Kolom

Yusril, Demokrat, dan Politik Sindiran

M Nafiul Haris - detikNews
Kamis, 07 Okt 2021 15:10 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -
Perseteruan di tubuh Partai Demokrat antara kubu Moeldoko dengan kelompok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tampaknya belum menunjukkan tanda berakhir. Bahkan, kisruh kader dengan mantan kader tersebut justru menemui babak baru sejak kuasa hukum partai berlambang mercy itu yakni Yusril Ihza Mahendra berpindah haluan membela Moeldoko.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut memilih membela kubu Moeldoko disinyalir karena kubu AHY tidak bersedia membayar jasa Yusril beserta tim senilai Rp 100 miliar. Meski demikian, Yusril menampik; menjadi kuasa hukum Moeldoko tidak lebih hanya karena peduli pada demokratisasi dalam tubuh partai politik. (detikcom, 23/9).

Sengkarut kisruh Partai Demokrat dengan Yusril bermula dari tudingan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Andi Arief di Twitter. Sebelumnya, Yusril disewa untuk menggugat atas hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Moeldoko di Deli Serdang pada Maret 2021. Belakangan, justru Yusril mengajukan judicial review AD/ART Demokrat 2020 ke Mahkamah Agung (MA).

Namun, di balik konflik yang kemungkinan bakal berkepanjangan itu ada yang menarik untuk diamati lebih jauh yakni respons Yusril terhadap Andi Arief dengan mengirimkan meme berisi gambar Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenakan baju putih dan peci hitam dengan tulisan 'Saya Prihatin'.

Sontak, meme tersebut pun menjadi bahan konsumsi publik lantaran sejumlah media menulis berita dengan angle itu. Bahkan, ada pula media online nasional yang menjadikan foto utama berita terkait konflik Partai Demokrat dengan Yusril dan kubu Moeldoko memakai ilustrasi meme SBY itu.

Ya, sejak memasuki era internet gaya berkomunikasi para politikus menjadi begitu beragam dari saling sindir, menuliskan cuitan bernada sarkasme termasuk plesetan, sampai pada kekonyolan dalam bentuk meme. Hal itu merupakan suatu hal wajar bagian dari fenomena ikutan ketika media sosial mendominasi; humor pun berevolusi dalam banyak bentuk dan meme menjadi materi yang kemudian sangat populer.

Meme


Istilah meme --dibaca 'mim', tetapi dalam versi Indonesia lazim dibaca 'me-me'-- pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli biologi asal Britania Raya, Richard Dawkins (1976) dalam bukunya The Selfish Gene. Berasal dari bahasa Yunani mimea, yang kira-kira berarti sesuatu yang ditiru atau diimitasi.

Kita semua tahu, geliat visual di dunia internet di Indonesia tengah berada pada tingkatan yang masif. Setiap kejadian cepat sekali menyebar dan viral, puluhan hingga ratusan citraan foto bergerak-berseliweran setiap hari di media sosial. Citraan-citraan tersebut biasanya disertai teks-teks dengan gaya kritik menggelitik. Tak ayal, para politikus kerap memanfaatkan ruang digital itu untuk beragam kepentingan dari yang sederhana seperti pencitraan, berbagi aktivitas harian, sampai berupa olok-olok.

Tidak jarang pula meme diproduksi sekadar menyapa warganet; mereka menggunakan materi dalam bentuk meme ini karena dianggap lebih mudah dipahami publik serta memuat unsur kelucuan atau jenaka. Gambar grafis atau foto yang direkayasa dengan atau tanpa disertai teks sederhana sebagai pelengkap ini lebih mudah tersebar luas di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Meskipun lebih banyak meme dijadikan pemantik sederhana karena berupa humor gambar atau foto, pada konflik Partai Demokrat ini penggunaan meme menurut hemat saya, penyebarnya ingin menyampaikan pesan bahwa kisruh antara satu kelompok dengan lainnya tidak perlu disikapi secara serius, apalagi dramatis. Santai bahkan biasa saja tanpa ketegangan, sebab humor dalam politik merupakan bagian penting keterampilan berkomunikasi politikus lebih-lebih pada dasarnya semua orang suka.

Politik Sindiran


Jauh sebelum dipakai Yusril, penggunaan meme sebagai alat politik sindiran ini pernah pula dimanfaatkan oleh banyak pihak antara lain Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando yang menyindir poster Ibas dan AHY atas ucapan selamat kepada atlet peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2021 Greysia Poli-Rahayu Apriyani lewat cuitannya di Twitter.

Ketika itu, yang dipermasalahkan Ade ialah wajah para tokoh politik yang terpasang di poster itu lebih besar dibanding foto atlet peraih medali emas tersebut. Padahal, mereka sama sekali tidak ikut bertanding kira-kira begitu pesannya. Pengalaman serupa juga pernah dialami Ketua DPR Puan Maharani, bahkan dapat dibilang lebih sarkas ketimbang meme SBY oleh Yusril.

Dalam meme karya John Trumbull (2021) yang beredar luas di media sosial ketika itu sosok Puan Maharani di baliho dengan tulisan "Kepak Sayap Kebhinekaan" diganti dekorasi dinding yang menampilkan gambar piala dan bendera militer Inggris. Tidak hanya itu, meme yang kedua menempatkan baliho Puan di foto pendaratan Neil Amstrong di bulan pada misi Apollo 11 pada 29 Juli 1969.

Inilah kenyataan di era politik virtual; mau tidak mau keadaan itu telah terjadi dan meme seringkali hadir dalam bentuknya yang berupa olok-olok dan sindiran pada suatu fenomena ketimbang sebagai alat kritik sosial bahkan politik. Para politikus negeri ini tak luput menjadi bulan-bulanan para netizen.

Siap tidak siap pada masa-masa mendatang di media sosial, ketika muncul kisruh sehingga gaduh di dunia maya dengan cepat beredar banyak meme alias gambar atau foto guyonan, olok-olok tentangnya. Melihat kian maraknya penggunaan internet dan media sosial hari ini, meme semakin populer dan memperluas fungsi-fungsinya. Dan, terbukti dalam pemaknaan meme sebagai bentuk kritik, humor, sindiran, atau olok-olok saat ini masih melekat. Dapat digunakan berulang-ulang dengan konten dan konteks yang berbeda-beda.

M Nafiul Haris
alumnus Fisipol Universitas Wahid Hasyim Semarang


(mmu/mmu)