dalam revolusi itu, dirincikan enam bidang manfaatnya. Masing-masing: pembangkitan ide, penataan konten, sintesis literatur, manajemen data, penyuntingan, hingga pemenuhan kepatuhan etika.
Dalam praktiknya --keandalan AI menunjang penelitian dan menghasilkan artikel berkualitas yang layak dipublikasikan di bidang ilmu Sosial-- pernah dieksplorasi Niki Scaplehorn yang bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Mannheim. Eksplorasi itu berlangsung tiga hari, dengan melibatkan 20 mahasiswa, peneliti pascadoktoral, dan peneliti muda dari seluruh dunia. Diberinya sebutan sebagai "hackathon". Sebutan yang terinspirasi dari ajang sebelumnya, hack day. Ajang ini memberi tugas beberapa peneliti, membuat buku akademis yang seluruh prosesnya menggunakan ChatGPT.
Bergabung dari Universitas Mannheim dalam eksplorasi itu, Profesor Thomas Gschwend, Ketua Ilmu Politik, Metode Kuantitatif dalam ilmu sosial. Juga Profesor Marc Ratkovic, Ketua Ilmu Data Sosial. Keduanya bertindak sebagai peninjau kualitas artikel, yang dihasilkan selama hackathon. Pada ajang itu, terobservasi cara peserta berinteraksi dengan AI. Juga penilaian tehadap pengaruh large languange model (LLM) pada produktivitas penulisan, kualitas dan pencapaian konsistensi hasil ilmiah. Darinya dapat ditentukan: apakah kualitas artikel yang melibatkan AI, dapat memenuhi standar kualitas untuk pengajuan ke jurnal bereputasi, bahkan melampauinya?
Jawaban atas pertanyaan itu, terproyeksi dari hasil pengamatan Profesor Gschwend. Ia menyebut, penggunaan AI unggul dalam mengatur ide dan menyempurnakan rancangan penelitian. Juga dapat diandalkan dalam mendukung tugas-tugas teknis, seperti menghasilkan kode atau menyusun rancangan hasil penelitian. Pendapat yang tak bertentangan, dikemukakan Profesor Marc Ratkovic. Ia menyebut AI berperan dalam penelitian, tetapi harus memosisikannya sebagai kolaborator yang dapat membantu menyederhanakan proses penulisan. AI bukan menjadi pengganti kreativitas manusia, alih-alih menggantikan peran intelektualnya. Seluruhnya ini, terkemuka dalam "Can AI Create High-quality, Publishable Research Articles?", yang dimuat www.researchinformation.info, 2025.
Maka terjawab: penelitian yang menggunakan AI sah, selama manusia terlibat. Sehingga pertanyaan berikutnya: di titik manakah pemanfaatan AI yang melibatkan manusia -seperti yang dilakukan peneliti Indonesia di ISPPD-- namun disebut melanggar integritas akademis? Ketika manusia absen dari peran intektualnya. Artinya, saat memproses hingga menyajikan hasil penelitian, hanya bertindak sebagai operator prompt AI. Menuliskan prompt walaupun perlu berpikir, absen peran intelektualnya.
Jawaban di atas terkait dengan absennya peneliti dari proses penelitian yang berupaya menemukan kebenaran korespondensi, selain kebenaran koherensi. Seluruhnya ini membawa pada bahaya laten, sesuai peringatan Mohammad Hosseini beserta tim penelitinya di atas. Disebutkan: meskipun AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi penyelidikan ilmiah, pelibatannya menciptakan risiko bagi dunia penelitian maupun masyarakat. Bisa berupa kebijakan yang buruk, akibat rekomendasi AI yang keliru, tak akurat, maupun bias. Terjadinya kebingungan menentukan penanggungjawab penelitian. Siapakah penanggungjawab penelitian: peneliti, pengembang platform berbasis AI, atau AI yang didudukkan sebagai agen peneliti?
Sedangkan bagi masyarakat, risikonya berupa kehilangan pekerjaan penelitian, penurunan keterampilan meneliti akibat pekerjaannya telah diambil alih AI. Juga dengan keterlibatan agen AI yang menihilkan peran intelektual manusia, menyebabkan pengetahuan yang dihasilkan tak dapat diverifikasi. Bahkan tak dapat dipahami manusia. Seluruhnya menghilangkan wawasan, bahkan keberanian yang dibutuhkan untuk menantang atau mengkritik AI, berikut pelaporan pelanggarannya.
Senada dengan seluruh bahaya yang dikemukakan Hosseini beserta timnya, Steven Rosenbaum, 2026, lewat bukunya "The Future of Truth, How AI Reshapes Reality", memperkuat peringatan itu. Buku yang terbit 12 Mei 2026 ini, ditulis dengan mengandalkan ChatGPT dan Claude, serta verifikasi datanya yang mengunakan fact-checker.
Ironisnya --dari buku yang mengulas paradigma baru tentang peran AI dalam membangun kebenaran berikut diciptakannya realitas ini-- justru banyak salah kutip dan penyebutan sumber data. Kacau. Kekacauan yang sangat mungkin, disebabkan "halusinasi" AI. Temuan kekacauan yang merupakan penelusuran The New York Times ini, memaksa Rosenbaum mengklarifikasi dan memperbaiki karyanya, bersama tim editornya.
Tampak, aktivitas intelektual yang makin melibatkan AI--dengan absennya peran intelektual manusia-- justru mendatangkan bahaya. AI dengan segala promosi kecerdasannya, belum andal menghasilkan karya intelektual.
Keadaannya makin rumit, saat ada perilaku yang tak pantas: mendaku penelitian maupun pemikiran yang tak melibatkan peran intelektualnya, sebagai hasil jerih payahnya. Padahal bertujuan memperoleh travel grant semata.
Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.org.
Simak juga Video: Oscar Garcia Jawab Polemik Soal AI Bisa Mempersempit Lapangan Kerja











































