Kolom

Dakwah Cinta Habib Milenial

Muhamad Ulinnuha - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 12:08 WIB
Komika yang tergabung dalam Majelis Lucu Indonesia saat di acara dHappening.
Habib Husein Ja'far dan Majelis Lucu Indonesia (Foto: Asep Syaifullah)
Jakarta -

"Tersesaaat oh tersesat. Bib mau tanya, jika di akhirat nanti kita dihisab ternyata hasil dosa dan pahala seimbang, apakah kita akan dihidupkan ke dunia lagi untuk dapat skor finalnya?"

Saya tertawa ketika sebuah pertanyaan seorang pemuda tersesat dibacakan oleh Tretan Muslim kepada Habib Husein Ja'far di channel Youtube Majelis Lucu Indonesia.

Sebagai santri, tak terbayangkan pertanyaan seperti itu akan ditanyakan seseorang kepada seorang Habib. Mungkin jika saya yang ditanya, saya hanya akan menertawainya dan enggan menjawab. Namun hal itu berbeda dengan Habib Husein Ja'far.

Orang yang biasa diijuluki The Protector, The Middle Man, The Light in The Darknes, Rompi Level 3, Hyung, Habib Gaming dan berbagai julukan lainnya berbeda dengan habib pada umumnya yang saya temui atau saya ikuti. Biasanya seorang habib akan selalu memakai jubah, minimal di majelis pengajian, dengan sorban dan ceramah yang begitu berapi-api di masjid. Namun tidak dengan habib satu ini

Dengan sepatu skaters-nya, dan berpenampilan layaknya anak tongkrongan, ditambah dengan peci putih yang sekadar menempel di kepala, Sang Protector dengan mengobrol santai sembari bercanda akan menjawab apapun pertanyaan tentang agama yang ditanyakan kaum milenial yang biasa dijuluki pemuda tersesat. Iya, apapun. Bahkan senyeleneh apapun pertanyaan itu.

Cenderung Apatis

Kaum milenial memiliki kecenderungan apatis terhadap agama. Di mata mereka agama hanyalah paksaan, pembuat keributan, dan hanya membuat hidup menjadi lebih rumit karena peraturan-peraturannya.

Bagi milenial, agama tidak memenuhi hasrat mereka yang rasional. Mereka mempunyai banyak pertanyaan nyeleneh tentang agama, namun mereka tak akan berani bertanya kepada para agamawan karena akan sudah pasti dicap nakal dan menyesatkan.

Kemarin, seorang kawan berkeluh kesah dan bertanya kepada saya. "Mas, kemarin kawanku pacaran berduaan di kamar, terus mereka salat jamaah berdua. Terus aku tegur. Saat aku tegur aku ditanya, pacaran tapi salat jamaah berduaan emang hukumnya gimana?" tanya kawan saya itu lewat sebuah pesan WhatsApp.

Saya hanya tersenyum lalu mengirimkan sebuah link video Majelis Lucu Indonesia yang juga pertanyaannya kurang lebih sama seperti itu, tentang jamaah berdua bersama pacar di kamar.

Kaum milenial memang memiliki karakter kreatif, kritis, semangat yang sangat bergelora dan keras. Mereka akan mendebat hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Fenomena ini bisa kita lihat betapa seringnya milenial melakukan debat kusir virtual mendebatkan hal-hal remeh-temeh begitu keras seperti bubur diaduk atau tidak diaduk, makan soto dengan krupuk atau tempe, rambut belah tengah atau pinggir, dan masih banyak lagi.

Selain karena karakter kaum milenial yang keras dan susah mengalah, terjadinya fenomena debat kusir virtual juga karena mereka sering sekali terpapar ujaran kebencian, hoax, radikalisme, dan intoleransi. Maka dari itu, dibutuhkan pendakwah yang yang bisa mengajarkan nilai-nilai Islam dengan asyik dan santai.

