Kolom

Gonjang Ganjing Telur

Anes Lusia Ardhiana, Harnanik - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 14:00 WIB
Menjelang hari Natal dan Tahun Baru, harga telur ayam di pasar tradisional merangkak naik.
 Harga telur ayam kini bertengger di Rp 28.000/kilogram.
Foto ilustrasi: Rengga Sancaya
Jakarta -
Anjloknya harga telur memukul telak peternak ayam, menimbulkan kehebohan di jagat nyata dan jagat maya. Pantauan saya yang juga tergabung dengan grup-grup peternak dan pedagang telur yang ada di media sosial menyuarakan keprihatinan yang mendalam. Tak jarang mereka sampai harus menjual aset, baik properti (tanah, rumah) ataupun kendaraan bermotor yang dimiliki untuk menutup kerugian yang mereka derita karena disparitas harga produksi dan harga jual yang tinggi.

"Kemarin saya terpaksa menjual tanah tegal buat menutupi kerugian, sekitar 4 jutaan sehari untuk 10.000 lebih ayam yang saya miliki. Tetangga saya yang juga sama sama peternak juga sudah melepas mobil yang baru setahun dibelinya," demikian cerita Karyatin seorang peternak yang berasal dari Blitar. Harapan mereka mendapat bantuan semacam BNPT dan juga subsidi harga pakan utamanya jagung juga seringkali disuarakan lewat media sosial.

Cerita di jagat nyata pun tak kalah heboh. Beberapa waktu lalu aksi nekat demo peternak dengan membentangkan spanduk besar menuntut pemerintah untuk menurunkan harga jagung saat Presiden Jokowi berkunjung ke Blitar, dan disusul aksi pelepasan ayam dan bagi bagi telur gratis sekurang-kurangnya 1.5 ton kepada masyarakat luas di beberapa titik tempat di wilayah Blitar kota dan kabupaten.

Gelaran aksi untuk mendapatkan dukungan pemerintah dalam menstabilkan harga telur ini mendapat animo besar masyarakat Blitar yang juga merasakan keprihatinan atas ambruknya harga telur saat ini.

Produksi dan Konsumsi

Bicara tentang telur, tentu tak bisa dilepaskan dari Provinsi Jawa Timur yang notabene merupakan sentra penghasil telur ayam ras paling besar di antara di Indonesia, dan juga Blitar sebagai bagian wilayah Jawa Timur yang memasok 70% produksi telur Jawa Timur.

Berdasarkan series data Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun 2018, 2019, dan 2020, kontribusi Jawa Timur sebagai penyuplai telur terbesar di Indonesia dari tahun ke tahun yaitu sebesar 1,32 juta ton atau sebesar 28.15% total nasional (2018), 1,63 juta ton atau sebesar 0,343% total nasional (2019), dan mencapai 1,732 juta ton atau 34,4% dari totalnya secara nasional (2020).

Telur begitu populer sejak dulu sebagai sumber protein hewani yang ketersediannya sangat mudah didapat oleh masyarakat luas dengan harga terjangkau. Telur ayam ras merupakan telur yang paling populer dikonsumsi sekaligus dibudidayakan di samping telur ayam buras, itik, dan puyuh.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan BPS, pada 2017 konsumsi telur di Indonesia mencapai 18,44 kg per kapita per tahun, 2018 mencapai 17,73 kg per kapita per tahun, 2019 mencapai 17,77 kg per kapita per tahun, dan pada 2020 mencapai 28,16 kg per kapita per tahun.

Meningkatnya konsumsi telur per kapita dari tahun ke tahun memacu subsektor peternakan ini untuk terus berkembang dan meningkatkan kapasitas produksinya dalam memenuhi kebutuhan pasar. Dan, pada akhirnya subsektor peternakan menjadi subsektor yang kontribusinya dapat diandalkan untuk perbaikan dan peningkatan perekonomian nasional.

Di Balik Anjloknya Harga

Lalu, bagaimana kabar dunia telur saat ini? Hancur. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi terkini.

Pada 5 Oktober lalu di wilayah Blitar harga jual kandang/dari peternak berkisar Rp 14.000 per kilogram dan hingga pada pertengahan Oktober ini pun belum mengalami kenaikan yang berarti. Pergerakan harga telur mudah untuk diamati, karena saat ini banyak fenomena penjualan telur eceran dilakukan di tepi jalan provinsi dengan menggunakan armada pick up ataupun mobil, dan sepengamatan saya pada pertengahan Oktober ini harga eceran telur bertengger di harga Rp 17.000.

