Kolom

Berakhirnya Riset Pertanian Era Balitbang K/L

Adnan, Ph.D - detikNews
Kamis, 17 Mar 2022 13:39 WIB
Berakhirnya Riset Pertanian Era Balitbang K/L
Adnan, Ph.D (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Proses integrasi badan penelitian dan pengembangan (balitbang) seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tutup buku pada 31 Januari 2022. Saat ini, integrasi masih menyisakan proses pengalihan 6 balitbang K/L terakhir yaitu Kemkes, KLHK, Kemenperin, Kem-ESDM, KKP, dan Kementan. Jadwal pengalihan 6 balitbang K/L ini terlambat dari jadwal semula yang diharapkan selesai per 31 Desember 2021.

Keterlambatan terjadi akibat dinamika pengalihan SDM dan aset. Riset di 6 balitbang K/L tersebut dikategorikan sebagai hard science, dalam konteks pengalihan fasilitas riset seperti laboratorium, kebun percobaan, kapal, dan sarana terkait lainnya diperlukan agar riset tidak terganggu dan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Tanpa pengalihan aset, peneliti tidak bisa melakukan kegiatannya. BRIN akan membutuhkan waktu beberapa tahun ke depan untuk membangun kembali fasilitas riset yang dibutuhkan. Fasilitas riset yang tidak dialihkan juga tidak akan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh K/L terkait. Negara kehilangan waktu dan dana, serta potensi aset riset mangkrak jika Perpres 78 tahun 2021 tidak dijalankan dengan baik.

Era BRIN

Setelah proses pengalihan balitbang K/L ke BRIN selesai, lalu bagaimana nasib riset, khususnya riset pertanian di masa depan? Riset pertanian merupakan bagian dari ekosistem yang terdiri dari petani itu sendiri, periset, penyuluh, pemerintah pusat dan daerah, DPR, perguruan tinggi, LSM, tengkulak, lembaga keuangan dan investasi, pasar, start-up, serta industri pupuk dan alsintan. Setiap bagian dan profesi adalah penting serta saling terkait. Periset mempunyai peran sebagai enabler terhadap proses bisnis pertanian secara keseluruhan.

BRIN lahir untuk memberikan solusi terhadap permasalahan riset yang terjadi selama ini, termasuk riset bidang pertanian. Bagaimana integrasi riset di BRIN dapat menyelesaikan permasalahan pertanian yang cukup kompleks, terjadi berulang-ulang, dan seperti tanpa solusi berarti? Jawabannya adalah evidence-based policy. Kata tersebut mengandung dua bagian, yaitu evidence-based yang merupakan ranah periset, serta policy merupakan bagian Manajemen dan Dewan Pengarah BRIN.

Lalu, bagaimana evidence-based tersebut dihasilkan? Evidence-based diproduksi di 12 organisasi riset (OR) yang bersifat dinamis dan setara dengan eselon 1. Namun, Kepala OR bukan pejabat struktural eselon 1, harus merupakan pejabat fungsional Ahli Utama terkait riset. OR tidak membawa entitas lama dari K/L, merupakan sesuatu yang baru dalam sistem tata kelola organisasi pemerintahan di Indonesia. OR juga tidak menguasai fasilitas atau anggaran tertentu.

BRIN menerapkan konsep free space and time. Berdasarkan konsep tersebut, riset pertanian tidak dilakukan secara terpisah oleh OR tertentu. Demikian juga, periset dengan latar belakang pertanian, tidak harus berada di OR bahkan lokasi kerja tertentu. Sebagai tambahan, periset di luar bidang pertanian dapat berkolaborasi untuk menyelesaikan permasalahan pertanian. Kolaborasi tersebut tercermin dalam tim periset beranggotakan 6 orang, terdiri dari maksimal 3 periset BRIN, dan selebihnya harus dari luar BRIN.

Cara kerja bagaimana evidence-based diproduksi, bisa diilustrasikan secara sederhana sebagai berikut. Misalkan permasalahan harga komoditas bawang merah yang tidak menguntungkan bagi konsumen, petani pun tidak ikut merasakan bagian keuntungan yang adil, serta negara rugi karena kenaikan harga menyumbang terhadap tingkat inflasi.

Periset OR Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat dapat mengajukan hipotesis mengenai tata kelola dan kuota tanam bawang merah pada wilayah tertentu serta jalur distribusi dan pemasarannya. Periset OR Hayati dan Lingkungan mengeksplorasi dan merekayasa sumber daya genetik bawang merah agar bisa ditanam pada spesifik lokasi. Selain itu, perekayasaan material maju, bawang merah diproses menjadi bahan lain bernilai tinggi, bukan hanya sekadar menjadi bawang goreng saja. Periset OR Pertanian dan Pangan menguji sumber daya genetik pada kondisi spesifik lokasi mulai dari aspek agronomi, hama penyakit sampai pascapanen.

Daya dukung lingkungan pertanian seperti aspek kesesuaian lahan dan ketersediaan air diteliti oleh periset OR Kebumian dan Maritim. Penerapan dan difusi teknologi pada petani dilakukan oleh periset OR Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora. Selanjutnya, manfaat bawang merah bagi manusia atau hewan bisa diteliti oleh OR Kesehatan sehingga tercipta paten dan produk kesehatan yang bernilai jual berkali-kali lipat dari harga bahan asalnya. Periset OR Elektronika dan Informatika diperlukan untuk membawa hasil riset ke dunia digital dan industri 4.0 dengan penerapan teknologi informasi dan artificial intelegent.

Evidence-based yang diproduksi melalui proses bisnis dan kolaborasi seperti gambaran tersebut wajib untuk diterbitkan pada jurnal internasional dan nasional terakreditasi, serta dalam bentuk paten. Hasil dan ide berdasarkan data dan fakta diuji oleh komunitas ilmiah nasional dan internasional. Tugas periset berakhir di sini. Selanjutnya, merupakan tugas Manajemen dan Dewan Pengarah untuk membawa evidence-based yang dihasilkan periset menjadi sebuah policy, dan diwujudkan pada dunia nyata. Produk dan jasa hasil riset menetas, membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan menyelesaikan permasalahan bangsa.

Adnan, Ph.D periset teknologi pascapanen BPTP Papua


(mmu/mmu)