Sentilan IAD

Belajar dari Cerita Para Ibu

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 19:26 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Hari-hari ini, saya sedang sangat sibuk menjadi pendamping dalam program penulisan sebuah buku. Buku itu berisi tulisan keroyokan teman-teman baru saya, para ibu yang menjadi pasangan dari suami-suami mereka yang kuliah di Amerika, Jepang, dan Skotlandia.

Sebagai sesama "alumnus luar negeri", persisnya alumnus-pendamping-pasangan yang sekolah di luar negeri, tentu saya bisa sedikit menebak-nebak apa saja yang kira-kira diceritakan oleh teman-teman baru saya itu. Tentang strategi bertahan hidup dalam kemiskinan di negeri orang, tentang pendidikan di sekolah anak-anak mereka yang punya kelebihan ini-itu dibanding sekolah-sekolah di kampung kita, dan sudah pasti tentang jalan-jalan.

Tetapi, di antara semua itu, saya merasa dalam banyak tulisan selalu muncul baik secara jelas maupun tersamar satu kebahagiaan ketika cerita masuk ke topik interaksi bersama kelompok liyan. Entah itu saat bergaul dengan orang-orang lokal di negeri tempat mereka tinggal, maupun ketika berkumpul bersama sesama pendatang.

Tak terkecuali ketika yang dibicarakan adalah interaksi antar-keyakinan. Maka, ada penulis beragama Kristen yang terkesan dengan temannya seorang Yahudi, ada ibu-ibu muslimah taat yang berkisah tentang kegiatan-kegiatan klub kemasyarakatan yang digelar di gereja-gereja dan mereka terlibat di dalamnya, termasuk satu cerita tentang penerimaan dengan tangan terbuka oleh lingkungan kepada anaknya yang tetap berjilbab saat masuk ke sekolahnya.

Bagi banyak orang, interaksi semacam itu mungkin tidak terlalu istimewa. Tetapi kita tentu paham bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Ini bukan tentang kesempatan untuk tinggal di negeri jauh ataupun sekadar jalan-jalan. Yang saya maksudkan adalah pengalaman keterpaparan dengan berbagai hal yang berbeda, khususnya terkait keanekaragaman iman.

Di kampung kita, pergaulan antarumat beragama secara umum sih normal-normal saja. Terutama di kota-kota, karakter lingkungan yang heterogen bukan lagi sesuatu yang spesial. Namun jujur saja, kadang terasa di banyak sudut keragaman itu semu belaka.

Makanya, sebagai contoh, ada banyak orangtua yang ngotot mengharuskan anaknya selalu sekolah di sekolah berbasis agama. Saya tidak hendak bilang bahwa menyekolahkan anak ke sekolah agama itu buruk. Toh saya sendiri punya rencana yang sama untuk anak sulung saya. Yang saya maksud lebih pada bagaimana orientasi memilih sekolah agama itu tak jarang bukan karena tujuan ilmunya, melainkan karena pembatasan interaksinya.

Hasilnya, dari PAUD sampai SMA, bahkan sampai kuliah, ada anak-anak yang melulu bergaul hanya dengan teman-temannya yang satu agama. Itu masih ditambahi lagi dengan bagaimana rumah-rumah indekos juga kerap memberikan batasan tegas dengan papan petunjuk "kos putra khusus agama anu", bahkan lebih jauh lagi ada banyak pula kompleks perumahan yang mengkhususkan diri pada agama tertentu.

Coba bayangkan, jika ada seorang anak yang tinggal di kompleks perumahan yang homogen, dengan sekolah yang juga homogen, kemudian ketika kuliah dan saatnya jauh dari rumah dia ngekos dan kosannya pun homogen, lantas dunia seperti apa yang akan terbangun di alam pikirannya?

Sekilas kekhawatiran saya itu tampak lebay dan kegenit-genitan. Tapi di zaman 4.0 ini, di masa ketika secara teoretis dunia semakin tanpa batas dan barikade-barikade sosial semakin lesap, kita justru terus disuguhi dengan aneka realitas dalam gelembung-gelembung penyaring alias filter bubble yang membuat manusia semakin nyaman dalam cangkang imajinasi masing-masing. Dan, kenyamanan dalam cangkang itu terjadi karena, sadar ataupun tidak sadar, manusia semakin membatasi diri dari keterpaparan sosial dengan para liyan.

Ujungnya, interaksi di ruang virtual yang semestinya menciptakan keterpaparan-keterpaparan tanpa batas itu justru jadi ruang-ruang konsolidasi baru bagi cangkang-cangkang yang enggan bersentuhan satu sama lain, atau kalau toh bersentuhan, yang terjadi adalah gesekan.

Anda bisa dengan mudah menemukannya dalam kolom-kolom komentar di bawah puluhan berita tentang Muhammad Kace maupun Yahya Waloni. Cobalah sesekali dengan tekun membaca satu per satu dari ratusan celetukan di situ, dan akan semakin terasa bahwa memang kita heterogen, tetapi heterogenitas kita berwujud aneka cangkang yang enggan bertemu.

Dalam situasi seperti ini, perjumpaan-perjumpaan sebagaimana yang terjadi dalam cerita yang ditulis oleh teman-teman baru saya itu menjadi kebutuhan yang niscaya, entah dengan cara apa kita menjalaninya.

Masalahnya, bahkan saya melihat anak saya sendiri pada satu setengah tahun ini tak lagi menjalani perjumpaan-perjumpaan dan keterpaparan semacam itu. Sehari-hari dia menghadap layar, berjumpa dengan layar, guru dan teman-temannya hadir dan tersenyum dan berbincang sebatas di layar. Lalu, keterpaparan seperti apa yang bisa diharapkan dari layar-layar?

Banyak orang mencemaskan nasib pendidikan karakter anak-anak selama masa sekolah daring di musim pagebluk tak berkesudahan ini. Tapi saya sedang risau akan sesuatu yang jauh lebih spesifik lagi, yaitu nasib keterpaparan dan referensi-referensi kehidupan atas para liyan dalam hari-hari anak saya.

Hanya dengan keterpaparan dapat dibangun sebenar-benar interaksi, dan hanya dengan interaksi dapat ditumbuhkan sebenar-benar empati. Lalu, mungkinkah penerimaan atas perbedaan dan pengakuan atas eksistensi liyan sungguh-sungguh terwujud jika di dalamnya hanya ada pengertian tapi tak ada empati?

Wabah ini konon memang semakin terkendali. Tapi tak ada jaminannya ia akan lekas berhenti. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi, membiarkan jutaan anak terus mengeram dalam kotak-kotak di layar yang mereka hadapi setiap hari, dan tidak kunjung memulai keterpaparan dan interaksi, hanya akan menjadi langkah efektif untuk menabung wabah nir-empati. Satu wabah yang tak kalah menyeramkan efeknya di kemudian hari.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)