Kolom

Guru dan Sisi Lain Muridnya

Muhammad Luqman Hakim - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 13:15 WIB
Sejumlah murid dibimbing gurunya mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di sekolah darurat bencana SD Inpres Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (18/10). Meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas, namun sekolah tersebut tetap melaksanakan ANBK yang bertujuan untuk mengukur kualitas kegiatan-belajar mengajar di sekolah. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/hp.
Foto ilustrasi: Basri Marzuki/Antara
Jakarta -

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, saya dibuat tergeleng-geleng penuh kekaguman oleh tulisan-tulisan karya anak SD. Ya, sore itu saya membaca cerpen-cerpen yang ditulis oleh para murid saya sendiri yang akan diterbitkan di majalah sekolah. Memang, selama menjadi pemimpin redaksi dalam kurun waktu setahun terakhir, tidak sedikit saya jumpai karya-karya hebat dengan tingkat kreativitas tinggi dan imajinasi yang bahkan jauh melampaui ekspektasi saya. Bahkan, beberapa karya brilian siswa saya temukan di tumpukan-tumpukan tugas dari para guru yang mungkin hanya berakhir di daftar nilai.

Saat membaca beragam karya tulisan anak-anak itu, saya tidak hanya sering terlarut ke dalam alur cerita yang mereka racik, tetapi juga dibuat kaget oleh jalan cerita yang tidak mudah ditebak ending-nya. Pilihan diksinya pun mampu membawa pembaca turut merasakan kesedihan, kebahagiaan, atau keceriaan yang dialami karakter-karakter dalam cerita mereka. Juga, jokes yang sesekali diselipkan sampai membikin saya ketawa-ketawa sendiri, melebihi ketika saya nonton stand up comedy atau lawakan-lawakan di acara televisi yang isinya cuma bully.

Tentu saja tidak hanya cerpen. Saya juga banyak menemui karya-karya lain yang tak kalah hebat, mulai dari puisi, pantun, cerita bergambar hingga komik, baik dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Sebagai guru kelas 6, melihat murid-muridnya dapat menuangkan ide-ide liar dan meramunya menjadi karya-karya yang sungguh apik, itu benar-benar sebuah kegembiraan tersendiri. Apalagi, menyaksikan anak didik kita mampu mengeksplorasi dan mengembangkan berbagai bakat dan minatnya, merupakan kebahagiaan dalam batin yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Namun, hal itu membuat tersadar akan beberapa hal dan tergelitik untuk bertanya. Mengapa saya menemukan bakat-bakat emas itu ketika mereka sudah berada di kelas 6 dan sebentar lagi akan lulus? Karena saya bukan guru Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, saya juga patut bertanya, apakah potensi-potensi itu tidak terdeteksi dalam proses pembelajaran di kelas? Ke mana guru-guru selama ini? Jika para guru tahu, mengapa karya-karya hebat semacam itu tidak diapresiasi dan difasilitasi agar siswa dapat mengembangkannya?

Jujur saja, seandainya saya tidak mengelola majalah sekolah, saya tidak yakin apakah saya akan menemukan bakat-bakat semacam itu. Begitu pula dengan para siswa, jika kita tidak memberi mereka kesempatan untuk berkarya dan mengapresiasinya, mungkin saja mereka tidak menyadari bahwa mereka punya bakat besar. Jangan-jangan, hal serupa juga terjadi pada pelajaran-pelajaran lain?

***

Kurang lebih sebulan yang lalu, bersama beberapa rekan wali kelas, kami mengunjungi salah satu rumah siswi. Sebut saja dia Via. Tujuan kunjungan itu untuk mengetahui sebab-sebab Via sangat jarang mengikuti pembelajaran lewat Zoom meeting, menonton video pembelajaran, dan tidak mengerjakan tugas-tugas dalam setengah semester terakhir.

Sesampainya di sana, seorang guru matematika langsung bertanya kepada Via perihal faktor yang membuat dia tidak semangat belajar selama ini. Guru itu juga menanyakan apakah dia sudah menonton video pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugas hari itu. Dan, alih-alih menonton video pembelajaran, Via justru baru saja asyik menonton film-film kartun di YouTube sebelum kedatangan kami. Saya sih tidak kaget sama sekali dengan jawaban-jawaban Via, termasuk mengapa dia belum belajar hari itu. Itu sudah saya duga sebelumnya.

