Perjalanan

Jejak Jalur Rempah di Paotere

Muhammad Musmulyadi - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 10:25 WIB
Berbagai aktivitas di Pelabuhan Paotere, Makassar, hampir serupa dengan Sunda Kelapa di Jakut. Dari bongkar muat hingga perbaikan kapal terlihat di kawasan ini.
Pelabuhan Paotere pada masa kini (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -
Sejak pagi buta, kapal-kapal bersandar satu per satu. Membawa muatan barang. Membawa ikan hasil tangkapan. Dari laut jauh di sana yang melimpah sumber kehidupan. Nelayan berhari-hari mencari ikan di laut, di sekitarnya masih terjaga terumbuh karang, artinya banyak didiami ikan-ikan. Misalnya, di Taka Bonerate atau Taka Bangkaulang. Ada yang memancing dengan panah buatan model senapan ada juga yang mencari ikan dan teripang dengan menyelam di sekitar pulau Doang-Doangan, Liukang Kalmas, di sana banyak ikan sebab karangnya masih bagus. Ada juga sudah memakai alat pancing modern agar hasil tangkapan melimpah.

Biasanya nelayan pulang dan pergi hanya sehari untuk jarak yang dekat. Ada yang selama satu minggu atau bahkan ada yang sampai sepuluh hari, tergantung cuaca. Lama nelayan di laut dihitung berdasarkan ketersediaan bekal makanan ataupun jika es yang dibawa sudah habis, maka nelayan segera kembali ke Makassar. Ikan-ikan yang dibawa pulang ke Paotere ada yang dijual di lelong (tempat pelelangan ikan) dan ada juga yang langsung dikirim masuk ke pabrik, sesuai kualitasnya. Untuk dikirim ke daerah lain, seperti Jakarta. Atau ke luar negeri.

Kata nelayan di sini, ikan tidak ada musimnya. Selama laut masih ada, ikan akan terus ada. Jika lelong tidak memiliki cukup stok ikan, bukan karena ikan semakin sedikit di laut, tapi ini hanya persoalan cuaca yang sedikit mengganggu hasil tangkapan nelayan.

Di jalur kehidupan lain, sebelum matahari melangit, selain kapal-kapal bersandar di bahu pelabuhan, daeng pagandeng juku --sebutan untuk penjual ikan keliling-- mengayuh sepeda tuanya menuju Paotere. Gelap ia tembus, angin subuh mengeringkan sisa wudunya. Sebab, semakin pagi harga ikan semakin murah karena diperoleh langsung dari nelayannya.

Satu pasang jerigen ukuran 15 liter yang telah ia papas atasnya digantung di boncengan belakang sepedanya yang telah menemaninya sejak dua puluh tahun, kurang lebih. Satu jerigen lagi untuk di simpan di bagian setir bersama dengan kantongan hitam untuk ikan. Daeng pagandeng menuju Paotere untuk mengisi jerigen-jerigen kosongnya. Ia membeli dengan jumlah banyak, sesuai kapasitas jerigen dan tentu saja sesuai modalnya untuk hari itu.

Ikan-ikan itu kemudian dijual Kembali kepada warga dengan harga satuan. Menjelang siang hari, ia masih mengayuh sepeda tuanya, panas dan terik hanya membakar kulitnya. Ia memasuki satu demi satu lorong atau gang kampung ataupun perumahan. Teriakan khasnya memanggil ibu-ibu sudah dikenali sejak puluhan tahun. "Juku cakalang, mairo, bolu sambalu...." Ia meneriakkan nama-nama ikan ke langganan.

Para pagandeng juku sejak pagi sudah berkeliling kampung menjemput uang pelanggan yang membutuhkan ikan pagi itu, ada yang masih bersepeda, ada juga yang mengendarai motor.

***

Jejak Paotere di ratusan tahun silam mewariskan kehidupan di daerah masyarakat pesisir kota Makassar bahkan di wilayah Makassar sendiri. Dulu Paotere adalah pelabuhan besar Kerajaan Gowa-Tallo kini menjadi pelabuhan rakyat dan nelayan. Fungsinya tetap sama menghubungkan daratan yang terputus, menghubungkan jarak yang membentang. Ada yang menggunakannya sebagai terminal keberangkatan dan kepulangan, bongkar muat barang-barang, ada juga menggunakan untuk kegiatan ekonomi.

Dalam Jurnal Zona Laut yang diterbitkan oleh Universitas Hasanuddin disebutkan bahwa Makassar tidak hanya menjadi pintu gerbang Indonesia Timur, tapi juga episentrum Indonesia Barat dan Timur, serta antara Australia dan Asia. Di masa itu, Paotere salah satunya menjadi pelabuhan penting di Hindia Belanda, melayani wilayah Indonesia Timur dengan nelayan-nelayan Makassar pergi sejauh pantai Australia ke selatan.

