Kolom

PJJ dan (Turunnya) Kompetensi Siswa

Nicholas Nathan Hendrik - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 13:02 WIB
Ilustrasi belajar online
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Banyak sekali yang berpendapat bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah berdampak buruk pada kompetensi akademik siswa. Learning loss adalah istilah yang cukup populer akhir-akhir ini. Sering sekali kita melihat istilah ini digunakan sebagai dampak dari PJJ dalam artikel-artikel online serta menjadi topik iklan salah satu aplikasi pembelajaran.

Dikatakan, learning loss akan lebih rentan dialami siswa yang tidak memiliki akses yang maksimal untuk melakukan pembelajaran daring. Banyak sekali artikel dan pendapat yang menyatakan PJJ itu memiliki dampak negatif yang besar bagi kemampuan akademik siswa. Namun, bagaimana dengan kenyataannya? Apakah benar PJJ sangat merugikan kemampuan kognitif siswa?

Mungkin beberapa sekolah akan setuju terhadap pandangan tersebut. Tetapi, yang terjadi di SMA Kanisius Jakarta tidaklah terduga. Berdasarkan rata-rata nilai murid-murid pada tahun lalu, nilai pelajar di SMA Katolik ini justru meningkat pada saat pembelajaran online.

Semester awal ketika siswa SMA Kanisius menjalani PJJ secara utuh benar-benar menjungkirbalikkan ekspektasi. Lebih dari setengah dari total siswa angkatan 21 berhasil meraih nilai di atas rata-rata, bahkan di atas 88. Sebelumnya, hal ini belum pernah terjadi. Namun, siswa-siswa dalam semester kemarin yang mengalami PJJ justru mengukir sejarah baru dalam meraih kompetensi akademik yang sangat baik. Bagaimana Bisa?

Hal ini seakan-akan anomali dalam sistem. Di saat banyak sekali penelitian dan artikel yang memperingatkan para pengajar atau pendidik serta orangtua untuk waspada akan terjadinya learning loss bagi para murid, yang terjadi justru kebalikannya di SMA yang dinaungi Yayasan Budi Siswa ini.

Sekolah yang berada di Menteng ini memang bukanlah termasuk sekolah yang tidak berkecukupan. Fasilitas yang disediakan oleh sekolah selama online pun sangat mumpuni. Pembelajaran dilaksanakan dengan media Google Meet agar terjadi secara dua arah. Google Classroom, Google Forms, dan CBT juga dipakai untuk menunjang pembelajaran siswa. Sebagian besar guru-guru di sekolah ini juga cukup mengerti cara pemakaian media online selama PJJ berlangsung.

Fasilitas yang maksimal akan meminimalisasi terjadinya penurunan kemampuan akademik siswa dalam PJJ. Hal ini juga dapat terjadi karena murid-murid lebih memiliki waktu luang yang lebih longgar dibandingkan saat pembelajaran tatap muka (PTM). Dalam PTM, murid-murid di sekolah menegah atas ini akan masuk sekolah pukul 7 pagi dan selesai pukul 2 atau 3 siang. Belum lagi kegiatan ekstrakurikuler yang bahkan bisa memakan waktu hingga jam 5 sore.

Berbeda dengan PTM, jam pelajaran SMA Kanisius sekarang saat PJJ dimulai dari jam 08.00 sampai dengan jam 12.30 siang hari. Ekstrakurikuler juga lebih longgar karena mulai pada pukul 3 siang. Waktu yang lebih longgar dan lebih singkat berarti murid-murid dapat lebih santai dan memiliki waktu luang yang lebih. Waktu luang ini dapat digunakan oleh mereka untuk berbagai macam hal untuk melepaskan penat mereka sehingga mereka tidak merasa terbebani ditekan oleh pelajaran terus-menerus.

Selain itu, pembelajaran di SMA Kanisius juga sudah menerapkan metode differentiated learning atau diferensiasi belajar. Ini adalah metode dimana guru membagi murid-murid dalam satu kelas berdasarkan kemampuan akademik mereka. Misalnya, guru akan membagi satu kelas menjadi dua kelompok berdasarkan hasil sebuah tes. Namun hasil tes ini hanya bersifat sebagai tolok ukur saja, bukan untuk keperluan nilai akademik.

