Jeda

Cerita Sedih untuk Anak

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 11:15 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya membelalakkan mata ketika membaca sebuah story WhatsApp seseorang yang mengomentari buku terbaru KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Buku anak bergambar karya beliau ini sebenarnya adalah remake dari cerita yang pernah beliau tulis 42 tahun lalu. Dalam story WhatsApp seseorang yang saya baca, dia memuji cerita dalam buku berjudul Awas, Manusia! itu. Iseng saya membalas story itu "Loh, Mbak, ceritanya Gus Mus sad ending, lho?"

Dia pun menjawab, "Ya nggak papa dong." Saya membalas lagi, "Tapi dulu katanya cerita anak harus happy ending? Masak lupa dulu pernah mengkritik bukuku panjang lebar?" Pesan saya hanya bertanda centang biru sampai sekarang.

Saya sedang tidak iri dengan Gus Mus. Lha wong saya ngaku-ngaku orang NU yang ngalap berkah dari beliau dengan menjual bukunya kok. Lebih dari 50 eksemplar berhasil saya jual. Ya sekalian momennya pas buku saya, Payung Biru Jeta, baru keluar dari percetakan, jadi sekalian menjual buku saya sendiri. Yang saya komentari itu adalah, seseorang yang membuat story tadi kok aneh. Dulu dia paling menentang cerita anak yang tidak berakhir bahagia.

Sebelumnya saya juga sempat menerima kritik dari pembaca buku saya karena salah satu cerita dalam buku saya, Si Jlitheng, yang berjudul Kodhok lan Bekicot ceritanya sedih sekaligus ilustrasinya mengerikan (menurutnya). Teman sekaligus illustrator buku saya, Nai Rinaket, tidak luput dari kritikan itu. Dia menggambar elang yang sedang mencabik tubuh kodok yang katanya tidak bagus dilihat oleh anak-anak.

Tentu saja karena saya orangnya gampang over-thinking, hal tersebut membuat saya kepikiran berhari-hari. Apa saya memang terlalu kejam dalam menulis cerita anak? Apa teman saya terlalu sadis menggambar proses rantai makanan? Kami pun berdiskusi. Tentu saja kami bukan jenis orang yang marah-marah karena ada kritik, tapi ya begitu, jadi bertanya-tanya pada diri sendiri.

Menurut kami, gambar elang mencabik kodok itu masih biasa, menggambarkan rantai makanan biasa, menurut saya yang menulis cerita, tidak ada salahnya cerita anak dibuat tidak berakhir bahagia. Apakah memang kami salah dan harus konsultasi dulu kepada psikolog anak sebelum menulis dan menggambar cerita? Saya memang sengaja memasukkan satu cerita sedih di antara tiga cerita berakhir bahagia yang lain. Apakah benar anak-anak tidak boleh membaca cerita sedih?

Saya pun bertanya kepada teman-teman yang membeli dan membaca buku saya, apakah memang cerita saya berlebihan. Kebanyakan menjawab sepakat kalau ceritanya memang sedih dan beberapa anak paling tidak suka cerita itu. Tapi mereka juga berkata kalau tidak apa-apa, justru itu kesempatan mengenalkan pada anak-anak bahwa hidup tidak selamanya ideal dan bahagia (sebenarnya memang itu tujuan saya).

Sebelumnya teman saya, Setyaningsih dan Na'imatur Rofiqoh pernah juga menerbitkan buku anak bergambar berjudul Konferensi Musim Sejagat yang berisi 6 cerita anak. Kalau saya hanya menyisipkan satu cerita bernuansa sedih, teman saya ini malahan semua ceritanya suram kecuali satu cerita. Ya, memang buku itu berisi cerita tentang pencemaran lingkungan. Saya pernah mengulas buku itu dan sepakat, tidak apa-apa menulis cerita anak dengan cerita yang sedih.

Jelas saja saya berseberangan dengan guru menulis cerita anak yang punya paham harus selalu menulis cerita anak dengan ceria. Karena saya pikir, apa iya anak-anak tidak pernah bersedih? Apa salahnya menulis cerita yang realistis tentang kehidupan yang tidak selamanya menyenangkan? Kok kita kesannya meremehkan emosi anak-anak. Ada buku yang saya suka dari penulis Indonesia yang menggambarkan hal ini. Buku itu adalah serial Na Willa (Reda Gaudiamo), Aku Meps dan Beps, dan Kita, Kami, Kamu karya Reda Gaudiamo dan putrinya, Soca Sobhita.

