Kolom

Menyeimbangkan PTM dan Pembelajaran "Online"

Najamuddin Muhammad - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 13:30 WIB
Siswa siswi menggunakan fasilitas WiFi gratis saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga RW 05 Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Jumat (27/8/2020). WiFi gratis ini disediakan oleh swadaya warga RW 05 guna membantu anak-anak yang melakukan pembelajaran jarak jauh yang terkendala dengan kuota internet.
Seorang siswa sedang belajar jarak jauh via online (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Sejumlah sekolah di berbagai daerah mulai menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Dilaksanakannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menua pro dan kontra di kalangan masyarakat; yang pro beralasan karena pembelajaran online yang sudah nyaris setahun setengah lebih berjalan meningkatkan learning loss serta memperparah learning gap.

Bagi yang kontra, PTM bisa menjadi kluster baru penyebaran Covid-19 yang mulai melandai, dan memilih untuk tetap mengedepankan keselamatan. Kasus Covid yang tinggi pada anak-anak --12,6% anak positif Covid 19 (Satgas Covid-19, 25/6/2021)-- masih menghantui orangtua. Ini menjadi wajar karena mengedepankan keselamatan jiwa di atas segalanya.

Kalau kita merujuk pada kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bersama dengan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Kesehatan, panduan PTMT memang sudah sangat ketat; mematuhi prokes, pendidik harus sudah divaksin, PTM hanya dilaksanakan 50% dan dikombinasikan dengan PJJ, kantin sekolah ditutup, serta kegiatan ekstra ditiadakan.

Tapi kita juga harus belajar dari kejadian sebelumnya, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan PTMT dengan buku panduan pembelajarannya pada awal Juni 2020, tapi pada akhir Juni pemerintah kembali mengoreksi kebijakan PTMT seiring dengan kian melonjaknya kasus Covid-19 sehingga nyaris semua sekolah kembali melaksanakan PJJ. Kejadian itu memang tak diharapkan terulang, tapi kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, yakni melaksanakan PTM dengan protokol yang ketat sambil juga meningkatkan kualitas pembelajaran online.

Pendidikan yang Hilang

Pendidikan adalah proses menuntun, mengetahui, dan melatih peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya dengan belajar dari proses kehidupan. Selama masa pandemi Covid-19, ada banyak yang hilang dari proses pendidikan. Berdasarkan banyak kajian, pembelajaran online belum maksimal sehingga learning loss dan learning gap serta hilangnya penguatan karakter peserta didik menjadi ancaman serius bagi masa depan.

Learning loss terjadi karena kualitas pembelajaran yang hanya memindahkan ruang kelas ke dalam kelas online telah membuat anak jenuh, motivasi belajar anak rendah, serta orangtua yang juga stres. Pendekatan, strategi, dan teknik mengajar online ternyata belum bisa membangkitkan gairah peserta didik. Ini tentu bisa dimaklumi karena Covid-19 datang sebagai bencana yang tak direncanakan, tapi ini bisa menjadi pelajaran bagi semua untuk berbenah ke depannya.

Sedangkan learning gap terjadi karena adanya disparitas infrastruktur. Indonesia memiliki 75 ribu desa dan 20 ribu di antaranya belum terhubung internet. Indonesia juga memiliki 214 ribu sekolah, ada 80 ribu sekolah yang belum terhubung ke internet. Ironisnya sekolah yang terhubung ke internet hanya digunakan jaringannya saat UNBK, alias saat ujung akhir sekolah saja. Dalam keseharian jaringan itu tak digunakan, bagaimana guru dan peserta didik menjadi terlatih dalam literasi digital.

Bagi daerah perkotaan yang tingkat literasi digital dan teknologinya sudah berkembang, proses pembelajaran online berjalan lebih optimal. Makanya ada sebuah penelitian, dilakukan Cambridge Internasional pada 2018, yang menunjukkan bahwa pelajar Indonesia adalah salah satu pengguna teknologi tertinggi tertinggi di dunia dalam penggunaan ruang komputer (40), disusul dengan Amerika Serikat.

Riset itu juga dikonfirmasi dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018 juga menunjukkan, penetrasi pengguna internet dalam bidang pendidikan juga tinggi. Ada sekitar tujuh dari sepuluh siswa dan 92 persen mahasiswa menggunakan internet (Pancawati, 2020).