Berdasarkan hasil tes, murid-murid akan dibagi menjadi yang sudah mahir dalam materi tersebut, yang cukup paham dalam materi tersebut, dan yang masih perlu bimbingan lebih untuk materi tersebut. Metode ini digunakan agar kegiatan belajar mengajar tidak didominasi oleh murid-murid yang sudah mahir dalam materi tersebut dan memberi kesempatan serta perhatian lebih pada yang lebih membutuhkan sehingga pelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan intensif.

Metode diferensiasi belajar ini baru saja diterapkan sejak SMA Kanisius menggunakan model pembelajaran online. Melihat dari hasil rata-rata rapor murid-murid pada PJJ, dapat dikatakan bahwa metode diferensiasi belajar ini memiliki dampak positif pada kompetensi akademik siswa-siswa.

Penghargaan yang diberikan oleh sekolah ini pada siswa-siswa yang berprestasi secara akademik juga dapat menjadi salah satu motivasi mereka. SMA Kanisius memiliki acara yang dinamakan Appreciation Day; siswa-siswa yang meraih prestasi unggul dalam bidang akademik maupun non akademik akan diapresiasi di depan murid-murid lain dan mendapatkan sertifikat untuk prestasi mereka.

Appreciation Day ini tidak seperti di sekolah-sekolah lainnya yang biasanya dilaksanakan pada akhir semester 6, di Kanisius diadakan setiap semester. Hal ini dapat menjadi salah satu motivasi bagi murid-murid untuk meraih prestasi akademik di setiap semesternya, bukan hanya pada saat kelas 12 saja.

Menyontek

Menyontek juga merupakan faktor yang cukup kuat dalam menjadi alasan mengapa prestasi akademik siswa SMA Kanisius lebih baik dari sebelumnya. Dalam PJJ, murid-murid memiliki banyak sekali kesempatan untuk berbuat curang dan bekerja sama dalam ulangan atau tugas mereka.

Memang masih ada kesempatan untuk dapat melakukan aksi menyontek, tetapi akan sangat sulit menurut saya. SMA swasta ini sangat ketat dalam menjalankan ulangan hariannya, meski secara online. Murid-murid dituntut untuk menggunakan kamera kedua untuk menunjukkan laptop dan meja belajar mereka. Dengan pengawasan seperti itu, tentu akan sulit untuk siswa-siswa yang menjalani ulangan untuk melakukan kecurangan.

Selain itu, aksi menyontek juga merupakan hal yang sangat tabu di sekolah swasta ini. Setiap orangtua murid diminta untuk membuat surat pernyataan; jika putranya terbukti menyontek, maka akan langsung dikeluarkan dari sekolah.

Bukan Alasan

Selagi banyak pihak yang menyalahkan PJJ untuk turunnya kualitas akademik murid, SMA Kanisius berhasil membantah hal tersebut dengan bukti berupa hasil belajar semester-semester lalu. Hal ini dikarenakan SMA Kanisius mengadakan fasilitas yang lengkap bagi siswa-siswanya dalam PJJ, yakni dengan berbagai macam sarana online yang dapat mudah diakses oleh para siswa.

Penyesuaian jam pelajaran juga memiliki peran yang penting. Dalam PJJ, Kanisius mengurangi jam pelajaran per harinya sehingga murid-murid bisa lebih santai dan tidak terbebani oleh sekolah online. Metode diferensiasi belajar tentunya mengambil peran penting juga; guru dituntut untuk beradaptasi sesuai dengan kemampuan muridnya sehingga hasil pembelajaran lebih efektif dan efisien. Efisiensi metode ini telah dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai akademik yang signifikan selama PJJ.

Motivasi belajar bagi murid-murid juga sangat baik, seperti contohnya Appreciation Day yang dilaksanakan setiap semesternya. Hal ini dapat mendorong semangat belajar murid-murid. Untuk menghindari terjadinya aksi menyontek, perlu adanya aturan yang ketat dari sekolah, seperti tuntutan untuk menggunakan kamera kedua untuk memonitor kerja siswa saat ulangan serta aturan menyontek yang tegas.

Akhir kata, menurut saya PJJ tidak dapat dijadikan alasan mengapa nilai akademik siswa menurun. Sekolah terlebih dahulu perlu melakukan yang maksimal untuk mengakomodasi kebutuhan murid-murid dan menyediakan sarana dan prasarana yang optimal dalam membantu murid dalam mencapai prestasi akademis.

Nicholas Nathan Hendrik siswa SMA Kanisius Jakarta

(mmu/mmu)