Awal agama Islam turun diajarkan dengan cara yang asyik dan santai. Tidak seperti pendakwah sekarang yang lebih banyak menghukumi dengan keras. Dalam suatu riwayat, saat Nabi Muhammad SAW berkumpul bersama sahabat, ada orang badui masuk masjid dan bertanya di mana Nabi. Karena Nabi sangat egaliter dalam mengajar, tidak menggurui. Tak ada bedanya Nabi dengan sahabat. Mulai dari pakaiannya dan tempat duduknya.

Saya jadi teringat sebuah nasihat KH Miftahul Akhyar bahwa dakwah itu bukan untuk menghakimi; dakwah itu merangkul, bukan memukul; menyayangi, bukan menyaingi; mendidik, bukan membidik; membina, bukan menghina; mencari solusi, bukan mencari simpati; membela, bukan mencela. Dan, inilah yang dilakukan Habib Husein Ja'far kepada kaum milenial.

Generasi milenial adalah generasi yang tidak suka digurui, tak suka dihakimi, dan tak mau dipaksa. Mereka hanya ingin diberi tahu mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar, dan mana yang salah.

Dengan cara diskusi santai ala anak tongkrongan, penuh canda, tanpa banyak menghakimi salah-benar, halal-haram, dan tanpa banyak dalil Habib Husein tanpa merasa lebih mulia dan merasa lebih tinggi derajatnya menggandeng komika Tretan Muslim, Coki Pardede, bahkan tak jarang bersama seorang pendeta menyebarkan agama dengan penuh cinta melalui platform digital.

Salah satu prinsip yang dipegang Habib Husei Ja'far yaitu ketika dirimu tak bisa menarik orang dari kafe ke mesjid, maka datangkanlah mesjid itu ke kafe. Semua tempat di mana disebut nama tuhan dan terjadi kesalehan, di sanalah masjid.

Jika selama ini agama hanya dikenal penuh ancaman dengan adanya konsep surga-neraka, Habib Husein Ja'far justru mengenalkan cinta Tuhan melalui konsep neraka dan surga. Konsep neraka menurut Habib Husein Ja'far bukanlah karena Tuhan pemarah dan pendendam. Neraka lahir karena Tuhan Maha Cinta.

Habib Husein mengibaratkan, orang yang sakit ketika diberi makanan yang enak dan lezat atau minuman yang segar, maka yang dirasakan hanya hambar. Untuk bisa merasakan kenikmatan itu harus diobati dan obat itu pahit. Seperti itulah konsep surga-neraka. Tuhan sebenarnya ingin semua orang masuk ke surga. Tapi jika seseorang memiliki masalah sakit dalam hati dan pikirannya, mereka tak akan merasakan nikmatnya surga. Tuhan memasukkan orang itu ke neraka agar bersih dan bisa menikmati surga.

Penuh Cinta

Problem hilangnya nilai-nilai Islam pada muslim terletak pada pendidikan agama di Indonesia yang hanya fokus pada ritual dan hukum. Dan, memperkenalkan Islam yang keras. Hal ini terlihat dalam buku-buku sejarah kebudayaan Islam yang hanya menceritakan perang. Belum lagi banyaknya media internasional yang menggambarkan Islam yang selalu identik dengan kekerasan.

Untuk itu sangat dibutuhkan pendakwah-pendakwah seperti Habib Husein Ja'far yang bisa memberikan pemahaman kaum milenial, menyebarkan agama dengan penuh cinta agar tidak terpapar radikal, hoax, dan bisa menumbuhkan agama menjadi jalan untuk hidup dengan asyik dan santai, bukan hanya jalan untuk akhirat saja.

Seperti harapan dan doa Joko Pinurbo dalam puisinya berjudul Doa untuk Agama:

Semoga agama tidak membuat cinta yang lembut menjadi kaku

Semoga agama tidak membuat cinta yang cair menjadi beku

Semoga agama tidak membuat cinta yang manis menjadi bengis

Semoga agama masih percaya bahwa kita pantas memeluknya

Muhamad Ulinnuha santri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, Bantul


(mmu/mmu)