Kolom

Adaptasi (Lagi) dengan Pembelajaran Tatap Muka

Eri Hendro Kusuma - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 14:37 WIB
Suasana PTM di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Kota Batu (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Hampir satu setengah tahun aktivitas pagi saya setelah memandikan kedua anak adalah membuka laptop dan berkutat pada aplikasi pembelajaran daring mulai dari google classroom, google meet, google form, maupun aplikasi game learning seperti quizziz dan educandy. Tapi rutinitas pagi saya tersebut tampaknya akan segera berubah, setelah sekolah tempat saya mengajar sudah memperoleh izin untuk melaksanakan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara Terbatas.

Dari kebiasaan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ke PTM terbatas, tentu membutuhkan adaptasi lagi. Mulai dari adaptasi dengan waktu, program sekolah, protokol kesehatan, sampai dengan kewajiban orangtua melakukan antar-jemput anak saat PTM terbatas berlangsung.

Durasi waktu pelaksanaan PTM yang sangat singkat menyebabkan benturan antara jadwal pekerjaan orangtua dengan sekolah anak. Sebagai contoh jadwal PTM anak saya terdiri dari dua kloter. Kloter pertama dimulai pukul tujuh tiga puluh sampai dengan pukul sembilan, sedangkan kloter kedua dimulai dari pukul sembilan tiga puluh sampai dengan pukul sebelas. Anak saya kmendapatkan jadwal pada kloter kedua, sedangkan jadwal kerja saya dan istri dimulai dari pukul tujuh sampai dengan pukul dua siang.

Masalah durasi waktu PTM tersebut membuat kami sedikit kebingungan dalam membagi tugas siapa yang menjemput dan mengantar anak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya orangtua lain yang memiliki lebih dari satu orang anak sekolah.

Mengembalika Fokus Belajar

Durasi waktu yang singkat selama PTM terbatas juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk mengembalikan fokus belajar siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pelaksanaan PJJ selama lebih dari satu setengah tahun tentu membawa kebiasaan baru peserta didik dalam belajar. Sehingga penyusunan ulang perencanaan pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, sampai dengan pemilihan evaluasi pembelajaran mutlak harus dilakukan penyesuaian oleh sekolah dan guru.

Program pada awal-awal PTM ini memang fokus utamanya adalah membiasakan kembali sekolah --ini butuh proses yang tidak singkat. Apalagi sebelumnya peserta didik sudah terbiasa dengan model pembelajaran PJJ yang santai dan fleksibel. Tentu saat ini mereka harus mulai kembali beradaptasi dengan kebiasaan sekolah tatap muka seperti berseragam rapi, disiplin waktu, sarapan sebelum berangkat sekolah, serta mampu menyesuaikan kembali dengan suasana belajar di kelas.

Sangat terlihat sekali pada saat awal PTM terbatas berlangsung, peserta didik menunjukkan ketidakfokusan dalam belajar. Saat pembelajaran di dalam kelas banyak peserta didik yang mengantuk, sering melihat ke jam dinding, serta banyak yang melamun. Ketika saya mencoba untuk melontarkan sebuah pertanyaan pada peserta didik yang bersangkutan, jawaban yang disampaikan pun masih belum nyambung.

Pada saat kegiatan PTM terbatas di kelas memang lebih baik dimanfaatkan untuk membangun chemistry antara guru dengan peserta didik dibandingkan dengan mengejar ketuntasan materi. Pemberian materi saya kira bisa dilakukan secara daring dengan menggunakan aplikasi yang digunakan sebelumnya. Penggunaan metode pembelajaran blended learning (campuran antara tatap muka dengan daring) ini sangat mungkin dilakukan selama PTM terbatas.

Mengembalikan chemistry antara guru dengan peserta didik sangatlah penting. Ketika chemistry tersebut sudah kembali terbentuk, maka akan membuat kepekaan maupun fokus peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Jika peserta didik sudah fokus belajar, maka akan berdampak baik pada perolehan hasil akademik mulai dari sikap, pengetahuan, maupun ketrampilannya.

Adaptasi Protokol Kesehatan

Membiasakan peserta didik untuk tetap memakai masker saat di dalam kelas ternyata bukanlah perkara yang mudah. Pengap (menyesakkan) saat memakai masker menjadi "curhatan" para peserta didik saat PTM terbatas berlangsung. Belum lagi selain memakai masker, mereka juga harus memakai face shield. Tentu hal tersebut juga semakin menambah ketidaknyamanan mereka saat mengikuti PTM terbatas ini.

Hal yang sama sebenarnya juga saya rasakan ketika mengajar dengan memakai masker dan face shield. Suara saya juga harus tiga kali lebih keras dari biasanya agar dapat di dengar dengan jelas oleh peserta didik.

Selain pembiasaan memakai masker, "mengobrol" adalah salah satu momen yang sulit untuk dihindarkan dari para peserta didik. Momen-momen seperti pergantian jam pelajaran maupun saat datang dan pulang sekolah, secara spontan mereka masih saling mendekat dan mengobrol. Semua itu saya kira butuh sebuah proses pembiasaan untuk dapat beradaptasi dengan tata cara sekolah yang baru ini.

Semua warga sekolah mulai dari guru, karyawan, peserta didik, maupun wali murid harus bisa beradaptasi dengan protokol kesehatan. Peserta didik yang memakai masker hanya sampai di dagu atau masih dijumpai siswa yang mengobrol adalah tantangan tersendiri bagi sekolah dan guru dalam membiasakan standar protokol kesehatan pada peserta didik.

Sekolah bukanlah mall maupun tempat wisata, melainkan tempat mengubah pengetahuan dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, mengubah sikap dari yang sebelumnya kurang baik menjadi baik, dan dari yang sebelumnya kurang terbiasa menjadi biasa. Tidak bisa kemudian kesalahan sedikit langsung ditindak dengan kembali menutup sekolah, karena dianggap lalai dalam menjalankan protokol kesehatan.

Eri Hendro Kusuma guru di Kota Batu, Jawa Timur

(mmu/mmu)