Harga produsen dan konsumen ini tentu sangat jomplang bila dibandingkan dengan harga yang diatur dalam Permendag Nomor 7 Tahun 2020, yang mengatur bahwa harga acuan pembelian di tingkat petani/peternak sebesar Rp 19.000-Rp 21.000 per kilogram, sementara harga acuan penjualan di tingkat konsumen sebesar Rp 24.000 per kilogram.

Beberapa faktor yang disinyalir mempengaruhi anjloknya harga telur yang terjadi akhir akhir ini; pertama, naiknya harga jagung. Jagung merupakan bahan utama pakan ternak, yang keberadaannya tidak bisa digantikan oleh komoditas pertanian lain.

Ketiadaan impor jagung terkait regulasi pemerintah juga mengakibatkan peternak, baik industri maupun peternak mandiri/UMKM, berebut mendapatkan stok jagung lokal yang sama. Otomatis ini juga memicu harga jagung merangkak naik selama tahun 2021 ini, dan berada di kisaran Rp 5500 sampai Rp 6000 per kilogram kering, bahkan sempat menyentuh angka Rp 6800 per kilogram.

Harga pasar ini tentu sangat jauh selisihnya jika dibandingkan dengan harga menurut Permendag yang sebesar Rp 3150 per kilogram.

Harga jagung juga merupakan isu dilematis bagi pemerintah. Di pihak petani jagung, kenaikan harga ini perlu untuk disyukuri mengingat biaya pupuk juga mengalami kenaikan yang signifikan bahkan juga seringkali langka keberadaannya, di sisi lain kenaikan harga ini membuat para peternak menjerit.

Kedua, anjloknya harga telur juga dimungkinkan merupakan dampak dari penurunan permintaan akibat pemberlakuan kebijakan PPKM di wilayah Jawa-Bali. Adanya stok telur yang terus melimpah akibat tidak bisa terserap pasar terutama kota-kota besar.

Selain itu belum normalnya layanan hotel, tempat wisata, dan juga belum diizinkannya diadakannya acara-acara pengumpulan massa, seperti pernikahan. Pada akhirnya stok yang menumpuk tersebut daripada rusak/busuk akhirnya dijual murah bahkan terkesan diobral.

Ketiga, anjloknya harga telur saat ini dimungkinkan karena perusahaan integrator yang ikut berkecimpung di sektor budi daya ayam bahkan berskala industri. Pada awalnya perusahaan integrator ini hanya dikenal sebagai perusahaan yang memproduksi Day Old Chicken (DOC), obat-obatan, vaksin, serta pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan para peternak. Peternak bergantung 100% pada perusahaan ini karena tidak bisa memproduksi kebutuhan hulu budi daya ternak ayam.

Di masa lalu ada pemisahan peran yang jelas antara perusahaan (sekarang integrator) sebagai hanya "produsen" kebutuhan hulu subsektor peternakan dengan peternak sebagai "pembudidaya". Pembatasan peran tersebut sengaja diciptakan oleh pemerintahan waktu itu dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1990 tentang Pembinaan Usaha Peternakan Ayam Ras.

Salah satu isi Keppres tersebut adalah usaha budi daya ayam ras diutamakan bagi peternakan rakyat, perorangan, kelompok maupun koperasi. Perusahaan peternakan swasta nasional dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) bisa ikut melakukan budi daya dengan syarat harus bermitra dengan usaha peternakan ayam ras rakyat selambat-lambatnya tiga tahun.

Tetapi pada tahun 1999 Keppres Nomor 22 Tahun 1990 dinyatakan tidak diberlakukan lagi, dan ini membuka peluang lebar bagi perusahaan integrator untuk melebarkan sayap bisnisnya di budi daya ternak, selain tetap melayani/menyuplai kebutuhan hulu peternakan kepada para peternak. Mereka sudah mempunyai DOC, pakan, obat, dan vaksin sendiri, jadi kalau melakukan budi daya sendiri sudah jelas akan berdaya saing tinggi dan sangat efisien.

Bagaimana peternak bisa bersaing dengan perusahaan integrator jika kebutuhan pakan, obat, vaksin, dan DOC harus dibeli dari perusahaan integrator?

Mengingat arti penting secara sosial-ekonomi dari subsektor peternakan ini, maka perlu dijaga ksinambungan dan kebelangsungannya. Salah satu caranya menjaga kestabilan harga telur. Peran pemerintah sangat diharapkan dalam menjaga kestabilan harga jagung, harga telur, dan dimungkinkan juga dengan mengeluarkan regulasi terkait batasan ataupun syarat-syarat yang harus dipenuhi jika perusahaan integrator ingin berkecimpung di budi daya/peternakan sehingga tercapai win win solution.

Anes Lusia Ardhiana, S.Pi Statistisi Pertama BPS Kab. Blitar

(mmu/)