Kolom

Anak Berkebutuhan Khusus dan Kegagapan Kita

Sutriyono - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 15:02 WIB
Sejumlah Anak Berkebutuhan Khusus tengah belajar membuat batik di Pasar Gintung, Tangerang Selatan, Sabtu (2/10/2021). Kegiatan membatik ini dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, 2 Oktober 2021.
Keterampilan anak-anak berkebutuhan khusus membantik (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Beberapa bulan ini saya dalam proses menyusun buku jejak-jejak dan "dampak" dari penerapan pendidikan inklusif di Cilacap. Sekolah yang menjadi objek utama adalah sekolah karya Pastor Carolus OMI melalui Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS)-Cilacap. Atas karya-karya sosialnya, Pastor Carolus mendapatkan penghargaan Maarif Award 2012. Lembaga pendidikan merupakan salah satu karya Carolus.

Dalam kronologi singkat sekolah inklusif yang dibuat Pastor Carolus adalah demikian; pada 1998 ada satu siswa terkategori autis mendaftar di SD Maria Immakulata Cilacap. Itu adalah nama sekolah karya pastor kelahiran Irlandia tersebut.

Pastor Carolus menegaskan kepada para guru, apa pun kondisi siswa, sekolah tidak boleh menolak. Sekolah harus menerima para siswa termasuk dari keluarga miskin, ataupun anak berkebutuhan khusus (ABK). Maka begitulah, dalam masing-masing kelas di antara siswa-siswi SD Maria Immakulata, terdapat anak entah penyandang tunarungu, lambat berpikir, autis, gangguan motorik, dan sebagainya.

Pada 2004 siswa ABK pertama tersebut menghadapi ujian akhir Kelas 6 SD. Pada saat bersamaan ada pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang datang meninjau sekolah. Mengetahui hal itu, pejabat tersebut kemudian mendukung apa yang dibuat sekolah mengingat telah mulai digulirkan program pendidikan inklusif.

Jadi, sejak 1998, secara de facto sekolah tersebut menjalankan peran sekolah inklusif. Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (Permendiknas No. 70 tahun 2009).

Dalam tingkat nasional, deklarasi pendidikan inklusif baru dinyatakan di Bandung pada 11 Agustus 2004. Bila membandingkan angka tahun tersebut dengan angka tahun sekolah Carolus "menegaskan diri" sebagai sekolah inklusif; sekolah Carolus enam tahun lebih awal.

Hal tersebutlah yang membuat saya semakin bersemangat untuk menelusuri karya pendidikan insklusif Carolus. Inisiatif yang muncul dari bawah biasanya lebih kuat dibandingkan hal yang "dipaksakan" oleh aturan atau kebijakan dari atas atau pemerintah.

Nacha dan Ellena

Ada satu hal yang membuat saya merasa beruntung. Saya menemukan dokumentasi dalam bentuk video dari satu program televisi yang pernah menayangkan karya pendidikan inklusif tersebut. Dalam satu bagiannya, diceritakan bagaimana siswa "normal" mendukung siswa lain yang berkebutuhan khusus. Saat itu mereka kelas enam SD Maria Immakulata.

Nacha, anak laki-laki, penyandang tunarungu. Ketika Nacha mengalami kesulitan menangkap paparan pelajaran dari Bu Guru, seorang teman perempuan yang bernama Ellena membantu menjelaskan. Ellena kadang menggunakan bahasa isyarat. Akan tetapi Nacha juga perlahan belajar membaca gerak bibir.

Sekitar tiga minggu lalu saya mengundang keduanya untuk bertemu. Mereka sudah Kelas 1 SMA atau Kelas 10. Nacha melewatkan masa SMP di SMP Maria Immakulata, kemudian lanjut di SMA Yos Sudarso yang juga masih di bawah yayasan yang dikelola Pastor Carolus. Sementara sejak SMP, Ellena menjalani pendidikan di sekolah negeri.

Ellena menyebutkan bahwa hari itu adalah pertemuan pertama selepas kelulusan SD empat tahun lalu.

Nacha telah tumbuh menjadi remaja yang penuh percaya diri. Tidak lagi terlihat menunduk seperti dalam tayangan video empat tahun sebelumnya. Pandangan Nacha menatap orang yang mengajaknya berbicara. Senyum terus mengembang di bibirnya.

Sementara itu, Ellena terlihat tidak berubah. Pandangan mata dan sikapnya tetap sama, terlihat sebagai seorang yang menaruh rasa hormat dan respek pada seorang teman berkebutuhan khusus.

Ellena menyebutkan bahwa dirinya senang dan salut dengan almamater SD-nya. Sekolah inklusif yang ia lewati membuat dirinya dapat mengenal dan bersahabat dengan teman-teman ABK. Ia mendapat kesempatan belajar bagaimana bersikap dan membantu teman-teman ABK.

Gagap

Hal lain yang perlu saya tambahkan di sini adalah masalah yang lebih bersifat pribadi saya sebagai penulis dan pewawancara mereka. Secara singkat saya tuliskan; saya gagap bertemu ABK!