Giliran saya bertanya kepada Via, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan santai tentang film-film yang dia tonton. Singkat cerita, Via bercerita bahwa dia sangat suka belajar bahasa Inggris lewat film-film kartun dan juga menggambar. Mendengar jawaban itu, spontan saya tantang dia untuk membuat komik, cerita bergambar, cerpen, atau puisi dalam bahasa Inggris. Saya juga menjanjikan kalau tulisannya terpilih, akan saya terbitkan di majalah sekolah. Setelah itu, kami ngobrol basa-basi ngalor-ngidul dengan Via dan ibunya. Sekitar setengah jam kemudian, kami pamit.

Seminggu berlalu, tiba-tiba saya dapat pesan WA dari ibunya Via, mengabarkan kalau Via sudah selesai menulis sebuah cerpen berbahasa Inggris. Saya pun tak sabar membaca tulisannya. Begitu saya buka, saya sama sekali tidak menyangka jika tulisannya akan sebagus itu. Pilihan kosakata dan struktur kalimatnya pun tidak main-main, sudah semacam fairy tales ala native speaker. Saya yakin tulisan seperti itu tidak akan mungkin dihasilkan dari proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas, batin saya.

Memang, ketika menengok kurikulum kita saat ini, kita akan memahami mengapa minat dan bakat anak tidak pernah terdeteksi dalam proses pembelajaran di kelas. Pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, sampai saat ini masih dipenuhi dengan muatan-muatan tata bahasa alih-alih memberikan exposure kepada siswa tentang berbagai karya sastra. Begitu juga dalam pelajaran Bahasa Inggris yang masih menekankan pembelajaran grammar daripada pengalaman bercakap-cakap dengan para native speaker sehingga mereka mendapat pengalaman nyata mengenai skills berbahasa Inggris.

Dalam pelajaran Olahraga pun tak jauh beda. Anak-anak lebih banyak dijejali dengan teori-teori, seperti menghafal teori gerak lokomotor, alih-alih diberikan kesempatan untuk mengasah minat dan bakat masing-masing. Hal ini kemudian diperparah dengan asesmen yang tidak komprehensif sehingga proses pembelajaran gagal dalam mengidentifikasi, apalagi memfasilitasi dan mengembangkan beragam talenta peserta didik.

Mungkin pernyataan saya sedikit berlebihan atau terkesan menggeneralisasi. Tapi jika Anda tidak percaya, Anda bisa cek ke sekolah-sekolah dan lihat bagaimana anak-anak diuji dengan soal-soal penilaian harian, tes tengah dan akhir semester, atau bahkan ujian sekolah. Banyak soal-soal sejenis pilihan ganda, isian singkat, dan uraian yang sifatnya sekadar menguji hafalan masih mendominasi dibanding penugasan yang menantang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dengan imajinasi dan pengetahuan mereka masing-masing. Dengan berbagai kondisi itu, saya menjadi maklum ketika banyak potensi anak tidak muncul di ruang-ruang kelas melalui proses pembelajaran.

Saya jadi teringat dengan cerita lain yang saya alami beberapa waktu lalu. Belum lama ini, pada suatu sore, saya masuk di kelas 12 SMA untuk mengajar para santri di sebuah Boarding School. Entah kenapa, sebelum memulai kegiatan, hal yang terlintas di pikiran saya sore itu adalah menanyakan kepada mereka perihal minat dan bakat. Apalagi, mengingat mereka sudah kelas 12, saya yakin pertanyaan itu sangat relevan.

Entah mereka mau melanjutkan kuliah atau langsung bekerja, tak begitu besar perbedaannya. Jika kuliah, saya berharap mendengar jawaban-jawaban mengenai ketertarikan mereka pada disiplin ilmu tertentu yang ingin mereka dalami. Kalau rencana mereka bekerja, saya juga ingin mendengar bidang dan keahlian apa yang ingin mereka pelajari dan kuasai. Lalu apa jawaban mereka? Mungkin sebagian dari Anda menebak mereka ingin kuliah di universitas-universitas ternama.