Paotere adalah pelabuhan warisan Kesultanan Gowa-Tallo, merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kesultanan Gowa-Tallo sejak abad ke XIV (Phady, dkk, 2020). Pelabuhan Paotere sekarang ini masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi, Lambo, jolloro atau perahu katinting.

Dari penjelasan Kementerian Perhubungan Ditjen Perhubungan Laut Otoritas Pelabuhan Makassar. Paotere menjadi ingatan bahwa Makassar dulu pernah menjadi pusat kerjaaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14, yang merupakan sentra perdagangan Nusantara. Bahkan menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara.

Pada masa kesultanan Gowa abad ke-17, Pelabuhan Potere menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Setelah dikuasai VOC pada 1667 melalui Perjanjian Bongaya, pedagang dan pelaut dari berbagai negara berdatangan ke kota ini. Pelabuhan Paotere menyimpan banyak sejarah. Betul, Paotere pernah menjadi pelabuhan tempat bersandarnya para penjajah.

Makassar merupakan salah satu kota besar di Kawasan Indonesia Timur. Letak geografisnya yang strategis menjadikannya titik sentral penghubung antara Indonesia Barat dan Timur. Dahulu kota ini merupakan salah satu jalur perdagangan internasional dan sampai hari ini masih bersinar.

Paotere sebagai jejak jalur rempah tidak bisa tergantikan. Paotere sebagai pelabuhan yang dari dulu hingga kini masih setia membukakan pelukannya untuk siapapun yang datang. Paotere menjadi album sejarah yang terjadi di masa lalu. Dan hingga hari ini jejak keberadaannya masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satunya kegiatan ekonomi masyarakat.

Hari ini, Paotere tidak hanya menjadi tempat penjualan ikan, bertemunya penjual dan pembeli, tapi juga menjadi lorong lalu lintas penghubung keluar masuknya serta bertemunya orang-orang dari berbagai kepentingan. Paotere juga menjadi tempat masuknya orang-orang dari luar Makassar, termasuk pulau, mereka tidak hanya datang dan menjual hasil laut. Mereka juga datang dan bermukim mendiami daerah sekitar Paotere'.

Kebanyakan orang yang tinggal dekat Paotere berasal dari Kepulauan Pangkep, ada dari Dewakang Lompo, Dewakang Caddi, Kalu Kalukuang, Doang-Doangan Caddi, Doang-Doangan Lompo, Marasende, Liukang Klamas, Liukang Tangngayya, Pulau Sapuka, dan Satanger. Mereka hidup dan melangsungkan kehidupan. Berkeluarga, sekolah, kuliah dan kerja. Ada juga yang datang melalui Paotere' mengantar orang sakit ke Makassar.

Paotere menjadi terminal bagi masyarakat di kepulauan sekitar Makassar, seperti Pangkep, Maros, Takalar, dan pulau-pulau yang ada di Selat Makassar. Makassar menjadi tempat terdekat untuk menyuplai barang. Kapal-kapal warga juga bersandar di pelabuhan ini, dari pulau seberang atau pulau-pulau yang masih bagian dari Kepulauan Pangkep nun jauh di sana yang ditempuh selama 6-12 jam. Mereka ke Makassar dengan beragam kepentingan. Ada yang membawa hasil laut ke Paotere, ada juga yang ke Makassar untuk membeli stok kebutuhan selama sebulan di pulau ada juga yang dibawa untuk dijual kembali.

Paotere tidak saja menjadi perjumpaan ikan-ikan segar yang segera untuk dimasak di dapur rumah atau dibakar di warung makan ikan sekitar Paotere. Tapi juga mempertemukan kehidupan satu dengan kehidupan yang lain. Menjadi titik kumpul berbagai latar kehidupan manusia; ada pagandengang juku, nelayan, buruh angkut barang, pedagang lintas pulau, anak sekolah, kuliah.

Mereka bertemu, bertransaksi, membagi cerita dan juga pundi-pundi rupiah. Budaya saling kawin. Bahasa menyatu, komunikasi tercipta. Ini menjadi bukti dari dulu kita sebagai bangsa terbuka kepada siapapun, kita adalah bangsa yang sangat menyambut dengan hangat siapapun yang datang. Kedua lengan kita tak pernah patah meskipun didatangi orang asing dari negeri seberang bahkan ketika kita tidak mengetahui maksud dan tujuannya menjajah, misalnya.

Selayaknya, cerita-cerita keramahan bangsa kita di masa lalu mesti tetap harus dijaga, kepada saudara sebangsa sendiri, tak peduli apa latar belakangnya, baik agamanya, sukunya, kita terbiasa hidup dengan keberagaman seperti itu. Paotere pada ratusan tahun silam telah memperlihatkan kebesarannya. Dahulu rempah begitu dicari dan sangat mahal, seperti emas. Namun ada sisa-sisa kejayaan yang lebih mahal dari rempah, lebih mahal dari emas, yaitu persatuan dan persaudaraan. Tabe'.


(mmu/mmu)