Kolom

Membangun Pertanian di Perkotaan

Kunti Panganti - detikNews
Kamis, 09 Des 2021 12:20 WIB
Kelompok Tani Wanita Mak Demplon di kawasan RW 05 Sunter Agung, Jakarta Utara, sukses membudidayakan sayur sawi hingga panen lho.
Kelompok tani di Sunter panen sawi (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Pangan yang sehat, satu kalimat yang pas untuk dua momen pada dua bulan terakhir ini. Bulan kemarin tepatnya 16 Oktober diperingati Hari Pangan Se-Dunia, dan pada November tepatnya tanggal 12 diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional. Tuntutan pangan yang sehat meningkat seiring dengan terpaan pandemi Covid-19 dan hijrahnya gaya hidup masyarakat saat ini, membuat peluang bagi petani sebagai produsen pangan untuk menghadirkan pangan segar asal tumbuhan yang aman secara kuantitatif maupun kualitatif.

Di sisi lain, pembangunan pertanian di Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan di antaranya meningkatnya jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman, pengembangan pariwisata, dan industri yang dianggap memiliki potensi sehingga lebih cenderung untuk dikembangkan, terutama di daerah perkotaan. Berkurangnya luas lahan pertanian di kota di wilayah-wilayah Indonesia mengakibatkan kegiatan pertanian juga berkurang. Hal ini berdampak pada ketersediaan bahan pangan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut muncullah konsep urban farming atau program pertanian untuk wilayah perkotaan. Konsep urban farming sebagai program digulirkan oleh pemerintah seperti Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang sekarang berganti nama Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program ini digulirkan untuk tetap menjaga kualitas hidup masyarakatnya dengan ketersediaan bahan baku makanan yang sehat, seperti sayuran dan ikan. Selain itu, karena banyaknya lahan kosong yang tak termanfaatkan di wilayah kota. Jadi bisa disimpulkan bahwa konsep ini tidak hanya memenuhi unsur ketahanan pangan, tetapi juga pelestarian lingkungan.

Kelompok Wanita Tani (KWT) adalah salah satu lembaga masyarakat yang bisa menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk mendukung kesuksesan program ini. Tidak berbeda jauh dari hakikatnya, KWT di tengah perkotaan merupakan sebuah perkumpulan wanita yang melakukan kegiatan berhubungan dengan hasil pertanian meskipun lebih cenderung ke pengolahan atau hilirisasi. Jika dihubungkan dengan konsep urban farming, maka tujuan dari pemberdayaan ini adalah agar dapat ikut berpartisipasi menciptakan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan kuat.

Bukan berarti tanpa kendala mensukseskan program urban farming pada KWT di tengah perkotaan. Program yang sering berganti nama (KRPL menjadi P2L misalnya) meskipun bertujuan sama, menjadi kendala pada saat pendampingannya, karena pastinya tahapan kegiatan juga akan berubah. Belum lagi keberlangsungan program ini juga dipertanyakan jika pemerintah tidak lagi mem-backup-nya. Selain itu minimnya pengetahuan tentang budidaya pertanian di lingkungan wanita perkotaan.

Sebagai langkah awal, pembinaan dan pendampingan bisa dilakukan dari berbagai pihak baik dari pemerintah maupun swasta. Peningkatan sumber daya manusia anggota KWT merupakan kegiatan prioritas guna keberlangsungan program. Tuntutan kemandirian kelompok juga sangat mutlak diperlukan mengingat tidak selamanya kegiatan akan di-backup oleh pemerintah. Karenanya ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan, selain untuk mensukseskan juga untuk mempertahankan keberlangsungan program.

Pertama, Tahap Penyuluhan. Pada tahap ini diharapkan para anggota KWT bisa mengubah sikap, perilaku, dan ketrampilannya terhadap pengetahuan budi daya pertanian, penganan pascapanen, dan pengolahan hasil pertanian. Kedua, Tahap Pelatihan. Tahap ini mulai memperkenalkan cara dan praktik budi daya yang lebih efektif dan efisien bagi wanita di perkotaan, seperti metode bercocok tanam dengan hidroponik, vertikultur atau irigasi tetes, dan sebagainya.

Ketiga, Tahap Demplot. Pada tahap ini membutuhkan biaya yang banyak, dukungan pemerintah dengan memfasilitasi kegiatan sangat mendukung bagi terselenggaranya program, upaya pemeliharaan fasilitas oleh kelompok juga diperlukan agar bisa digunakan secara terus menerus. Keempat, Tahap Pendampingan, selain untuk menjaga kontinuitas juga bisa menjadi upaya untuk pengembangan usaha yang bersifat ekonomis.

Dengan tahapan ini anggota tidak hanya mengarah pada budidaya pemenuhan kebutuhan primer, tetapi juga mengarah ke pemasaran yang bernilai ekonomis guna menambah penghasilan rumah tangga.

Bukan tidak mungkin membangun pertanian di tengah perkotaan pada era saat ini. Dengan melibatkan semua pihak salah satunya para wanita yang tergabung dalam wanita tani untuk menyediakan pangan yang sehat dan aman. Di tangan para wanita ketersediaan dan keamanan pangan keluarga bisa menjadi cikal bakal ketahanan pangan nasional. Dan, di tangan wanita pulalah makanan sehat untuk generasi masa depan bisa tersaji.

Kunti Sri Panganti mahasiswa Magister Agribisnis-DPPS UMM

(mmu/mmu)