Jeda

"Ngrasani" Orang Jualan

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 11:02 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pagi-pagi ketika membuka handphone, saya sudah disuguhi dengan story WhatsApp teman-teman yang isinya sambat semua. Sambatnya pun seragam, tentang si A yang katanya tidak mau jualan lagi. Padahal teman-teman yang sambat ini adalah pelanggan setianya.

Si A ini dikenal sebagai penjual pakaian dalam yang laris. Jualannya hanya modal story WhatsApp. Sebenarnya tidak hanya pakaian dalam. Dia ini pintar menjahit dan punya hobi yang sama dengan saya yaitu membaca manga dan nonton anime. Jadi kadang-kadang kalau lagi mood, dia bisa menjahit pakaian cosplay. Nah, saya ikut kaget kalau dia tidak mau berjualan lagi. Lha, jaket Akatsuki pesanan saya belum jadi.

Selidik punya selidik, si A ini mutung karena ada yang ngrasani dia soal jualannya. Ada yang bilang kalau dia tidak bisa menghargai suaminya yang kaya. Oh, dia sendiri sebenarnya juga sudah bisa dikatakan orang berada. Jadi karena jualannya adalah pakaian dalam (ada yang versi murah lagi), hal itu dinilai sesuatu yang memalukan. Suaminya orang perminyakan kok istrinya dodolan cawet? Apa uang dari suaminya kurang? Nah, begitu kira-kira bentuk rasan-rasan-nya.

Saya kurang paham apakah jika si A ini jualan tas Hermes apakah masih dirasani? Sebenarnya apa yang salah dengan jualan pakaian dalam? Si A ini dikenal komunikasinya yang baik, orang-orang nyaman dengannya, pembelinya dari berbagai kalangan. Jadi teman-teman jika mau beli pakaian dalam juga nyaman kalau bertanya. Cara jualannya juga tidak mengganggu. Apanya yang salah?

Si A sebenarnya bisa saja tidak ngreken orang-orang yang julid dengannya. Tapi bisa saja dia sedang dalam kondisi psikis yang kurang baik, jadi gampang sensitif. Akhir-akhir ini memang orang gampang sensitif, sepertinya saya juga termasuk. Kalau suaminya yang disinggung, setahu saya memang dia gampang sensitif. Dia dibilang istri yang membuat malu suami, jadi ya pastinya sakit hati. Padahal dulu dia pernah cerita kalau suaminya tidak masalah dengan dirinya yang berjualan. Soal kebutuhan memang sudah tercukupi, tapi berjualan adalah bentuk aktualisasi diri, biar tidak ngelangut.

Sebelum ini saya juga pernah melihat seseorang yang mencuit di Twitter begini, "Bekerja keraslah agar story WhatsApp istrimu tidak berisi 'basreng ready shay' terus." Di versi lain ada yang mencuit begini, "Makanya aku nggak mau nikah muda. Nggak mau kan nanti habis nikah story WhatsApp istriku 'seblak ready hari ini, Kak' setiap hari."

Saya paham maksud dari tweet itu adalah menyemangati diri sendiri agar menjadi kaya, jadi tidak menelantarkan istri. Saya pun bukan penganut paham nikah muda. Tapi di saat yang sama kalimat itu juga menimbulkan pro-kontra bagi yang membacanya. Apa benar istri yang berjualan selalu karena alasan suaminya tidak sanggup mencukupi kebutuhan? Jangan-jangan istri berjualan itu ya atas kehendak diri sendiri karena memang suka.

Saya bisa ngomong seperti itu ya karena dapat cerita dari teman-teman. Teman-teman saya tentunya sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak. Ada yang memang berjualan karena ingin membantu perekonomian keluarga, ada yang memang mereka ingin berjualan saja daripada bengong. Berjualan, selain menyenangkan karena mengumpulkan recehan juga demi kesehatan mental mereka. Berjualan membuat para istri itu merasa berharga, berguna, eksistensi diri, memperluas jaringan dan persaudaraan, dan banyak alasan lain.

