Diplomasi di Tengah Kubu: Membendung 'Tombol Nuklir' Ekonomi Global
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Diplomasi di Tengah Kubu: Membendung 'Tombol Nuklir' Ekonomi Global

Senin, 02 Mar 2026 19:15 WIB
Edi Setiawan
Dosen dan Peneliti FEB Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
FILE PHOTO: An aerial view of the Iranian shores and the island of Qeshm in the strait of Hormuz, December 10, 2023. REUTERS/Stringer/File Photo
Selat Hormuz (Foto: REUTERS/Nicolas Economou)
Jakarta -

Ketika asap pekat perang mulai membumbung tinggi di langit Teluk Persia pada pertengahan dekade ini, menyelimuti horison 2026 dengan gumpalan debu radioaktif dan puing-puing konflik, dunia seringkali terpaku pada narasi yang dangkal: berapa banyak korban jiwa yang berjatuhan, berapa ton ledakan yang mengguncang bumi, atau seberapa canggih teknologi perang yang dipamerkan. Namun, di balik gemuruh sonar yang mengintimidasi dan teriakan sirene peringatan yang memekakkan telinga, terdengar suara lain yang jauh lebih halus namun memiliki daya hancur yang jauh lebih permanen: itu adalah suara berderaknya tulang punggung ekonomi global yang sedang patah bertahap. Konflik militer terbuka antara Amerika Serikat dan Iran bukan lagi sekadar urusan darah dan tanah, atau ego politik dua pemimpin dunia. Ini adalah ancaman eksistensial bagi tatanan ekonomi global yang baru mulai pulih pasca-pandemi. Ini adalah sebuah tragedi kalkulasi matematis yang tidak hanya akan meninggalkan luka parah pada fundamental perekonomian dunia, tetapi juga menghadirkan krisis legitimasi yang sangat dalam bagi lembaga internasional tertinggi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kita, sebagai bangsa yang berada di persimpangan jalur perdagangan dunia, sedang berdiri di bibir jurang yang digali oleh ketegangan geopolitik tersebut pada tahun 2026 ini. Inti dari krisis ini terletak pada sebuah geografi sempit di leher botol Teluk Persia: Selat Hormuz. Sebuah jalur air yang hanya selebar 21 mil ini bukanlah sekadar coretan tinta biru di peta atlas, melainkan urat nadi kehidupan ekonomi modern yang berdetak kencang. Berdasarkan data terkini dari U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dirilis pada awal tahun 2026, lebih dari 21 juta barel minyak mentah dan kondensat mengalir melewati selat ini setiap harinya. Angka yang mengejutkan ini setara dengan sekitar 21 persen dari total konsumsi petroleum cair global. Artinya, satu dari setiap lima liter bahan bakar yang menggerakkan pabrik-pabrik di China, mewahnya mobil-mobil di Eropa, dan lampu-lampu di jalan-jalan Indonesia, melewati jalur rentan ini. Bayangkan apa yang terjadi pada tubuh manusia jika aliran darah vital yang membawa oksigen ke otak tiba-tiba dipotong atau tersumbat total. Itulah analogi paling tepat bagi apa yang akan menimpa ekonomi planet ini jika Selat Hormuz lumpuh.

Dalam skenario eskalasi perang AS-Iran, Teheran diperkirakan akan segera menjalankan strategi asimetrisnya yang paling mematikan sebagai bentuk perang ekonomi modern: penutupan Selat Hormuz secara paksa. Tindakan ini bukan sekadar gertakan sambal atau ancaman kosong yang dilontarkan untuk memperkuat posisi tawar di meja perundingan. Iran memiliki kapasitas militer yang nyata dan teruji untuk menebar ranjau laut, mengerahkan pasukan elit penyerbu pantai, dan mengunci sasaran dengan baterai rudal pantai canggih untuk mematikan lalu lintas kapal komersial maupun tangker super raksasa yang berani melintas. Jika "tombol nuklir" ekonomi ini ditekan, dunia tidak akan menghadapi kenaikan harga biasa. Dunia akan menghadapi kejutan pasokan total (total supply shock). Pasar minyak global akan lumpuh seketika karena tidak memiliki cadangan cadangan (spare capacity) yang memadai untuk menutupi hilangnya 21 juta barel per hari secara instan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ekonom di lembaga pemeringkat global seperti S&P Global dan Fitch Ratings dalam laporan triwulanan mereka pada Maret 2026 memproyeksikan bahwa dalam skenario ini, harga minyak mentah Brent akan melonjak vertikal, menembus level psikologis USD 150 hingga USD 200 per barel dalam hitungan hari, bukan bulan. Untuk memberi perspektif, rata-rata harga minyak selama lima tahun terakhir berkisar antara USD 70 hingga USD 80 per barel. Kenaikan yang drastis ini berarti biaya energi dunia akan melonjak hampir tiga kali lipat. Dalam kondisi ini, pasar akan gagal berfungsi (market failure), dan mekanisme harga akan kehilangan akal sehatnya, berubah menjadi sebuah kasino brutal yang hanya menguntungkan yang kuat sementara yang lemah tertindas (World Bank, 2026).