Persoalan itu muncul ketika kita melihat data itu secara keseluruhan; akan muncul ketimpangan. Dari data pengguna internet itu, ternyata separuh lebih berada di Pulau Jawa, disusul wilayah Sumatera (21,6 persen), kemudian 10,9 persen di kawasan Sulawesi-Maluku-Papua (10,9%), lalu di Kalimantan sebanyak 6,6 persen, serta Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 5,2 persen (Asosiasi Penyelenggara jasa Internet Indonesia, 2019).

Ketimpangan pengguna internet antara Jawa dan luar Jawa memang masih menjadi kendala utama. Kalau kita lihat Kontribusi Pengguna Internet per Provinsi di Sumatera dari Seluruh Pengguna Internet paling tinggi adalah Sumatera Utara (6,3%), disusul Sumatera Barat (2,6%), Riau (2,1%), Jambi (1,4%) dan yang paling rendah adalah bangka Belitung (0,8%).

Untuk Kontribusi Pengguna Internet per Provinsi di Kalimantan dari Seluruh Pengguna Internet paling tinggi adalah Provinsi Kalimantan Barat (2,1%) dan paling rendah adalah Kalimantan Utara (0,3%). Sementara Kontribusi Pengguna Internet per Provinsi di Jawa dari Seluruh Pengguna Internet paling tinggi adalah Jawa Barat (16,7%) dan paling rendah adalah Jogjakarta (1,6%).

Dan, Kontribusi Pengguna Internet per Provinsi di Sulawesi-Maluku-Papua dari Seluruh Pengguna Internet paling tinggi adalah Sulawesi Selatan dan paling rendah adalah Sulawesi Barat dan Papua Barat, yakni 0,3% (Asosiasi Penyelenggara jasa Internet Indonesia, 2019).

Dari ketimpangan akses infrastruktur digital tersebut, dengan adanya kebijakan belajar dari rumah yang secara serentak dilakukan di seluruh Indonesia, maka akan ada banyak sekolah dan orangtua yang menjadi korban. Di sinilah learning gap akan menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan.

Dampak paling krusial dari pendidikan masa pandemi Covid-19, selain learning loss dan learning gap adalah hilangnya aspek fundamental dari pendidikan, yakni proses menuntun yang berkaitan dengan karakter individu dan sosial. Generasi pendidikan di saat Covid-19 adalah generasi yang kehilangan stimulasi bagaimana cara merasa, melihat, menghargai, menghormati dan bersosialisasi dengan teman-teman dalam berorganisasi dalam kehidupan mini di sekolah.

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Online

Dengan porsi PTM 50% dan PJJ 50% serta ketidakpastian tingkat penyebaran Covid-19 ke depan, tantangan utama adalah membuat kualitas pembelajaran online setara dengan pembelajaran tatap muka. Pembelajaran online harus sudah diproyeksikan menjadi bagian inheren dari perkembangan teknologi digital dalam dunia pendidikan, bukan hanya respons darurat saat pandemi.

Tapi untuk meningkatkan pembelajaran online memang tidak mudah, butuh penguatan di segala lini, mulai dari peningkatan kompetensi guru, pendekatan, strategi dan teknik pembelajaran, media yang digunakan serta penguatan orangtua dan pemerataan infastruktur pembelajaran.

Setelah nyaris satu setengah tahun lebih, persoalan ketimpangan infrastruktur pendidikan yang menghambat proses pembelajaran online harus segera dibenahi. Pemerintah, baik dari pusat atau pun daerah, harus memberikan perhatian lebih bagi daerah, sekolah, dan peserta didik yang mengalami keterbatasan sarana dan prasarana untuk melaksanakan pembelajaran.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah meningkatkan kompetensi guru dan orangtua. Berkaca dari pembelajaran online selama ini, banyak orangtua dan anak yang mengeluh dan stres karena mayoritas guru hanya memindahkan kelas dari sekolah ke dalam pembelajaran online, tanpa ada perubahan pendekatan, teknik, dan media yang inovatif, minim projek dan umpan balik, sehingga siswa hanya sibuk mengerjakan tugas.

Selain kompetensi guru, penguatan peran orangtua sebagai pendamping anak ketika belajar di rumah juga butuh dikuatkan. Ketika ada pembelajaran online, yang menjadi guru sebenarnya—yang menfasilitasi, memantau dan menjadi teman diskusi di rumah—adalah orangtua. Maka pembelajaran online kualitasnya bisa lebih baik apabila ada kolaborasi yang kuat dan saling mendukung antara sekolah, guru, serta orangtua peserta didik.

Najamuddin Muhammad peneliti Lembaga Kajian Pendidikan dan Kebudayaan (LKPK)

(mmu/mmu)