Gagasan 'Gentengisasi' ala Prabowo: Kebijakan Hunian untuk Negara Tropis
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Gagasan 'Gentengisasi' ala Prabowo: Kebijakan Hunian untuk Negara Tropis

Rabu, 04 Feb 2026 13:47 WIB
Trubus Rahardiansyah
Pengamat Kebijakan Publik, Guru Besar Universitas Trisakti.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Gagasan Gentengisasi ala Prabowo: Kebijakan Hunian untuk Negara Tropis
Foto: Ilustrasi genteng (Dikhy Sasra)
Jakarta -

Gagasan Presiden Prabowo Subianto tentang gerakan gentengisasi nasional patut dipahami sebagai kebijakan publik yang melampaui isu estetika. Dalam konteks negara tropis seperti Indonesia, pilihan material atap merupakan keputusan struktural yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, kualitas hidup, serta keberlanjutan pembangunan.

Selama ini, penggunaan atap seng meluas karena murah dan cepat dipasang. Namun berbagai kajian menunjukkan bahwa material atap logam memiliki performa termal yang buruk di iklim panas dan lembap, karena menyerap dan memantulkan panas matahari langsung ke ruang di bawahnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah meningkat dan bertahan lebih lama, terutama pada siang hingga malam hari.

Penelitian lintas disiplin mengenai panas ekstrem di dalam rumah di kawasan perkotaan Afrika Barat menunjukkan bahwa panas dalam ruang merupakan ancaman kesehatan yang bersifat "sunyi".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia jarang muncul sebagai diagnosis medis tunggal, tetapi berdampak nyata pada keseharian penghuni rumah. Studi tersebut menegaskan bahwa kelompok yang paling terdampak adalah balita dan lansia, karena secara fisiologis memiliki kemampuan termoregulasi tubuh yang lebih terbatas dan menghabiskan waktu lebih lama di dalam rumah.

Pada balita, suhu ruang yang tinggi meningkatkan risiko heat stress ringan hingga sedang, yang kerap ditandai dengan dehidrasi, kelelahan, gangguan tidur, dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini tidak selalu berujung pada rawat inap, tetapi secara akumulatif dapat mengganggu tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak.

ADVERTISEMENT

Sementara pada lansia, paparan panas kronis berisiko memicu dehidrasi yang tidak disadari, memperburuk penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan jantung, serta meningkatkan kerentanan terhadap kelelahan ekstrem.

Selain itu, panas dalam rumah juga berdampak langsung pada penurunan kualitas tidur. Suhu ruang yang tetap tinggi pada malam hari membuat tidur menjadi dangkal dan terfragmentasi.

Dalam jangka panjang, gangguan tidur ini menurunkan imunitas, konsentrasi, dan produktivitas, serta memperberat kondisi kesehatan yang sudah ada-terutama pada lansia. Dampak-dampak ini bersifat kumulatif dan sering kali tidak tercatat sebagai masalah kesehatan formal, tetapi dirasakan luas oleh masyarakat.

Temuan tersebut diperkuat oleh studi pemodelan energi skala global yang menganalisis lebih dari 150.000 skenario desain bangunan di kota-kota tropis, termasuk Jakarta.

Kajian ini menunjukkan bahwa material atap merupakan faktor paling menentukan dalam paparan heat stress di dalam rumah, dan bangunan dengan atap logam mengalami paparan panas jauh lebih tinggi dibandingkan bangunan dengan atap genteng tanah liat atau material bermassa termal tinggi.

Dalam kondisi tertentu, paparan heat stress dapat terjadi pada sebagian besar jam dalam setahun jika desain bangunan tidak adaptif terhadap iklim.

Dalam perspektif kebijakan publik, kondisi ini menciptakan beban kesehatan laten (latent public health burden). Masyarakat tidak langsung sakit, tetapi hidup dalam lingkungan hunian yang secara perlahan menggerus kesehatan, kualitas tidur, dan produktivitas.

Beban ini kemudian berimplikasi pada meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk listrik dan kesehatan, serta tekanan jangka panjang pada sistem pelayanan kesehatan.

Di sinilah kebijakan gentengisasi menemukan relevansinya. Genteng tanah liat berbasis bahan lokal memiliki massa termal yang lebih baik, sehingga mampu menahan dan melepaskan panas secara lebih stabil.

Penggunaan genteng dapat menurunkan suhu ruang, memperbaiki kenyamanan termal, serta mengurangi risiko heat stress dan dehidrasi, terutama bagi kelompok rentan. Dengan kata lain, gentengisasi merupakan intervensi kesehatan preventif berbasis lingkungan, bukan sekadar penggantian material bangunan.

Lebih jauh, kebijakan ini memiliki efek ganda. Selain meningkatkan kualitas hunian, gentengisasi membuka ruang industrialisasi desa melalui koperasi, memanfaatkan bahan baku lokal dan limbah industri, serta menciptakan lapangan kerja berbasis wilayah. Ini adalah contoh kebijakan publik yang menyatukan agenda kesehatan, ekonomi rakyat, dan penataan ruang hidup secara simultan.

Dalam iklim tropis yang kian memanas akibat perubahan iklim, negara tidak cukup hanya merespons penyakit. Negara perlu mencegah sumber risikonya sejak dari desain hunian. Dari sudut pandang tersebut, gerakan gentengisasi layak dibaca sebagai kebijakan sederhana dengan dampak struktural. Dimulai dari atap rumah warga, tetapi berujung pada peningkatan kualitas hidup bangsa.

Kebijakan gentengisasi tidak saja mendorong tumbuh kembangnya industrialisasi pemanfaatan tanah yang menyerap tenaga kerja massal tetapi juga memiliki esensi melestarikan kearifan lokal yang bersifat historis mengingat eksistensi genteng telah ada di manuskrip-manuskrip kuno dan terpahat pada relief candi Borobudur dan candi Prambanan serta candi-candi era Majapahit yang hingga kini masih dapat kita saksikan di Museum Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Setidaknya praktek penggunaan genteng untuk atap rumah telah terbukti berdampak positif bagi kesehatan masyarakat, efisien dan praktis serta diminati masyarakat pedesaan selain juga teruji membawa kemanfaatan publik yang luas.

Oleh karena itu ide cemerlang Prabowo terkait gerakan gentengisasi nasional perlu direalisasikan dengan mendorong generasi muda di desa untuk mengembangkan potensi desanya dengan industrialisasi genteng secara berkelanjutan, dalam kerangka upaya peningkatan ekonomi di pedesaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari visi Asta Cita.

Trubus Rahardiansyah. Pengamat Kebijakan Publik, Guru Besar Universitas Trisakti.

Simak Video 'Prabowo Usulkan Proyek 'Gentengisasi', Pramono Anung Setuju 1.000%':

(rdp/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads