Kolom

Suara Anak di Klaster Covid Sekolah

Endah Widyawati - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 11:30 WIB
Klaster Sekolah Covid: Data Terbaru Klaster PTM di Situs Kemdikbud
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Mata Bonny berbinar ketika sekumpulan ayam mendekatinya. Wajahnya menunjukkan kebingungan karena mendadak ayam-ayam mengerumuninya. Saya mahfum, ayam-ayam itu mengira Bonny membawa makanan.

Saya pun segera mengambil sejumput beras dari wadah pakan ayam di teras dekat kandang, dan saya contohkan bagaimana menaburkan beras agar dipatuki ayam. Bonny meniru. Tangan kecilnya menjumput beras dari wadah dan menebarkan di paving block. Bonny kegirangan melihat perilaku ayam yang segera mematuk-matuki taburan beras. Lalu saya ajarkan Bonny untuk memberi makan ayam dari telapak tangan. "Hiii geliiiii," kata Bonny.

Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan viralnya berita-berita tentang munculnya klaster baru di Sekolah Dasar sejak dibukanya Pembelajaran Tatap Muka (PTM). 25 Klaster Covid-19 Belajar Tatap Muka Ditemukan di Jakarta. Sekolah Dasar adalah Penyumbang Terbanyak Kasus Corona Murid dan Guru.Klaster Sekolah Bermunculan

Saya membaca berita-berita itu di grup Kepala Sekolah Dasar Swasta di suatu wilayah di Jakarta. Saya ada di dalam grup itu, dan melihat bagaimana teman-teman Kepala Sekolah memberi berbagai komentar. Ada yang membandingkan dengan usaha keras mereka mengikuti prosedur persiapan pembelajaran tatap muka, ada yang mengeluh karena pertemuan dengan murid tersayang berarti semakin semakin jauh.

Saya sendiri melihat bahwa pewarta berita dan individu yang share berita itu pastinya tidak membayangkan binar mata Bonny dan interaksinya dengan ayam. Saat melihat Bonny dan ayam, saya teringat dengan foto Anil Prabhakar, fotografer India, yang sempat viral. Foto itu menunjukkan gambar seekor orang utan mengulurkan tangan kepada seorang pria di dalam rawa.

Seperti orang utan yang menolong manusia dari bahaya, dengan caranya yang khas, ayam-ayam mengundang Bonny untuk kembali kepada fitrahnya, ke dunia bermain anak.

***

Ketika berita klaster baru karena PTM muncul, dan memperhatikan Bonny di halaman sekolah, saya tengah membaca buku The School of Life. Buku itu merupakan kumpulan tulisan kelompok pemikir kontemporer dari Inggris, The School of Life. Organisasi itu didirikan oleh Alain de Botton, penulis dan filsuf, yang bertujuan memberi tools agar orang bisa bertahan dalam kehidupan modern.

Botton mengatakan bahwa manusia sibuk dengan pendidikan dan teknologi tapi tidak pada hal mendasar, yang bersifat psikologis. Begitu pula yang terjadi saat ini. Pewarta memberikan angka-angka statistik tentang kluster baru, tetapi tidak memberikan jalan keluar bagaimana agar Bonny dan teman-temannya tidak kehilangan jejak kemanusiaannya.

Saya menyebut pewarta sebagai orang yang membuat berita maupun yang mengunggah dan menyebarkan berita. Para pewarta itu pastinya lebih beruntung daripada Bonny karena ketika kecil bisa bermain bebas, dan bisa pergi ke sekolah bertemu guru dan teman. Sayangnya ketika dewasa mereka melakukan tindakan, menyiarkan berita, tanpa berpikir dampaknya.

Dampak apa? Kan yang disampaikan sudah benar, karena merupakan data. Bahkan ada yang menyitir pendapat IDI yang mengkhawatirkan dampak dari dibukanya sekolah terhadap kesehatan. Betul, kesehatan fisik adalah nomor satu, dan harus dijaga, bahkan diperjuangkan. Namun kalau menyampaikan unggahan tentang klaster sekolah, ada baiknya diimbangi juga dengan suara anak.

Saat mengunjungi sebuah sekolah yang telah mendapat Surat Keputusan dari Dinas Pendidikan untuk diberlakukan PTM, saya melihat sikap anak-anak yang terlalu patuh aturan. Mereka berbaris untuk dipanggil saat ada yang menjemput, dan berjalan lurus. Hmmm, apakah mereka gembira? Mesti ditanya langsung ya bagaimana perasaan mereka dan apa harapan mereka. Namun apakah ada yang melakukan itu? Saya sendiri tidak, karena sebagai tamu saya tidak boleh mendekati siswa.

Seorang wakil dari Dinas Pendidikan yang ikut dalam prosesi siswa meninggalkan sekolah pun berdiri dengan tegap dan mata mengawasi pergerakan anak. Pastinya dia bekerja dengan SOP untuk mengawasi prosedur di sekolah itu.

Lalu siapa yang berpihak pada anak? Apakah para ibu? Mungkin, ya. Lihat saja, dalam unggahan tentang pandemi dan anak, akan muncul ratusan bahkan ribuan komentar ibu-ibu. Seperti ayam yang diberi makan oleh Bonny, para ibu akan mengepakkan saya lebar-lebar untuk melindungi anaknya.

Saya pun pernah dikeroyok ibu-ibu, ketika mengomentari unggahan seorang kenalan yang akan membuat petisi agar sekolah tidak dibuka pada awal tahun ajaran lalu, ketika Covid baru merebak. Petisi itu akan diajukan kepada Presiden. Saya bilang, kenapa tidak disampaikan saja ke sekolah tentang keberatan mengirim anak ke sekolah. Huaaa...langsung bermunculan komentar...entah isinya apa. Saya tidak membacanya karena langsung menutup notifikasi komentar dari akun itu.

Ketika itu, saya merasa tidak nyaman mendapat keroyokan, namun setelah membaca buku The School of Life, saya menjadi tenang. Kata Botton, dalam pengantar di buku itu, emosi perlu diedukasi. Di dalam emosi tidak hanya ada perasaan, tetapi juga skills. Cerdas emosi itu terkait dengan keterampilan berintrospeksi, berkomunikasi, membaca suasana hati orang lain, dan kesabaran.

Dengan cerdas emosi, dalam memperjuangkan hak pendidikan anak, kita akan bekerja berdasarkan suara anak. Misalnya saja, dalam pertemuan antara sekolah dan orangtua murid, seorang ibu mengatakan, "Tiara sedih karena Bu Guru tidak melihat dia sudah membuka fitur mengangkat tangan beberapa kali."

"Boleh tidak kalau dibuat breakout room saja supaya kelas tidak terlalu besar?" Alih-alih menulis komentar di sosial media tentang data pandemi ataupun kebijakan pendidik, ibu itu melakukan tindakan yang tepat sasaran berdasarkan suara anaknya.

Ya, mungkin spesies lain lebih peka terhadap suara spesies manusia. Dalam mengisi pendidikan di masa pandemi, kita mesti belajar dari orang utan, bahkan ayam yang kecerdasannya sangat rendah, untuk mendengar kebutuhan dasar manusia.

Saya dan tim fokus menjaga wellbeing anak, tanpa bicara. Kami membuka perpustakaan yang memungkinkan anak datang ke sekolah, dengan aturan prokes ketat, tentu. Sudah dua semester lebih perpustakaan dibuka dan selalu ada satu dua anak datang bersama keluarga untuk meminjam buku. Mungkin meminjam buku hanya dalih agar bisa bermain dengan ayam, melihat kura-kura, atau berlarian di kebun sekolah.

Apa pun, dengan cara itu mereka tidak terkungkung di dalam rumah. Mereka berinteraksi dengan hewan, dan bertemu dengan satu dua orang di sekolah, entah itu petugas perpustakaan, penjaga, ataupun guru. Suara ceria anak-anak saat berlarian menunjukkan suara hati yang murni.

(mmu/mmu)