Sentilan IAD

Berbelanjalah Walau Tak Membutuhkan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 18:31 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Buku tipis bertuliskan Tabanas itu berwarna hijau kusam. Pada hari-hari tertentu kami menyelipkan selembar seratusan rupiah bergambar badak Jawa di dalam buku itu, lalu membawanya ke depan kelas, ke meja Bu Sumirah guru kami. Rasanya senang setiap kali melihat angka-angka di halaman buku bertambah besar, dan bertambah besar.

Yang pasti, Bapak dan Ibu Guru di sekolah tak henti mengajarkan kepada kami tentang pentingnya menabung. Hemat pangkal kaya, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Mantra-mantra sakti itu disampaikan tak hanya dalam paparan pelajaran di kelas. Ia keluar juga di soal-soal ulangan, di motto pada poster yang ditempel di dinding kelas bersebelahan dengan gambar Sultan Hasanuddin, bahkan tak jarang nongol pula dalam soal-jawab cerdas cermat di TVRI.

Tentu saja kami senang jajan. Tapi, kami juga senang menabung. Menabung adalah langkah konkret kami sejak kecil untuk mempersiapkan masa depan (meski tetap saja hasil tabungannya habis buat beli mainan).

Beberapa tahun kemudian, entah kenapa, saya sudah jarang sekali mendengar gempuran kampanye berhemat seperti itu. Mungkin karena saya tidak kenal para guru SD. Atau, mungkin juga karena krisis ekonomi 1998 tidak membuktikan bahwa kampanye menabung membawa hasil nyata untuk kekuatan fondasi dapur setiap keluarga. Yang ada justru nilai rupiah yang jeblok, dan mungkin uang tabungan yang disimpan teman-teman saya selama bertahun-tahun malah merosot jatuh nilainya, termakan inflasi.

Dengan kata lain, alih-alih tambah kaya, teman-teman SD saya itu justru bertambah miskin. Karena apa? Karena mereka menabung.

Bukan mustahil situasi itu pula yang menyebabkan pergeseran tren kampanye, dari menabung ke investasi. Sejak sekitar lima belas tahun silam, saya sudah jarang mendengar ada pakar perencanaan keuangan menyebut-nyebut kata menabung. Kalau toh harus muncul, lebih sering mereka menyebutnya dengan istilah lain, misalnya simpanan darurat. Dan, yang lebih kerap lagi munculnya adalah kata investasi.

"Cara menyimpan uang paling bodoh itu adalah menabung. Sebab nilai uang akan semakin turun, tidak pernah menjadi naik. Semakin lama dan semakin banyak kamu menabung, sebenarnya kamu akan semakin miskin." Begitu kata seorang kawan saya, tuan tanah merangkap tukang ceramah nirlaba dalam bidang investasi.

Sebenarnya saya tidak cukup berminat dengan tema-tema seperti itu. Sialnya, memang dia benar. Dan, dari situlah saya melihat bahwa konsep-konsep manajemen diri semacam menabung itu adalah teori yang kapan pun harus siap direvisi. Dulu, pada zaman saya SD, menabung itu keren dan mulia. Tapi, pada zaman ketika orang sudah sadar inflasi, menabung mendapatkan predikat baru, yaitu cara terbodoh dalam menyimpan harta.

***

Saya tiba di Kuta, Bali sekitar sepekan lalu. Sebagai pelaku revenge tourism, istilah yang disebut-sebut Sandiaga Uno itu, sebenarnya saya agak salah sasaran. Kuta memang bukan tujuan jalan-jalan favorit lagi. Sudah lama para ekspatriat pindah ke Canggu, kata teman saya. Tapi saya paham, teman saya itu masih muda, tidak pernah merasakan romantika bersama Andre Hehanussa, sehingga wajarlah dia tidak mengerti bahwa bagi generasi kami tak ada ke Bali tanpa ke Kuta.

Tapi memang benar. Kuta sepi sekali, selepas magrib gelap sekali. Kafe-kafe tutup, sebagian malah sudah dibongkari. Di parkiran hotel-hotel cuma ada sebiji dua biji mobil, lampu-lampu pun mereka nyalakan beberapa titik saja. Kenangan visual tentang Kuta di sore hari sudah nyaris tak ada bekasnya sama sekali. Ini bukan sajian suasana yang vibrant, melainkan pameran kehancuran.

