Kolom

Memulihkan Sektor Pariwisata

Hayu Wuranti - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 14:29 WIB
Polisi Lalu Lintas bersama Petugas Dishub DKI Jakarta mengatur arus lalu lintas di depan pintu masuk Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Sabtu (23/10/2021). Dinas Perhubungan DKI Jakarta menerapkan kebijakan pelat nomor polisi ganjil genap pada kendaraan roda empat di tempat wisata edukasi Taman Margasatwa Ragunan yang berlaku mulai 22 Oktober 2021 saat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua di Ibu Kota. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Penerapan ganjil-genap menuju Taman Wisata Margasatwa Ragunan (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta -
Sebelum pandemi Covid-19, sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain sebagai kontributor penerimaan negara dalam bentuk devisa, sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB pada 2019 mencapai sebesar 4,8 persen atau naik sebesar 0,3 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 4,5 persen.

Pandemi Covid-19 memberikan pukulan telak terhadap perekonomian. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui pembatasan sosial dan aktivitas masyarakat dan penutupan objek pariwisata menyebabkan pelaku usaha pariwisata mengalami kesulitan untuk mempertahankan usahanya. Sektor-sektor yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata yaitu transportasi, industri seperti industri tekstil, industri alat angkutan dan industri kerajinan, perdagangan, serta restoran dan hotel mengalami kontraksi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis sejak Februari 2020, dan puncaknya terjadi April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158,1 ribu kunjungan. Secara kumulatif, sepanjang 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4,052 juta orang, yang berarti hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia pada 2019.

Penurunan jumlah wisatawan mancanegara memperparah kondisi sektor pariwisata karena berdampak langsung pada tingkat okupansi hotel-hotel di Indonesia. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2020 mencapai rata-rata 37,48 persen atau turun 19,29 poin dibandingkan dengan TPK bulan yang sama pada 2019 yang tercatat sebesar 56,77 persen.

Perubahan Tren

Kesehatan dan keamanan menjadi prioritas utama setelah terjadinya pandemi Covid-19. Salah satu yang tergeser akibat pandemi ini adalah tren selfie di tempat-tempat yang instagramable. Tren populer yang digemari masyarakat salah satunya adalah wisata alam. Kejenuhan akibat di rumah saja akan mendorong wisatawan jalan-jalan keluar rumah untuk sekadar menikmati udara segar dan keindahan alam, karena alam memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan, tetapi rendah risiko.

Wisata alam juga memberikan keleluasaan untuk tetap menerapkan physical distancing dengan wisatawan lainnya. Wisata alam berbasis adventure atau petualangan menjadi salah satu tren baru yang digemari, khususnya kegiatan dalam grup kecil dengan aktivitas yang dinamis, seperti trekking, snorkeling, dan diving. Hal ini berpengaruh terhadap beberapa destinasi yang selama ini populer dikunjungi banyak orang (mass tourism) yang untuk sementara akan dihindari.

Selain itu, pemberlakuan pembatasan akses terutama untuk jalur internasional akan mendorong orang berlibur ke destinasi-destinasi lokal yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa dijangkau oleh kendaraan pribadi. Hal ini mendorong meningkatnya wisatawan Nusantara.

Pilihan liburan masyarakat mengalami perubahan dengan terjadinya pandemi Covid-19. Masyarakat akan lebih memilih liburan yang tidak banyak bersentuhan dengan orang lain. Staycation atau berlibur di dalam lingkungan hotel akan menjadi pilihan terbaik karena konsumen atau wisatawan tidak perlu bepergian jauh. Berada di tempat yang nyaman seperti hotel atau sewa apartemen yang dekat rumah mereka dengan segala fasilitas mumpuni.

Biaya yang lebih murah daripada liburan ke luar negeri atau ke luar pulau yang masih berisiko bisa tertular menjadikan staycation lebih digemari. Fasilitas hotel yang ramah terhadap keluarga (family-friendly) seperti restoran, taman bermain hingga kolam renang menjadi prioritas konsumen. Seluruh fasilitas ini harus mengikuti standar protokol kesehatan seperti kebersihan dan physical distancing.

Sementara itu sektor penunjang pariwisata seperti mall dan tempat atraksi lainnya, menyediakan hal yang baru dengan menyulap bangunan menjadi tempat drive-in cinema dimana pengunjung bisa menonton film bioskop dari dalam mobil ala tahun 90-an. Selain itu beberapa tempat wisata menyediakan layanan virtual tourism.

