Kolom

"Cryptocurrency", Fatwa, dan Nalar Kreativitas

Nasori - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 10:48 WIB
Ilustrasi Uang Kripto Haram Sebagai Mata Uang menurut keputusan Forum Ijtima Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Jakarta -

Jika mentafakuri pesatnya kecanggihan teknologi dan "liarnya" kreativitas manusia modern, seketika saya mendapatkan suatu kesadaran baru. Bahwa betapa cepatnya perubahan menggulung sendi-sendi kehidupan manusia. Hari ini, banyak realitas kita temukan, yang mungkin sepuluh atau bahkan lima tahun lalu adalah sesuatu hal asing dan tidak pernah terbayangkan. Jikapun tersirat dalam pikiran, kemungkinan masih dianggap mustahil diwujudkan.

Tahun 1983 saat muncul pertama kali embrio cryptocurrency yang digagas David Chaum seorang kriftografi asal Amerika, sebagian besar masyarakat dunia hanya melirik sebelah mata. E-cash ini baru diimplementasikan pada 1995 dengan istilah Digicash. Saat itu tidak berkembang sesuai ambisi penemunya.

Di balik kegagalan David, justru menjadi milestone perkembangan mata uang kripto pada belasan tahun setelahnya. Adalah Wei Dai yang membidani lahirnya B-money pada 1998 dan disusul kemudian oleh Nick Szabo dengan bit gold-nya. Keduanya pun mengalami nasib yang sama seperti David, gagal. Hingga pada 2009, pengembang Satoshi Nakamoto, investor bitcoin yang sampai saat ini identitasnya tak pernah diketahui oleh publik, untuk pertama kalinya memperkenalkan mata uang kripto yang terdesentralisasi, yaitu bit-coin.

Tidak seperti pendahulunya, belasan tahun sejak diperkenalkan, bitcoin kini semakin diminati dan terus melahirkan penambang-penambang baru diberbagai belahan negara. Mengutip laman cnbcindonesia.com (10/11), market cap bitcoin sudah menembus US$ 1,16 triliun dengan jumlah bitcoin yang beredar sebanyak 18,86 juta koin. Sepuluh tahun lalu, satu unit koin digital kripto ini masih dihargai kurang dari US$ 0,01, kini harganya terus melesat di atas US$ 60.000/koin.

Di Indonesia sendiri per Mei 2021, seperti dilansir laman CNN Indonesia (12/11), nilai investasi kripto di komoditas perdagangan berjangka mencapai Rp 370 triliiun. Mata uang digital yang transaksinya hanya bisa dilakukan secara virtual ini, kini tengah menjamur. Jenisnya pun terus bermunculan setiap waktu. Saat ini, sudah ada ribuan jenis mata uang kripto yang beredar di seluruh belahan dunia, seperti bitcoin, ehtereum, litecoin, ripple, stellar, dogecoin, cardano, tether, monero, tron, dan lain-lain.

Ketidakjelasan Nilai

Di tengah tren transaksi kripto di pasar Indonesia, beberapa waktu lalu MUI dalam helatan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa cryptocurrency hukumnya haram. Alasan pengharaman karena MUI menilai kripto mengandung unsur gharar, dharar, dan bertentangan dengan UU No 7/2001 dan Peraturan Bank Indonesia No 17/2015.

Selain MUI, sebenarnya beberapa negara seperti China, Rusia, Vietnam, Bolivia, Kolumbia, dan Ekuador sudah terlebih dahulu melarang kripto. Alasannya tentu untuk melindungi warganya dari ketidakjelasan nilai. Selain itu juga untuk melindungi negaranya karena kripto dinilai dapat mengancam sistem moneter yang ada.

Sebagai muslim awam, tentunya saya pasti akan mengikuti fatwa dari otoritas resmi keagamaan seperti MUI ini, sekalipun itu tidak mengikat secara yuridis formal. Namun, kecanggihan teknologi saat ini diyakini akan sangat sulit membendung inovasi, Kreativitas dan nalar-nalar "gila" untuk menghasilkan suatu gagasan dan ide-ide baru yang materialistik.

Akhirnya, kita hanya berada di hilir sebagai hakim yang berujung pada pengharaman. Bukan berada di hulu sebagai kreator, yang mampu melahirkan Kreativitas baru yang etis, moralis, dan spiritualistik. Seperti spirit yang tercantum dalam Alquran Surat al-Jumu'ah (10): Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Nasori, M.SI praktisi ekonomi syariah

(mmu/mmu)