Dan, di sela-sela suasana perih itu, di atas pasir yang kata Andre putih padahal di mata kami lebih dekat ke krem kusam, beberapa pedagang merubung kami. Jual gelang, jual kacang, jual jasa pijatan. Saya tahu, kami tidak memerlukan semua itu. Tapi, kalau para revenge tourists seperti kami tidak membeli, lantas siapa yang akan membeli?

"Kemarin kan Bali sudah dibuka buat turis luar, Mas. Dan pengunjung utama dari luar itu ya dari Australia. Nah, pas di sini dibuka, di sananya yang masih ditutup belum boleh keluar," kata pemilik warung tempat kami makan siang. "Kami tunggu kabar dari bandara. Nggak ada satu pun bule masuk."

Kami menyimak senyum kecut pada wajah si ibu pemilik warung itu. Banyak tempat di Indonesia, juga di belahan bumi lainnya, yang hancur seketika karena wabah ini. Terutama daerah-daerah yang mengandalkan pariwisata sebagai urat nadi perekonomiannya. Wisata mengandalkan pergerakan manusia dan kerumunan, sedangkan dua hal itu adalah sarang hangat yang paling menyenangkan bagi virus-virus korona.

Maka, hancurlah kantong-kantong wisata. Malangnya, daerah yang sudah memutuskan menjadi sentra wisata biasanya sudah kadung meninggalkan sumber-sumber penghidupan sebelumnya. Akibatnya, ketika periuk wisata hancur, banyak sekali di antara para pelakunya yang tak punya pilihan tersisa, tak lagi bisa berbuat apa-apa.

Saya tidak hendak bicara hanya tentang daerah wisata. Ini tentang siapa saja, di mana-mana. Betapa wabah ini menjungkalkan piring nasi jutaan manusia. Pertanyaannya, dalam situasi seperti ini, apakah guru-guru sekolah masih giat berkampanye tentang menabung?

Oke, jangankan menabung, banyak orang bahkan kesulitan buat makan. Tapi, bagi siapa pun yang masih punya penghasilan, saya mulai curiga bahwa predikat bodoh pada aktivitas menabung itu sudah harus diubah lagi.

Pada zaman berat seperti sekarang ini, menabung bukan lagi bodoh. Ia bisa-bisa menjadi "dosa". Sebab dengan menabung, akumulasi kapital tersentralisasi hanya pada beberapa titik saja, ngendon di dalam rekening orang-orang yang masih berpunya, dan tidak membawa berkah bagi siapa pun di sekelilingnya.

Sementara itu, dunia di sekitar kita sedang membutuhkan oli yang perlu terus-menerus diteteskan pada gerigi roda-roda ekonomi. Maka, alih-alih menabung, bisa-bisa "ibadah" yang paling mulia bagi siapa pun yang masih berpenghasilan pada saat seperti ini adalah berbelanja. Dan, pada tahap ekstremnya, berbelanja di sini bukan lagi berbelanja kebutuhan.

"Meski tak sedang membutuhkan, berbelanjalah!" Mungkinkah slogan semacam itu sekarang ditempelkan di poster-poster sebagai pengganti "hemat pangkal kaya"?

Coba lihat penjual gelang di Kuta itu. Kalau Anda membeli sebiji saja gelangnya, maka yang akan bergerak bukan cuma dia. Ada pengepul gelang yang menjadi tempat kulakan para pedagang itu, ada para pengrajin gelangnya, ada juga para pedagang kulit bahan baku gelang. Meski dengan gerakan yang lemah, setiap mata rantai bergerak, dan setiap tetes kecil oli akan membawa gerakan-gerakan susulan. Demikian juga sektor-sektor riil lainnya.

Pada titik ini, barangkali seruan menolak konsumtivisme tak lagi relevan; istilah "mubazir" pun tak pantas lagi diucapkan. Kemarin konsumtivisme ditolak, sebab ia menjadi perilaku berbelanja yang hanya mengabdi kepada keinginan dan bukan kepada kegunaan. Tetapi sekarang, semua harus kembali mendefinisikan ulang apa itu makna "kegunaan". Apakah memutar mesin ekonomi yang terengah-engah ini bukan sebuah kegunaan?

Bagi siapa pun yang masih punya uang, lupakan dulu kegemaran menabung. Bisa-bisa ia menjadi dosa yang memacetkan roda-roda gerigi mesin ekonomi, dan ketika mesin itu macet Anda pula yang akan ikut kena getahnya.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)