Di sinilah titik nadir bagi institusi global. Jika perang pecah dan krisis ekonomi melanda, sorotan tajam dan kecaman dunia tidak hanya akan tertuju pada Washington atau Teheran. Sorotan itu akan beralih ke Markas Besar PBB di New York. Kritik keras akan menghujani Dewan Keamanan PBB yang seringkali lumpuh oleh hak veto. Dunia yang frustrasi oleh melonjaknya harga barang akan menilai PBB sebagai lembaga yang gagal menjaga perdamaian. Ini adalah krisis otoritas moral di mana PBB bisa dicap sebagai organisasi yang tak berguna ketika dunia membutuhkannya paling banyak (United Nations, 2026).

Dalam kekosongan kepemimpinan global ini, mata internasional pun beralih ke posisi strategis Indonesia. Sebagai salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB) dan pemegang teguh politik luar negeri "Bebas Aktif", Indonesia memiliki legitimasi historis untuk mengisi kekosongan tersebut. Indonesia didorong untuk memainkan peran mediator, menjadi "jembatan" yang menghubungkan kubu Barat dan Timur ketika jembatan resmi PBB sedang "putus". Pemerintah memiliki kesempatan emas untuk menerjemahkan semangat "Bebas Aktif" menjadi aksi diplomasi preemptif: mencegah perang dengan membawa pakta stabilitas ekonomi regional, serta mengkonsolidasikan ASEAN dan mitra selatan untuk membentuk blok penekan yang menolak ikut terseret dalam sanksi ekonomi berlebihan.

Mari kita turun dari menara gading teori diplomasi tingkat tinggi dan menerjemahkan skenario mengerikan "Selat Hormuz Tertutup" tersebut menjadi angka kerugian nyata yang harus ditanggung oleh Indonesia. Angka-angka ini akan membuktikan mengapa mediasi damai adalah kebutuhan eksistensial, bukan sekadar pilihan moral. Jika diplomasi gagal dan jalur minyak tertutup, beban impor BBM nasional—yang rata-ratanya mencapai 300.000 hingga 400.000 barel per hari—akan meledak luar biasa.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2026, kenaikan harga sebesar USD 50 per barel saja akibat gangguan selat akan menambah beban impor kita sekitar USD 1,5 miliar hingga USD 2 miliar per bulan. Jika kita menukarkan angka dolar tersebut ke dalam mata uang Rupiah dengan asumsi kurs Rp 15.500 per dolar, ini setara dengan Rp 23 triliun hingga Rp 31 triliun yang "terbang" keluar dari kas negara dalam waktu sekejap mata hanya untuk membiayai impor energi yang lebih mahal (Kementerian ESDM RI, 2026). Tekanan valas yang masif ini akan membuat Neraca Transaksi Berjalan (Current Account) kita jatuh ke zona merah defisit dalam sekejap.

Situasi ini akan memaksa Bank Indonesia melakukan intervensi keras di pasar, menguras cadangan devisa yang hingga akhir 2025 tercatat berada di kisaran USD 150 miliar atau sekitar Rp 2.300 triliun. Jika cadangan ini terkuras terus-menerus untuk menstabilkan Rupiah, maka peringkat utang negara yang baru saja dipertahankan pada level investment grade oleh Moody's di awal 2026 bisa terancam downgrade (Moody's Investors Service, 2026). Depresiasi Rupiah yang tajam akibat eksodus modal asing (capital flight) ini akan memicu spiral kenaikan harga barang-barang impor lainnya, menambah beban hidup rakyat.

Dampak domino dari efek perang ini tidak berhenti di neraca pembayaran makro. Efeknya akan merembes masuk ke dapur rumah tangga Indonesia melalui mekanisme inflasi yang sangat kejam. Data historis Bank Indonesia menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga BBM sebesar 10 persen berpotensi menambah inflasi sekitar 1 hingga 1,5 persen (Bank Indonesia, 2025). Jika penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak global melonjak dari rata-rata USD 80 menjadi USD 160 per barel, inflasi nasional yang pada proyeksi awal tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 2,5 persen hingga 3 persen, bisa meledak menjadi 7 persen hingga 8 persen atau bahkan lebih.