Saya baru saja membaca curhatan seseorang di dinding Facebook. Dia mengeluh tentang banyak teman-teman perempuannya setelah menikah, story WhatsApp-nya berubah menjadi story "jahitan". Dia ngomel-ngomel karena menurutnya itu mengganggu. "Story kok isinya dagangan semua," katanya. Dia mempertanyakan kemampuan suami orang yang diomongkan itu dalam hal menafkahi keluarga.

Kalau saya pribadi tidak ada masalah dengan status WhatsApp yang seperti jahitan. Justru saya menantikan status jahitan itu kalau jualan yang bersangkutan sesuai dengan apa yang saya mau. Buku, makanan, sembako, sarung, mainan anak, pernak-pernik anime, dan lain-lain kecuali kosmetik. Saya perempuan tapi justru tidak punya peralatan make up dan tidak paham kosmetik. Jadi ya kalau jualannya kosmetik cukup tidak saya buka, tidak sampai mengeluh dengan story jahitan wong saya bukan target market-nya. Tidak sampai mempertanyakan tentang kemampuan suami mereka dalam menafkahi.

Tapi memang berjualan ini masih ada yang menganggap sesuatu yang menurunkan gengsi. Saya sering dicurhati beberapa teman penulis yang malu untuk mempromosikan bukunya. Katanya mosok penulis masih harus berjualan? Tapi di sisi lain mereka juga sering sambat soal finansial. Apa memalukan kalau mempromosikan buku sendiri? Setidaknya pernah posting, tidak perlu lebay dalam menjualnya.

Saya sempat mau merekomendasikan mereka untuk menjadi reseller buku ketika mereka sambat soal keuangan (setidaknya itu hal yang masih berhubungan dengan literasi), tapi wong buku mereka sendiri saja tidak mau mempromosikan bukunya, ya mosok mau jadi reseller buku lain.

Berjualan sebenarnya tergantung caranya. Asal tidak mengganggu, ya tidak apa-apa. Saya curiga yang nyinyiri orang berjualan ini dulunya pernah diprospek orang jualan dengan cara yang mengganggu. Belum kenal, eh sudah ditembak langsung buat membeli barang jualannya; cara beriklan yang menyinggung, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya. Jadi soft selling memang penting. Saya mengamati orang-orang yang caranya beriklannya sungguh kreatif. Mereka seakan-akan menceritakan hal lain tapi intinya berjualan. Kadang tidak perlu beriklan sudah dicari sendiri.

Saya paham, tidak semua orang berbakat dalam berdagang meski katanya 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari berdagang. Saya tidak hendak membahas soal status hadis tersebut lemah atau tidak --bukan porsi saya. Memang tidak semua orang harus berjualan. Ya, kalau semua berjualan, siapa yang beli? Tapi setidaknya tidak menganggap berjualan adalah sesuatu yang memalukan.

Saya sendiri sebenarnya lebih berbakat jadi filantropis daripada pedagang. Sayangnya belum cukup kaya raya. Ha-ha. Tapi saya suka menjual apa saja yang saya sukai walau tidak konsisten dan sesuai mood saya saja. Buku-buku yang menurut saya bagus, buku-buku bagus yang sedang booming (ini lumayan banget untungnya), dan sarung batik.

Dulu juga pernah jualan produk jahitan goni seperti peci dan tas, limun buah kawis kalau pas musim, mainan kayu, entah apalagi saya lupa. Random sekali memang. Bahkan kata teman-teman saya dulu, apa saja bisa saya jual kecuali harga diri.

Jangan dikira saya juga bebas dari julid-an. Kalau sedang posting jualan saya juga sering dikomen "Kok masih jualan? Apa honor nulis kolom tidak cukup? Kok masih ngopeni recehan dari printhilan nggak penting?" Duh, lama-lama omongan dari para julid-ers ini juga mau tak-jual.

Gondangrejo, 25 September 2021

Impian Nopitasari penulis, tinggal di Solo

Simak juga 'Pertimbangan Anak-anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)