Kolom

Agar Porang Tak Jadi Bumerang

Toto TIS Suparto - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 12:00 WIB
Budi daya porang digenjot
Budidaya porang digenjot (Foto: Adhar Muttaqin/detikcom)
Jakarta -

Belum genap sebulan saya dan teman memulai budidaya porang (Amorphophallus muelleri), belakangan mulai mendengar kabar tidak sedap: harga jual porang anjlok! Misalnya, petani porang di Kabupaten Pangandaran, terutama di Kecamatan Langkaplancar mengeluh karena harga jual porang Rp 7.000 per kilogram. Padahal waktu menanam dulu masih Rp 14.000 (detikcom, 2/9)

Sebelumnya petani porang di Madiun juga "berteriak" harga jual melorot tajam. Pada Selasa (31/8) harga porang dalam bentuk umbi Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram. Padahal tahun lalu harga porang di Madiun --yang merupakan sentra porang-- mencapai Rp 13.000 per kilogram.

Tak kaget jika satu petani porang asal Desa Klangon, Kecamatan Saradan di Madiun berharap ada patokan harga porang, baik bibit hingga panen. Rugi besar, katanya, terutama bagi petani pemula. Sebab, harga bibit saat beli mahal, sedangkan pas panen anjlok.

Bagi saya, anjloknya harga jual tidaklah mengejutkan. Ketika seorang teman mengajak untuk budidaya porang (dengan sistem tumpang sari), saya sudah ingatkan harga akan anjlok. Tetapi kami jalan terus karena teman sudah siapkan dana untuk membuat pabrik olahan skala kecil. Artinya, kami akan menjual bentuk tepung. Bukan porang mentah kiloan umbi. Pasar domestik sudah banyak pembeli tepung.

Memang, umbi porang memiliki pasar ekspor, seperti Jepang, China, Taiwan, Vietnam, Australia, dan Korea Selatan. Namun di pasar ekspor, umbi porang yang diolah menjadi tepung memiliki nilai jual tinggi.

Karakter Peniru

Jujur saja ketertarikan untuk membudidayakan porang karena melihat dan meniru. Karakter peniru pada petani sangat kuat. Ketika ada petani yang berhasil membudidayakan komoditas tertentu, ramailah ikut ke sana.

Ingat kasus tanaman hias gelombang cinta yang jadi primadona, ramailah petani pengikutnya. Semula harga mahal, tapi karena banyak yang budidaya, harga hancur dan pelan-pelan gelombang cinta tak lagi dicintai. Ingat pula kasus aglaonema, yakni tanaman hias populer dari suku talas-talasan atau Araceae.

Genus Aglaonema memiliki sekitar 30 spesies. Wajar banyak pilihan di pasar, sampai-sampai ada "janda bolong" yang melambung. Sekarang, aglaonema mulai meredup. Harga jual tak semahal dulu karena banyak pembudidayanya. Semua ini meniru petani lain yang telah sukses.

Tetapi peniru acap kalah kreatif dengan pendahulu. Pendahulu mampu membudidayakan dengan berbagai rekayasa sehingga masih mampu menghasilkan bentuk yang eksotis. Harga jual pun masih tinggi. Peniru banyak yang gulung tikar.

Dalam hal porang, karakter peniru sangat kuat. Sejatinya tanaman ini sudah lama ada di Tanah Air. Biasanya tumbuh di pinggiran hutan. Tetapi sejak 2019 naik daun karena ada petani yang membudidayakan menjadi kaya karena porang. Kisah suksesnya diangkat media dan televisi. Lantas petani lain pun ikut-ikutan.

Terlebih ketika Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menjadikan porang sebagai komoditas ekspor andalan baru di Tanah Air. Instruksi tersebut disampaikan Kepala Negara saat mengunjungi pabrik pengolahan porang milik PT Asia Prima Konjac dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, Kamis (19/8)

Kata Presiden, dalam satu hektar lahan dapat menghasilkan 15 hingga 20 ton porang. Selain itu, pada musim tanam pertama para petani dapat menghasilkan hingga Rp 40 juta dalam kurun waktu 8 bulan. "Ini sebuah nilai yang sangat besar, pasarnya juga masih terbuka lebar," ungkap Presiden.

Tentu saja pernyataan ini menambah jumlah petani porang. Benar saja, esok harinya harga bibit porang, dalam bentuk umbi maupun katak, naik tinggi. Bahkan di beberapa tempat mulai langka. Bisa jadi, semakin banyak petani porang, akan menyebabkan harga jual kian anjlok karena kelebihan produksi.

Kluster Budidaya

Kalau tren budidaya porang dibiarkan tanpa regulasi, maka ke depan porang bisa jadi bumerang bagi petani. Semula digadang-gadang porang bisa menjadi komoditas andalan, malah bakal ditinggalkan. Kenapa? Buat apa membudidayakan jika harga jual rendah?

Memang angka kerugian tidak sebanyak hortikultura, karena budidaya porang relatif mudah. Bahkan dibiarkan di pinggiran hutan pun bisa tumbuh dan panen. Namun persoalannya adalah panenan tidak sesuai standar industri.

Lantas apa regulasi itu? Patokan harga? Tampaknya sulit karena ini bukan komoditas strategis seperti padi. Salah satu yang memungkinkan adalah membentuk kluster budidaya. Maksudnya, satu kluster budidaya dengan hamparan sekian ratus hektare terdapat industri olahan (sampai tepung). Ini mirip tanaman tebu, di mana hamparan kebun tebu ditunjang adanya pabrik gula. Artinya, pada kawasan yang tidak ada industri olahan tepung, disarankan tidak membudidayakan porang.

Jika di luar kluster masih bersikeras menanam porang, umbi mereka ditolak untuk masuk kluster budidaya. Biarkan mereka menjual umbi dengan harga yang tidak layak alias merugi. Namun terwujudnya kluster budidaya ini perlu campur tangan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian, maupun Kementerian Koperasi UKM. Sebab, regulator yang tahu persis peta budidaya dan potensi industrinya.

Rasanya regulasi kluster ini yang bisa membantu petani porang secara jangka panjang. Tetapi kalau mengikuti begitu saja hukum pasar, maka ke depan akan banyak petani porang gulung tikar. Tren porang malah jadi bumerang. Entahlah, apakah kami pun akan menjadi pembudidaya porang sesaat? Namun sepanjang industri olahannya terwujud, rasanya sih bisa bertahan.

Toto TIS Suparto sarjana Budidaya Pertanian, pembudidaya porang tingkat pemula

Simak video 'Mau Budidaya Porang? Simak Dulu Tipsnya':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)