Sebagai contoh PT Kereta Api Pariwisata Indonesia juga telah menyelenggarakan kegiatan tur virtual yang bertajuk Virtual Tours The Legend Jogja dan Virtual Tour de Lawang Sewu. Layanan online virtual tour juga ditawarkan oleh Kebun Binatang Ragunan; selain menampilkan kegiatan para hewan, dalam tur daring ini konsumen juga diperkenalkan mengenai habitat, cara bertahan hidup hingga status populasi hewan yang sedang beratraksi.

Menata Ulang

Menurunnya tingkat penjualan resto selama pandemi Covid-19 mendorong para pelaku usaha untuk melakukan berbagai inovasi guna untuk bertahan di tengah pandemi. Hal ini menciptakan tren baru dalam dunia wisata kuliner. Konsumen yang semakin pintar sehingga bersikap lebih preventif terhadap potensi kontaminasi virus-virus lain, mendorong pemilik bisnis restoran untuk menata ulang konsep restoran secara keseluruhan.

Konsep makan di luar ruangan (outdoor dining) menjadi salah satu konsep yang dihadirkan dengan pertimbangan suasana outdoor sirkulasi udara menjadi lebih lancar dibandingkan berada di dalam ruang. Hal ini diharapkan mampu meminimalisir kontaminasi virus. Konsep outdoor dining mendukung implementasi pembatasan sosial atau jaga jarak. Larangan untuk menyediakan makan di tempat (dine-in) bagi pengusaha kuliner berpotensi menyebabkan penurunan omzet.

Pengusaha kuliner berupaya mengembangkan tren baru seperti menyediakan layanan take away dengan penerapan contactless service sehingga konsumen tidak perlu merasa khawatir untuk membeli makanan di resto. Selain itu disediakan juga fitur digital seperti booking online, scan barcode menu, dan digital payment. Salah satu tren di usaha kuliner adalah curbside pickup atau yang lebih dikenal dengan sebutan drive thru.

Tren lain dalam usaha kuliner salah satunya dengan memanfaatkan platform kolaborasi dan ko-kreasi untuk menciptakan layanan baru yang sangat dibutuhkan oleh konsumen yaitu dengan apa yang disebut sebagai ghost kitchen model atau cloud kitchen, platform berbentuk dapur yang dapat diisi oleh berbagai restoran secara bersama-sama (sharing). Hal ini membuat proses produksi para pengusaha resto dan kuliner menjadi efisien dan terjangkau.

Pemulihan sektor pariwisata Indonesia didukung dengan upaya pemerintah melakukan percepatan program vaksinasi. Walaupun harapan untuk kembali pada kondisi normal tentunya tidak mudah. Sektor pariwisata juga sektor lain harus melakukan inovasi, kolaborasi, dan kelincahan (agility) sebagai upaya untuk bisa pulih kembali.

Pandemi Covid-19 telah memaksa pelaku usaha pariwisata untuk mengambil langkah menyesuaikan dengan kebijakan pembatasan yang diterapkan pemerintah. Protokol kesehatan seperti wajib masker, pengecekan suhu tubuh, dan hasil tes negatif telah dengan cepat menjadi prosedur operasional standar, membutuhkan peralatan baru, perangkat lunak untuk pelacakan dan penyesuaian lainnya.

Sektor pariwisata melakukan berbagai upaya perubahan dengan menerapkan sistem baru pada industri pariwisata. Diperlukan kolaborasi antara pelaku usaha sektor pariwisata dengan pemerintah, pakar, dan pelaku usaha sektor lain untuk berbagi wawasan, menerapkan teknologi, dan menemukan cara efektif untuk bekerja sama menerapkan langkah perubahan.

Teknologi berbasis data dapat membantu wisatawan untuk berbagi informasi, seperti data vaksin dibutuhkan oleh para pelaku usaha pariwisata. Pengalaman yang mengesankan selama berwisata menjadi impian setiap wisatawan. Tren baru dunia pariwisata dengan memanfaatkan segenap ilmu pengetahuan dan sumber daya, bekerja sama dan menggunakan teknologi untuk mentransformasikan layanan menjadi upaya bangkitnya sektor pariwisata.

Hayu Wuranti Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Tengah

(mmu/mmu)