Kolom

"Last Duel" dan Budaya Pemerkosaan

Dikrilah - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 14:06 WIB
Jodie Comer di film
Jakarta -

Dengan dilema dan trauma yang dirasakannya, Marguerite de Carrouges (Jodie Comer) memutuskan untuk menceritakan kejadian yang dialami kepada suaminya. Ia mengadukan Jacques Le Gris (Adam Driver), teman dekat suaminya sesama aristokrat, melakukan pemerkosaan terhadap dirinya. Ketika itu terjadi, suami Marguerite, Jean de Carrouges (Matt Damon) tidak mempercayainya.

Dalam salah satu adegan yang membuat tidak nyaman, Jean melakukan kekerasan dengan cara mencekik Marguerite sampai tak berdaya setelah mengetahui dia diperkosa. Dia menyalahkan korban (victim blames), menanyakan apakah dia yang menggodanya, dan lain-lain —semua pertanyaan yang masih ditanyakan banyak korban pemerkosaan hingga hari ini.

Disutradarai oleh Ridley Scott, The Last Duel (2021) adalah visualisasi nyata dari kehidupan Prancis abad ke-14. Di masa ini, sistem penutupan (coverture) adalah bagian dari hukum umum. Coverture berarti bahwa begitu seorang wanita menikah, dia kehilangan semua hak hukumnya, seperti hak untuk memiliki properti, memberi wasiat, menuntut, dan lain-lain.

Seorang wanita yang sudah menikah "dilindungi" oleh suaminya. Bahkan, dia dianggap sebagai miliknya. Jika seorang laki-laki memperkosa istri laki-laki lain, itu dianggap sebagai kerugian properti bagi suami. Inilah sebabnya mengapa dalam film ini Jean bereaksi keras setelah mengetahui Le Gris telah memperkosa Marguerite.

Setelah Jean melaporkan kepada Raja Charles VI (Alex Lawther), pengadilan pun digelar. Semua orang mencemooh pengakuan Marguerite sebagai tindakan yang mengada-ada. Orang-orang terdekat Marguerite sontak memusuhi dan menjauhinya. Namun semua itu tidak memudarkan tekadnya untuk bersuara.

"Aku adalah seorang istri yang baik. Lalu aku dihakimi dan dipermalukan oleh negaraku sendiri." Di tempat lain, "Yang aku katakan di hadapan kalian adalah sebuah kebenaran, dan aku tidak akan pernah diam."

Setelah disumpah atas nama Tuhan, akhirnya Raja memutuskan agar Jean dan Le Gris melakukan duel maut sebagai ajang pembuktian. Jika Jean menang, maka Marguerite telah berkata jujur. Jika sebaliknya, maka tuduhannya akan dipandang sebagai omong kosong. Ia akan dicap sebagai orang yang kehilangan harga diri di hadapan Tuhan dan manusia. Hukumannya, Marguerite dibakar hidup-hidup di muka umum.

Meskipun The Last Duel berkisah tentang penyelidikan pemerkosaan abad pertengahan, namun situasinya sangat relevan dengan hari ini. Mencermati budaya pemerkosaan (rape culture) di abad pertengahan, kita dapat melihat kemiripan yang mencolok dengan budaya pemerkosaan modern.

Dua Ciri

Budaya pemerkosaan mengacu pada sebuah pengkondisian sosial yang kita alami secara kolektif sebagai budaya tempat kekerasan seksual ditoleransi, diremehkan, dimaafkan, dinormalisasi, diolok-olok dan bahkan dipromosikan. Ini berfungsi untuk memaafkan tindakan pelaku dan sekaligus menyalahkan korban. (Connel N, Wilson C, 1974)

Ada dua ciri-ciri suatu masyarakat patut diduga menganut budaya pemerkosaan. Pertama, saat masyarakat membenarkan tindakan-tindakan kejahatan seksual, dengan cara menunjuk korban sebagai pihak utama untuk disalahkan (misalnya seperti meyakini bahwa pemerkosaan terjadi karena persetujuan korban, atau pelecehan seksual terjadi karena korban 'menginginkannya'. Kedua, saat tindakan-tindakan heteroseksualitas yang tidak pantas dianggap sebagai sesuatu yang normal. (Sills, Shopie, 2016)

Apa yang terjadi pada Marguerite de Carrouges di film The Last Duel, terjadi pula pada, misalnya, Angie Epifano. Pada 2011, Efipano mengatakan bahwa dia diperkosa di asramanya selama tahun pertamanya di Amherst College, kampus tempat dia belajar. Dia tidak melaporkan kejadian itu selama berbulan-bulan lamanya.

Ketika dia melakukannya, konselor di kampus tidak mempercayai ceritanya. Alih-alih, mereka mencoba meyakinkan Efipano untuk memaafkan dan melupakan (forgive and forget) tragedi yang menimpanya itu. Menerima kenyataan tersebut, Epifano ingin mengakhiri hidupnya karena depresi.

Dan, ini pula yang dikatakan Nicole de Carrouges (Harriet Walter), ibu mertua dari Marguerite de Carrouges, sebagai sebuah pemakluman: "The truth does not matter. You look at me as if I were never young. I was raped."

Marguerite dan Epifano sama-sama menghabiskan hari-hari dengan air mata. Batin yang tersiksa ketika mereka tidak mengungkapkan hal pahit yang mereka alami. Hingga akhirnya mereka harus terus berjuang untuk menyuarakannya.

"Dan semangat itu datang. Aku memutuskan untuk menulis tentang semua yang terjadi dan menuliskannya di atas kertas," kata Epifano, "untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa aku tidak gila, bahwa semuanya telah terjadi." (Huffinton Post, 23 Januari 2014.)

Masih Berjuang

The Last Duel adalah salah satu film yang memiliki daya tarik tersendiri di antara film epos abad pertengahan lainnya. Film ini memberikan Maguerite suara yang melukiskan gambaran akurat tentang pria dalam hidupnya. Juga memberi nuansa menggugah pemikiran tentang bagaimana perempuan diperlakukan saat itu, bahkan hingga kini. Dalam pikiran Jean de Carrouges, dia percaya bahwa dirinya adalah suami terhormat yang penuh kasih sayang. Ia siap membela Marguerite saat dibutuhkan.

Pada kenyataannya, dia tidak langsung mempercayainya. Perspektif Marguerite berfokus pada perjuangan atas segala perlakuan buruk yang ia terima di dunia yang didominasi pria. Pembingkaiannya menggambarkan bagaimana masyarakat selalu membenarkan tindakan pemerkosaan, dan beban selalu ada pada diri korban.

The Last Duel seakan-akan berbicara tentang bagaimana di zaman modern seperti hari ini, perempuan masih berjuang keras untuk didengar ketika mereka mengalami pemerkosaan dan pelecehan seksual. Banyak cerita baru-baru ini tentang seorang pria terhormat dan berpengaruh diperiksa karena melakukan pelecehan seksual.

Hal tersebut dapat menciptakan persepsi bahwa di era keterbukaan seperti saat ini, mudah bagi wanita untuk menerima keadilan. Tetapi sayangnya itu adalah asumsi yang salah. Pada kenyataannya, masih sangat sulit bagi perempuan untuk menyuarakan bahwa dirinya telah diperkosa atau dilecehkan secara seksual.

Dikrilah dosen di Institut Madani Nusantara, Sukabumi

Lihat juga Video: Isu Permendikbud Diwarnai Pro-Khilafah, Ini Kata Waka Komisi X

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)