Memerangi Amplop Wartawan (2)
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Sama dengan orang lain yang bangga akan profesinya, kalau ada yang bilang kelakuan wartawan itu brengsek, saya selalu bilang, demikianlah adanya. Tapi tidak semua wartawan brengsek. Ada yang bagus, meski tidak banyak. Kalau gak ada wartawan bagus, mana ada koran yang laku, yang dipercaya masyarakat.Sama dengan profesi lain, ada pengacara yang suka menyogok polisi, jaksa dan hakim, tapi ada juga pengacara yang lurus dengan resiko tak laku. Ada polisi yang setiap hari menerima suap, tapi ada juga yang rela berpanas berhujan mengatur lalu lintas oleh semangat pengabdian. Ada dokter yang menolak bayaran pasien tak mampu, tapi banyak juga yang menaikkan tarif dan harga obat.Berdasarkan pengalaman menekuni profesi wartawan lebih dari sepuluh tahun, saya merasa tak cukup kalau megelompokan wartawan terdiri dari wartawan baik dan wartawan buruk. Ada variasi lain di antara keduanya. Menurut saya ada empat jenis wartawan, yaitu WTS, wartawan bodrek, wartawan semprul dan wartawan beneran.WTS atau wartawan tanpa suratkabar. Sebetulnya bukan wartawan. Ini hanyalah orang-orang yang mengaku-aku sebagai wartawan. Berpenampilan bagai wartawan tangguh, pakai rompi banyak saku, menenteng kamera, dan topi bergambar jargon pers. Tetapi sesungguhnya mereka bukanlah wartawan. Mereka tidak bekerja pada media. Mereka mengaku sebagai wartawan hanya untuk memeras narasumber saja.Kedua, wartawan bodrek. Yang ini adalah orang atau sekelompok orang yang mengaku sebagai wartawan, mereka mengaku bekerja di satu media, tetapi media tersebut tidak jelas. Terbit tergantung kebutuhan, semata-mata demi pemerasan. Artinya kalau ada isu atau โberitaโ yang bisa dimainkan untuk memeras, ya terbitannya beredar. Tapi kalau tak ada isu, mereka tetap beroperasi, menakut-nakuti.Ketiga, wartawan semprul. Mereka dalah wartawan yang bekerja pada media tertentu, punya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan jurnalistik. Namun mereka bekerja tidak semata-mata untuk kepentingan jurnalistik (tidak untuk kepentingan orang banyak), tapi juga untuk kepentingan pribadi. Salas satu contoh yang menonjol, wartawan suka minta amplop meski kalau tidak dikasih tidak memaksa, wartawan yang merangkap jadi humas lembaga atau pejabat tertentu.Keempat, wartawan Beneran. Inilah wartawan profesional (hanya hidup sebagai wartawan tidak ngobyek sana sini, punya pengetahun, pengalaman dan keterampilan jurnalistik, mentaati prinsip-prinsip kerja jurnalistik dan kode etik). Mereka hanya menerima gaji dari kantor dan menolak pemberian dari nara sumber. Mereka tahu persis harga diri profesi, sehingga tidak silau oleh sogokan.Tak usaha bicara wartawan baik, karena memang sudah seharusnya demikian. Kalau bicara wartawan brengsek maka WTS dan bodrek paling gampang diidentifikasi. Selain penampilannya yang mirip preman, kecerdasannya juga terasa kalau kita bicara. Para petugas humas dan bahkan para pejabat pun mengetahui kalau mereka bukan wartawan beneran. Banyak pihak yang berani mengabaikan meraka, tetapi tidak sedikit pejabat daerah, atau pejabat pusat yang kuper, yang merasa tidak berkutik. Di lingkungan Pemda dan DPRS Sumendang, jumlah wartawan yang beroperasi maksimal 20 orang. Tapi kalau menjelang lebaran, daftarnya bisa membengkak menjadi 200 orang. Ini cerita bupati. Yang paling susah adalah mengidentifikasi wartawan semprul. Sebab mereka memiliki pengetahun, keterampilan dan pengalaman jurnalistik. Mereka juga bekerja di media tertentu, bahkan medianya berpengaruh. Makanya, kalau tidak menerima amplop, mereka tidak kecewa, meski kalau ada langsung disamber tanpa malu. Operasi mereka justru bisa menghasilkan uang berlipat. Mereka berani tawar menawar dengan nara sumber soal naik tidaknya berita, atau sisi berita mana yang hendak ditonjolkan. Mereka juga lihai menjalankan fungsi humas lembaga atau pejabat. Kalau terima amplop, mereka berdalih amplop ini tak mempengaruhi isi berita. Kalau menolak amplop, dia bilang, lebih baik lewat rekening saja.Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(Didik Supriyanto/)











