Pemerintah kemudian akan terjebak dalam dilema fiskal knife-edge yang sangat menyiksa: apakah menaikkan harga BBM di SPBU yang akan memicu kemarahan rakyat dan demonstrasi sosial, atau mempertahankan harga melalui subsidi? Anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 saja sudah mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 180 triliun, naik signifikan dari tahun sebelumnya akibat fluktuasi harga (Kementerian Keuangan RI, 2026). Jika harga minyak melonjak ganda, angka ini bisa membengkak menjadi Rp 350 triliun atau lebih. Pilihan kedua berarti mengorbankan anggaran untuk program unggulan prioritas nasional—apakah itu pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, atau pelayanan kesehatan—hanya untuk menambal defisit energi.

Lebih parah lagi, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam Economic Outlook pertengahan tahun 2026 memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak signifikan akibat konflik geopolitik bisa memangkas pertumbuhan ekonomi global hingga satu persen (OECD, 2026). Jika ekonomi dunia anjok dari proyeksi pertumbuhan 2,9 persen menjadi 1,9 persen, permintaan ekspor komoditas utama Indonesia—mulai dari batu bara yang tahun 2025 menyumbang devisa USD 48 miliar, nikel senilai USD 35 miliar, hingga CPO senilai USD 30 miliar—akan runtuh. Potensi kerugian dalam bentuk pertumbuhan PDB yang hilang atau lost growth bisa mencapai Rp 200 triliun hingga Rp 300 triliun setiap tahunnya. Mengacu pada data PDB Indonesia 2025 yang tembus Rp 22.000 triliun (BPS RI, 2026), hilangnya Rp 300 triliun berarti kita kehilangan hampir 1,5 persen momentum pertumbuhan yang seharusnya bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Ini adalah kekayaan bangsa yang raib di tengah badai stagflasi.

Oleh karena itu, peran aktif Indonesia di kancah internasional adalah fungsi vital untuk menyelamatkan agenda pembangunan dalam negeri ketika mekanisme global PBB macet. Indonesia harus memanfaatkan posisinya yang berada di tengah kubu-kubu tersebut. Kita harus menjadi jembatan komunikasi yang berani menekankan kepada Iran bahwa penutupan Selat Hormuz adalah tindakan "bunuh diri ekonomi". Sebaliknya, Indonesia harus menyuarakan kepada komunitas internasional bahwa sanksi ekonomi yang berlebihan tanpa payung hukum PBB hanya akan mempercepat krisis energi global.

Operan politik dari Jakarta haruslah cerdas: menawarkan netralitas Indonesia dengan imbalan jaminan keamanan jalur pelayaran internasional. Namun, kita juga harus menyadari bahwa diplomasi luar negeri tanpa disertai ketahanan energi domestik yang kokoh adalah bagai tangan tanpa otot. Maka, peran mediasi ini harus diiringi oleh aksi konkrit dalam negeri. Transformasi energi harus segera dijalankan sebagai agenda pertahanan nasional. Data dari PT Pertamina (2026) menunjukkan program biodiesel B40 yang mulai diuji coba secara luas tahun ini mampu menghemat devisa hingga lebih dari USD 12 miliar per tahun. Di saat Selat Hormuz terancam tertutup, setiap tetes biodiesel dari kelapa sawit kita adalah satu tetapan kemerdekaan fiskal. Program kendaraan listrik dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) harus dipercepat secara darurat untuk memutus ketergantungan pada BBM fosil.

Eksekusi penutupan Selat Hormuz oleh Iran dalam perang melawan AS bukan sekadar manuver militer; itu adalah tes bagi peradaban. Jika PBB gagal bertindak dan biarkan "tombol nuklir" ekonomi ditekan, dunia akan masuk era kegelapan ekonomi. Indonesia, dengan semangat non-bloknya, harus berdiri di garis depan. Kita harus mendorong dialog dan menyalakan kembali semangat multilateralisme. Karena pada akhirnya, kedaulatan sebuah bangsa di abad ke-21 tidak diukur dari kekuatan untuk menghancurkan, tetapi dari kemampuannya mempertahankan kesejahteraan rakyatnya di tengah badai kegagalan pasar global. Kita harus membendung kehancuran itu sebelum pintu air Selat Hormuz itu tertutup selamanya.

Simak Video 'Harga Minyak Meroket, Negara-negara OPEC+ Siap Genjot Produksi':

(imk/imk)


Berita Terkait