Sayangnya, tidak! Mereka justru belum punya gambaran sama sekali. Dan mereka juga tidak tahu apa minatnya, apalagi bakatnya. Oh, mungkin pertanyaan saya yang kurang tepat, pikir saya saat itu. Saya pun mencoba mengajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan lain, mulai dari menanya soal hobi, aktivitas ketika waktu luang sampai cita-cita mereka. Bahkan, saya juga mengajukan pertanyaan yang cukup ekstrim, "kalau Anda meninggal, Anda ingin dikenang sebagai apa?"

Akhirnya, setelah sederet pertanyaan pancingan saya ajukan, ada seorang santriwati melontarkan sebuah jawaban yang cukup memberikan clue mengenai cita-citanya, meskipun jawabannya bukan jenis penjelasan yang saya ekspektasikan dari seorang siswa kelas 12 SMA yang seharusnya dapat menjelaskan dengan lebih deskriptif. Sebagian lain, menjawab masih belum yakin terhadap pilihannya. Dan sisanya menjawab bahwa mereka belum tahu sama sekali.

Saya pun memberikan pertanyaan terakhir, "Sejak SD sampai sekarang, pernahkah guru kalian bertanya mengenai hal-hal semacam ini?" Dan jawaban mereka, lagi-lagi, "Tidak!" Saya tidak tahu apakah jawaban itu benar atau tidak. Bisa jadi mereka sebetulnya pernah mendapatkan pertanyaan serupa tetapi mereka sudah lupa karena mungkin ditanya waktu masih kecil.

Tetapi, di sini ada masalah yang perlu kita pikirkan bersama, jika pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi tumbuh-kembangnya minat dan bakat setiap individu siswa, mengapa hal-hal semacam itu tidak menjadi perhatian serius dalam pendidikan kita? Apa buktinya? Banyak siswa masih kesulitan menjawab atau bahkan asing dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Dan itu tidak hanya terjadi pada siswa-siswi yang masih sekolah, namun juga para mahasiswa yang pernah saya tanya ketika mengisi di berbagai kegiatan kampus.

***

Berangkat dari pengalaman-pengalaman itu, kita kemudian patut mengajukan sebuah pertanyaan, apakah selama ini para guru di sekolah-sekolah kita telah serius menggali dan mendidik sesuai minat dan bakat siswa-siswinya, ataukah masih sekadar menjalankan kurikulum yang ada tanpa mencoba melakukan berbagai modifikasi, inovasi atau kontekstualisasi?

Jangan-jangan banyak potensi anak yang justru terkubur oleh pendidikan itu sendiri, oleh kurikulum dan muatan mata pelajaran yang tidak mengakomodasi minat dan bakat siswa? Belum lagi, kita bicara soal keragaman talenta setiap individu anak, apakah ekosistem pendidikan kita telah memberikan ruang bagi potensi-potensi yang berbeda untuk berkembang?

Jika hal serupa masih menjadi kenyataan umum, maka sebetulnya sekolah atau lembaga pendidikan masih gagal melaksanakan salah satu fungsinya: mengidentifikasi potensi-potensi siswa dan memfalisitasi mereka untuk mengembangkannya. Saya mungkin tidak bisa menunjukkan data statistik, tapi saya bisa saja memberikan ratusan cerita lain yang dapat diverifikasi.

Namun, terlepas dari itu semua, sebagai pendidik, kita patut melakukan refleksi dan evaluasi. Apa yang salah dari pendidikan kita sehingga banyak potensi anak terkubur? Ataukah justru kurikulum dan ekosistem pendidikan kita sendiri yang justru mengubur berbagai keragaman talenta siswa? Jika saya menemukan bakat emas di tingkat SD kelas 6 saja sudah merasa terlambat, bagaimana mungkin masih banyak para guru yang merasa baik-baik saja ketika siswa-siswinya yang telah menginjak kelas 12 SMA/SMK masih kebingungan mengindentifikasi minat dan bakat mereka?

Muhammad Luqman Hakim Guru SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang, Penggerak Guru Merdeka Belajar

(mmu/mmu)