Di buku Na Willa jilid pertama, kita bisa merasakan dunia anak yang kompleks. Bagaimana Willa, si tokoh cerita ini mengalami diskriminasi dari tetangganya yang juga anak-anak, difabel lagi. Saya bisa merasakan bertapa dilematisnya Na Willa ketika diejek "cina asu" oleh anak difabel. Mau dibalas kok dia difabel, tapi kalau tidak kok nganyelke. Ya, pada akhirnya memang dia menarik anak yang mengejeknya hingga jatuh. Tentu saja ini membuat geger antar orangtua.

Kita juga bisa merasakan kesedihan Na Willa ketika teman bermainnya, Dul, kakinya putus terlindas kereta. Kesedihan Mbak Tini, kakak Farida, tetangga depan teman bermain Willa, ketika dipaksa kawin dengan orang yang usianya berjarak jauh dengannya. Di buku jilid dua, Na Willa dan Rumah dalam Gang, kita bisa membaca kebiasaan merokok si Pak dan tantenya Willa yang digambarkan dengan normal (yang biasanya dihindari untuk digambarkan). Saya juga paling bisa merasakan kesedihan Na Willa karena terpaksa pindah mengikuti Pak-nya, meninggalkan teman-teman dan semua hal yang dia cintai.

Di dua buku Reda Gaudiamo yang ia tulis bersama Soca Sobhita, kita disuguhi cerita yang realistis tentang kehidupan seorang anak dan keluarganya. Ibu bisa jadi pencari nafkah dan bapak di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga; ibu juga bisa ngomel-ngomel dan tidak selalu bijaksana, bapak yang suka bangun siang, ibu yang selalu mengingatkan anaknya untuk gosok gigi sebelum tidur tapi dia sendiri sering lupa. Orangtua juga manusia, bukan malaikat yang tidak punya salah.

Masih ada buku-buku anak yang membekas di ingatan saya. Buku yang saya baca di lapak Toko Buku Kalangan, seperti 3 serial bukunya Avianti Armand. Di buku yang berjudul One Hair, One Angel, kita bisa membaca cerita seorang anak yang ibunya menghidap kanker. Anak diberi tahu kalau kanker memang menyakitkan, jadi penting sekali untuk mendampingi sang ibu menghadapi hari beratnya.

Di buku Daddy Has Secret, diceritakan seorang anak yang ayahnya menghidap skizofrenia. Buku Granny Loves to Dance bercerita tentang anak yang neneknya menghidap alzheimer. Ketiganya menceritakan bagaimana dukungan kita kepada para penyintas itu sangat berarti. Bukankah bagus mengajari anak-anak tentang empati sejak dini?

Anak-anak juga bisa merasakan kehilangan. Saya pernah melihat keponakan saya menangis sampai dadanya sesak ketika ayam kecilnya mati ditubruk kucing. Saya biarkan dia bersedih sampai puas karena perasaan bersedihnya memang valid, baru diajak ngobrol tentang kejadian yang baru saja dihadapinya. Dalam buku Kucingku Kuzy karya penulis Jordania, Anastasia Qarawani, kita disuguhkan cerita seorang anak yang kehilangan Kuzy, kucing kesayangannya dan bagaimana cara menghadapi kesedihan itu.

Yang lebih sedih lagi adalah cerita dalam buku berjudul Hidung-hidung Berwana Hitam (Black Noses) karya Rury Lee. Dikisahkan seekor beruang kutub bernama Coda yang kehilangan ibunya karena dibunuh pemburu. Cerita dan nama beruangnya mengingatkan saya pada film animasi Brother Bear. Saya sudah googling, tapi belum menemukan info apakah buku dan film itu berhubungan. Tapi soal sedihnya memang sedih. Bagaimana Coda, anak beruang yang berteman dengan Kenai, seekor beruang dewasa yang ternyata adalah manusia yang diubah menjadi beruang karena telah membunuh ibu Coda.

Membuat anak gemar membaca memang susah-susah gampang. Cerita yang menyenangkan dengan ilustrasi yang menarik memang bagus untuk menstimulasi anak dalam membaca. Tapi saya tidak sepakat kalau cerita anak harus selalu selalu berisi semua hal yang menyenangkan. Boleh-boleh saja membuat cerita sedih. Tinggal pintar-pintarnya penulis dalam menyampaikannya.

Bagaimana? Susah kan menulis cerita anak? Selain pertimbangan cerita yang jelimet, lamanya durasi menggambar, modal yang lebih banyak dalam mencetak, juga harus siap dikritik habis-habisan. Sekali lagi saya membaca atau mendengar mentor menulis mengatakan, "Mulailah menulis yang gampang-gampang dulu, seperti cerita anak," rasanya pengin tak-kremus-kremus.

Gondangrejo, 18 September 2021

Impian Nopitasari penulis cerita anak, tinggal di Solo

(mmu/mmu)