Ketika saya hendak menggali pengalaman Nacha, saya merasa harus bertanya dahulu pada ibunya yang ikut menemani. Bila saya mengajukan pertanyaan tersebut, apakah puteranya akan dapat menangkap dan memahami?

Dengan bijak, ibunya justru mendorong saya untuk bertanya langsung pada Nacha. "Tidak apa-apa, tanyakan langsung saja," kata ibu Nacha.

Ketika saya mencoba bertanya pada Nacha, saya menangkap Nacha tidak cukup bisa memahami apa yang saya ungkapkan. Akhirnya saya harus mengakui bahwa saya tidak cukup memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan anak tunarungu. Komunikasi kami lantas banyak terbantu karena keberadaan Ellena di situ.

Merefleksikan apa yang saya alami, saya membenarkan ungkapan Pastor Carolus. Dalam hal belajar empati dengan ABK, atau juga memahami dan juga berkomunikasi dengan mereka, tak cukup "hanya diajarkan", tetapi harus dilatihkan. Orang harus (sering) berjumpa langsung dengan ABK untuk kemudian memiliki empati yang memadai, sampai terampil berkomunikasi dengan mereka. Dan saya mengakui, tidak banyak memiliki kesempatan semacam itu.

Kegagapan bertemu ABK seperti yang saya alami juga terjadi di antara anak-anak SMP Maria Immakulata. Siswa Kelas 1 SMP atau Kelas 7, berasal dari berbagai SD. Sekolah yang juga lantas ditetapkan sebagai sekola inklusif itu, menerima lanjutan siswa ABK dari SD Immakulata.

Menurut guru SMP Immakulata yang menangani siswa ABK, pada mulanya para siswa gagap. Mereka tidak atau belum tahu bagaimana menyikapi teman mereka yang misalnya tiba-tiba bicara sendiri, atau tiba-tiba tantrum, atau tiba-tiba memukul salah satu teman tanpa sebab. Perlahan-lahan guru mengajari mereka bagaimana bersikap dengan teman-teman istimewa mereka itu.

Terlebih lagi, di antara para siswa SMP itu ada lulusan SD Maria Immakulata. Berteman dengan siswa ABK selama enam tahun, membuat mereka dapat membantu teman-teman lain dalam belajar menerima dan berkomunikasi dengan siswa ABK.

Mendengar ungkapan-ungkapan orangtua siswa ABK, jelas tertangkap ungkapan syukur yang besar karena penyelenggaraan sekolah inklusif. Anak berkebutuhan khusus yang dibaurkan dengan anak-anak reguler mengalami pertumbuhan dan perkembangan, terutama dalam relasi sosial, secara lebih baik.

Bila saja sistem pendidikan inklusif semakin serius digarap, akan semakin banyak ABK terbantu dalam berkembang. Selain itu generasi muda kita semakin mampu menerima keunikan dan perbedaan teman-teman mereka. Dalam cakupan yang lebih luas, perbedaan tersebut juga mencakup agama, kepercayaan, suku, warna kulit, budaya, dan sebagainya.

Tentu saja tidak mudah. Seperti kegagapan saya saat bertemu Nacha yang tunarungu atau dengan ABK yang lain, demikian juga saya kira sebagian besar masyarakat kita, gagap ketika bertemu ABK. Soal tunarungu saja misalnya, pengetahuan umum masyarakat kita masih sangat terbatas.

Mungkin ada orang yang memiliki pandangan, ketika anak tunarungu memakai alat bantu dengar, ia lantas dapat mendengar apa yang kita katakan sedemikian adanya. Mungkin juga ada yang berpandangan, ketika seorang anak tunarungu sudah memakai alat bantu dengar, lantas dengan sendirinya bisa berbicara seperti umumnya. Tidak sesederhana itu!

Bahkan menurut saya, dua pandangan yang menyederhanakan permasalahan tersebut sembrono dan serampangan. Pandangan yang bukan saja membuat terlihat gagap saat bertemu penyandang tunarungu, tetapi juga salah dalam bersikap. Kesalahan dalam bersikap dapat menyakiti dan melukai perasaan ABK.

Seperti halnya kita mengharapkan diterima apa adanya, demikian juga para anak berkebutuhan khusus. Pastor Carolus bahkan memilih menyebut anak-anak ini sebagai "anak-anak istimewa" yang menjadi berkat bagi orang lain.

Bila Tuhan adalah juru gambar, maka anak-anak berkebutuhan khusus ini juga lukisan Tuhan yang sama terhormat, anggun, indah, sebagai citra Tuhan sendiri. Bila kita gagap atau bahkan salah dalam memandang dan bersikap, itu adalah kegagalan kita menemukan keanggunan dan keindahan lukisan Tuhan tersebut. Kegagalan dalam pertumbuhan kepribadian kita. Kegagalan dalam mengembangkan pribadi yang mestinya menjadi semakin manusiawi, semakin menyerupai citra Tuhan yang telah melukis jiwa raga kita.

Sutriyono sedang menyusun buku pendidikan inklusif di Cilacap

(mmu/mmu)